Irma

Cerita Sex Terbaru | Namaku Irma, tinggi 165 cm dan berat 57 kg. teman-temanku bilang, tubuhku sangat seksi dengan postur yang ideal dan wajah yang sangat cantik. Kulitku kuning bersih dan halus karena aku memang rajin merawatnya. Sejak menginjak dewasa, aku menjadi pusat perhatian banyak lelaki. Banyak diantara mereka yang berusaha mendekati ingin menjadi pacarku. Sebagai wanita tentunya aku sangat senang sekali dengan hal tersebut.

Saat ini umurku 25 tahun. aku sudah menikah selama 1 tahun dan belum memiliki anak. Suamiku berumur 30 tahun bekerja di sebuah perusahaan asing di kota S….. Kami baru saja membeli sebuah rumah di kawasan perumahan baru yang masih dalam taraf pembangunan sehingga belum ada satu rumahpun yang ditempati. Bangga rasanya karena kami mampu membeli rumah dari hasil keringat sendiri meskipun tidak terlalu besar. Kami juga memiliki sebuah mobil kijang keluaran tahun 2000 yang menjadi alat transportasi suami sehari-hari. Mobil itu juga merupakan hasil keringat suamiku sendiri. Walaupun mobil tersebut mobil bekas dan kami membelinya dengan cara mengangsur tetapi kami senang memilikinya.

Cerita Sex Terbaru Irma

Suamiku sering sekali memuji kecantikan dan keseksianku sehingga membuatku sangat bangga dan sangat percaya diri. Kemanapun suamiku pergi selain urusan kantor, dia selalu mengajakku. Dia senang memamerkan aku kepada teman2nya. Tidak jarang dia memintaku untuk tampil seksi untuk menggoda kaum lelaki. Awalnya aku merasa risih jika ada lelaki yang melihatku dengan nafsu. Aku merasa seolah-olah seperti ditelanjangi di tempat umum, lama-lama aku menjadi suka sekali. Ada sensasi tersendiri yang aku rasakan. Saat aku tampil seksi dan diperhatikan banyak cowok, hatiku berdebar-debar, adrenalinku meningkat, aku merasa sangat malu, erotis dan sekaligus terangsang.

Tidak lama setelah membeli rumah, kamipun menempati rumah tersebut. Lingkungannya masih sangat sepi, hanya tukang-tukang dan kuli-kuli bangunan yang terlihat sedang bekerja membangun rumah. Di samping sebelah kiri rumah kami masih berupa petak tanah kosong. Di sebelah kanan sedang dibangun sebuah rumah. Terlihat ada 5 kuli bangunan yang sedang membuat pondasi rumah tersebut. Tubuh mereka terlihat hitam dan keras layaknya pekerja kasar.

Kunjungi Juga CeritaSexDewasa.Org

Pada suatu hari sekitar jam 3 sore, kami sedang duduk santai di ruang tamu sambil menikmati teh hangat.

“Ma, kita tidak punya tetangga sama sekali nih..” kata suamiku.
“iya pa”jawabku.
“kalau papa kerja, mama pasti merasa kesepian.” kata suamiku lagi
“kan ada tv paa…, kalau merasa sepi, tinggal nyalakan tv aja. Beres kan…” aku mencoba menenangkan kekhawatiran suamiku.
“tapi tetep aja mama akan bosan klu terus-terusan begitu. Eh, gimana ma..kalau pas papa kerja, mama ke rumah ibu aja” kata suamiku penuh perhatian
“Gak usah papa sayang…, mama gpp kok. Justru mama senang di rumah sendiri. Bisa ngapain aja sesuka hati. Mau tidur, mau pergi, mau apa aja bisa bebas pa..”
“Bener nih? Ya udah kalau gitu tapi kalau mama merasa bosan, telp papa aja. Papa pasti pulang utk mama”
“ makasih sayang…, perhatian banget ama mama”
“iya dong, punya istri cantik kayak mama harus disayang-sayang” kata suamiku mulai memuji
“Hmm…, mulai ngegombalnya….” jawabku sambil mencubit pinggangnya
“ Hahahaha….” Suamiku tertawa senang. Tangannya merangkul pundakku dan menyandarkannya di tubuhnya.Cerita Sex Terbaru

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Tiba-tiba suamiku punya ide gila ketika melihat kuli-kuli bangunan itu sedang bercengkrama dan membereskan peralatan kerjanya. Mereka bersiap-siap untuk pulang ke gubuk yang mereka buat di lingkungan perumahan tersebut sebagai tempat tinggal sementara.

“Ma, godain kuli-kuli itu yuk..” suamiku mulai mengutarakan idenya
“Godain gimana pa?” kataku
“mama bersihkan halaman kita itu dengan memakai pakaian seksi. Jangan pake BH dan celana dalam. Pasti mereka melotot semua liat mama” kata suamiku
“Haaa….., gila apa…? Gak mau..malu tau….” Aku berteriak setengah berbisik. Kaget rasanya mendengar ide itu.

Selama ini kalaupun harus berpakaian seksi, tidak pernah sampai tidak memakai pakaian dalam. Itupun sebenarnya sudah malu sekali, apalagi ini, tidak memakai pakaian dalam.

“Ayolah ma…, aq pengen tau reaksi mereka gimana?”rayu suamiku
“gak mau, titik!”jawabku tegas
“ayolah ma, please…., papa mohon…., ya ma….”kata suamiku memelas

Aku mulai membayangkan kalau hal itu aku lakukan. Jantungku berdetak kencang, rasa penasaran dan keinginan untuk di kagumi mulai muncul di pikiranku. Aku ragu-ragu antara menolak dan mengiyakan permintaan suamiku. Melihat suamiku yang begitu berharap dan bayanganku akan sensasinya, ingin rasanya aq mengiyakan permintaan itu.

Iklan Sponsor :

“kalau ada apa-apa gimana?” kataku kemudian
“maksudnya?” Tanya suamiku bersemangat
“kalau mereka terangsang dan nekat memperkosa mama gmana?” tanyaku lagi
“Gak akan.., kan ada papa. dari logatnya, mereka itu pasti dari desa, pasti gak akan berani macam-macam kecuali kalau kita mempersilahkan. Hehehehe….” Kata suamiku sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Mempersilahkan apa?” Tanya ku penasaran
“mempersilahkan ngerjain mama…., hehehe” jawab suamiku enteng
“ Ah papa..jahat banget….” Kataku manja sambil memukul pelan bahu suamiku. aku semakin berdebar-debar mendengar perkataan suamiku.

Pikiranku berputar-putar, hatiku berkata, kalau aku dikerjain bareng-bareng gmana rasanya? Tubuhku serasa lemas sekali.

“emang papa rela?” suaraku bergetar
“gak tau ma, papa sering sih berfantasi utk ngerjain mama bareng-bareng sama orang-orang pekerja kasar kayak mereka. Pasti orang-orang seperti itu kuat banget. Papa yakin mama akan menjerit-jerit menahan nikmat dan mama juga pasti akan mengalami orgasme terus-terusan. tapi kayaknya enggak deh. Entar mama malah ketagihan jadi repot papa.”
“iihh…, sory ya.. emang mama cewek apaan?”sekali lagi aku mencubit pinggang suamiku.

Tetapi mendengar perkataan suamiku barusan, aq menjadi terangsang banget. Memekku sudah basah sekali.

“Mama adalah cewek yang sa..ngat cantik, yang banyak di kagumi oleh kaum pria. Papa mrasa sangat beruntung karena bisa memiliki mama. Papa yakin, banyak pria yang merasa iri ama papa” kata suamiku bangga.
“ayo ma, mumpung mereka belum pulang” pinta suamiku
“Aduh pa..masa Mama disuruh pamer tubuh sama mereka. Malu pa…” jawabku
“ngapain malu, harusnya tambah bangga donk. Pasti istri2 mereka tak ada yang secantik mama. Mereka bakal terkagum-kagum melihat istriku yang cantik dan seksi ini… mau ya ma…please….” kata suamiku sambil mencubit daguku.
“Aduh, jadi deg-degan nih… emang mama harus pake baju apa pa..? tanyaku.

Tanpa aq sadari, akhirnya aq menyetujui permintaan suamiku. Aq heran dengan perkataanku sendiri

“Yess….! Sebentar ya sayang…”suamiku masuk ke kamar dengan semangat, memilih pakaian seksi buat aku pakai.

Tak lama kemudian,

“Ini ma…”kata suamiku.
“Jangan yang itu pa.., itu pakaian tidur dan terlalu terbuka.. mereka pasti tau kalau kita sengaja menggoda mereka. Gak mau pa..” kataku.

Suamiku memilih pakaian tidur dari sutra warna putih. Pakaian itu model tanktop terusan. Panjang pakaian itu hanya sampai pangkal paha dengan potongan dada yang sangat rendah. Pundaknyapun hanya berupa seutas tali tipis yang melintang dari depan payudara ke punggung. Begitu aq menolak, suamiku kembali ke kamar untuk memilih pakaian lagi.

Tak lama kemudian dia keluar kamar lagi sambil membawa pakaian berupa daster terusan. Daster itupun juga sangat seksi sekali. Kainnya seperti kaos bali yang tipis dan ringan warna merah polos. Panjang daster itu kira-kira hanya 20cm di bawah pangkal paha. Bagian bawahnya melebar sehingga jika ada sedikit aja angin nakal yg berhembus, pasti bagian bawahnya akan terangkat. Potongan dadanya juga sangat rendah model you can see berenda. Lubang lengan cukup lebar sehingga kalau aq membungkuk, dari depan dan samping pasti kelihatan payudara sekaligus putingku seutuhnya. Dari belakang, memekku juga akan kelihatan mengintip. Namun jika mereka melihatku sambil duduk, memekku pasti akan kelihatan dengan jelas.

“Pake yang ini ma…” pinta suamiku
“Aduh pa, apa gak ada yang lebih rapat lagi? Aq malu pa…” kataku
“gak papa, pake ini aja. Ayo ganti pakaiannya…”perintah suamiku.
“tapi pa..” aq mencoba untuk menolak.
“udah..sana, ganti bajunya”kata suamiku

Akupun masuk ke kamar untuk mengganti pakaianku. Setelah pakaian yang dipilih suamiku td aq pakai, aq berdiri di depan cermin memperhatikan diriku sendiri. Benar kata suamiku, aq memang terlihat lebih cantik, seksi, dan menggoda sekali. Sungguh aq sangat bangga akan hal itu. Putingku tercetak jelas, paha, lengan dan dadaku terlihat mulus sekali. Kontras dengan warna pakaianku yang merah maroon.

Setelah itu aq keluar kamar. Suamiku begitu terpana melihatku berpakaian seperti itu. Diapun berkata

“Wow, mama kelihatan menggoda sekali…begitu cantik dan seksi”

Aq jadi tersipu mendengar pujian suamiku, “tapi Pa, rasanya seperti telanjang bulat nih.. jangan pake yang ini ya..?”

“ah… gpp ma, pake ini aja. Rasakan sensasinya”kata suamiku
“tapi pa…”
“Udah gpp.”kata suamiku lg

Tak sengaja aq melihat tonjolan di celana kolor suamiku

“Iiiihh, penis papa kok jadi tegang..”kataku setengah berteriak sambil mengenggam gemas penis suamiku.
“Iya ma, aq sudah terangsang banget. Aq yang biasa lihat tubuh mama aja masih tergoda, apalagi mereka… Hehehehe…”
“Hihihi… awas ya kalau cemburu..” kataku dengan bergaya genit kepada suamiku.

Diambang pintu, hatiku semakin berdebar-debar. Aq benar-benar merasa seperti telanjang bulat.
Aq ragu-ragu untuk melangkah keluar rumah. Namun akhirnya aq bulatkan tekat untuk sedikit bersenang-senang.

Begitu aq keluar pintu, para tukang dan kuli bangunan tersebut langsung terdiam dari obrolan mereka. Mereka semua melongo melihat diriku. Aq tersenyum dan menyapa mereka, “Sore Bapak-bapak.., sudah mau pulang nih..”

“Ii..ii.. iya mbak. Sudah waktunya berhenti..” Jawab salah seorang dari mereka yang berwajah brewok. Badannya tinggi dan kekar, kulitnya hitam terbakar matahari. Namanya adalah pak Karjono

Pandangan mereka benar-benar terpaku pada seluruh tubuhku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terutama pada bagian putting payudaraku yang tercetak. Aq menjadi salah tingkah dan gugup tetapi juga senang.

“Ooo.. tinggalnya dimana pak?” tanyaku pura-pura tidak tahu
“itu lo mbak, di blok sebelah sana” jawab yang lain sambil menunjuk arah gubuk mereka.
“Kami bikin gubuk-gubuk kecil utk tinggal sementara mbak, supaya gak terlalu jauh dari proyek” sambungnya lagi.

Orang ini bernama Jupri. Badannya lebih pendek, kira-kira sama dengan tinggiku. Kepalanya gundul, tangannya berotot.

Ketiga temannya yang lain hanya diam saja, mereka benar-benar terpaku pada tubuhku dengan pakaian yang setengah terbuka ini.

“Iya pak, mending begitu. Hemat tenaga, waktu dan biaya ya pak…”kataku.

Usia pak Karjono ini kira-kira 48 tahun. Dia paling tua diantara 4 temannya yang lain. Tingginya sekitar 180 cm, dada dan lengannya terlihat kokoh. Kayaknya dia terbiasa mengangkat beban yang berat. Begitu juga dngan Jupri. Otot-otot di tangannya kelihatan menonjol. Usianya aq taksir sekitar 27 tahun. 3 temannya yang lain bernama Santo, Kasiman, dan Nyoto. Usia ketiga orang ini tdk berbeda jauh dengan Jupri. Tingginya sedikit melebihi Jupri. Santo dan Nyoto berpostur lebih kurus daripada Pak Karjono, Jupri dan Kasiman.

“O iya pak, saya permisi dulu ya. Mau menyapu halaman nih, kotor banget..”kataku lagi
“iya mbak, silahkan” jawab pak Karjono

Iklan Sponsor :

Akupun mulai menyapu halamanku. Ternyata mereka ber5 tidak segera pulang. Mereka masih di tempat dan terus memperhatikan gerak-gerikku. Aku mengetahuinya tapi pura-pura tidak tahu. Jantungku berdebar-debar, gugup dan salah tingkah namun aku berusaha keras untuk terlihat santai. Sungguh usaha yang sangat sulit. Saat itu Posisiku menyamping dari mereka. Aku yakin mereka sedang melihat payudaraku secara utuh dari sela-sela ketiakku karena memang pada bagian itu, lengannya cukup lebar. Aku merasa seksi sekali, memekku mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Aku malu dan terangsang banget.

Pada saat posisiku membelakanginya, aq sedikit menggoyangkan pantatku. Rokku melambai-lambai. Aq yakin mereka bisa melihat memekku sedikit karena lambaian rokku itu membuat memekku terbuka dan tertutup secara berirama.

Namun tiba-tiba, angin berhembus cukup kencang dari arah belakang.

“Aaiihhhh…..”teriakku krn angin tersebut mengangkat daster yang aq kenakan hingga ke pinggangku.

Praktis bagian bawah tubuhku benar-benar terbuka dan menjadi tontonan gratis bagi kuli-kuli tersebut. Cepat-cepat aq berusaha menurunkan dasterku. Kulihat para tukang dan kuli bangunan itu sampai melongo melihatnya.

“Eh, maaf Bapak-bapak, anginnya nakal banget. Maaf ya…” cepat-cepat aq berlari masuk ke rumah sambil menahan malu yang luar biasa.

Didalam kulihat suamiku tersenyum-senyum melihat kejadian itu. Akupun langsung menuju kamarku dengan nafas yang ngos-ngosan. Tidak tau seperti apa wajahku. Aku yakin pasti sangat merah seperti kepiting rebus.

Suamiku mengikutiku ke dalam kamar. Aku yakin dia sangat terangsang dengan kejadian tadi karena begitu masuk kamar, aku langsung di peluk, dicium dengan begitu nafsunya. Tangannya meremas-remas payudaraku. Aku yang juga dalam keadaan terangsang berat, sangat menikmati serangan bertubi-tubi dari suamiku itu.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi suamiku untuk menelanjangiku. Dengan sekali gerakan, dasterku sudah dia tanggalkan melewati kepalaku. Kami berciuman dengan ganas sekali. Lidah kami saling membelit, saling mengulum. Setelah itu mulutnya segera menuju ke leherku. Dijilatinya leherku hingga tidak ada yang terlewatkan sama sekali sambil tangannya tetap bermain di payudaraku. Putingku sebelah kiri di pilin-pilin dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengelus-elus pantatku. Sambil mendongakkan kepalaku ke atas, aku mendesah-desah menahan nikmat. “ah..ah…terus pah…ah…”desahku. Bulu kudukku merinding, pori-poriku serasa terbuka akibat jilatan lidah suamiku pada leher dan telingaku.

Jilatan suamiku beralih dari leher ke belahan payudaraku. Dengan perlahan-lahan aku direbahkan ke tempat tidur, posisi kakiku masih menjuntai ke lantai akibatnya vaginaku menjadi terbuka.setelah itu jilatan suamiku perlahan-lahan turun menuju putingku. “Ooohhhh……” rasanya geli sekali tapi juga nikmat. Dia tidak segera mengulum putingku. Lidahnya berputar-putar di sekitar areolaku. Aku menjadi blingsatan karenanya. Aku berharap suamiku mengulum putingku. Desahanku menjadi lebih keras, dan gerakanku agak liar. “ ah….enak pah..terusin pah…” untuk urusan bercinta, suamiku memang ahli sekali. Dia pintar mempermainkan nafsuku. Cara suamiku mengolah tubuhku membuatku ketagihan.

Saat rasa penasaranku akan jilatan suamiku semakin tinggi, dengan tiba-tiba dia sedikit menggigit putingku sebelah kanan bersamaan tangannya yang membelai-belai vaginaku. Spontan aku melonjak kaget disertai jeritan kecil dari mulutku. Nikmat yang aq rasakan tiada henti-hentinya. Elusan Jari-jari suamiku mengenai klitorisku yang sudah mengembang. Digesek-gesekkannya jarinya ke klitoris dengan berirama. Tanpa sadar, aku mengangkat kedua kakiku hingga mengangkang lebar sehingga vaginaku menjadi lebih terbuka.

Sampai akhirnya,

“ah… ah…pah…a…ku or..gas…meee….ach………….” aku mengalami orgasme yang hebat tanpa penetrasi.

Tubuhku menegang, dadaku melengkung keatas, kepalaku mendongak ke belakang, kedua kakiku mengejang-ngejang. Aq menjerit keras menahan kenikmatan orgasme ini. Suamiku terus menggesek-gesekkan jarinya ke klitoris sehingga orgasme yang aku rasakan seakan tidak mereda. Setelah hampir 30 detik, orgasmeku mulai mereda.

“hhoo…hhoo….hhoo…nikmat sekali pa….” Setelah gelombang orgasme yang melandaku agak mereda, suamiku bersiap-siap melakukan penetrasi.

Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, aku menantikan penetrasi dari suamiku. Penisnya yang sudah menegang keras di tempelkannya ke mulut vaginaku. Aku menantikannya dengan berdebar-debar. Setelah pas, perlahan-lahan di dorongnya penis itu sehingga masuk sedikit demi sedikit. Gesekan penis pada saat memasuki vaginaku begitu terasa. Agak ngilu karena barusan aku mengalami orgasme namun sangat nikmat sekali. Biasanya setelah orgasme pertama, aku cepat mengalami orgasme kedua, ketiga, dan seterusnya.

Mataku terpejam dan mulutku menganga menikmati gesekan penetrasi ini hingga penis suamiku terbenam seluruhnya. Setelah itu suamiku menggenjot penisnya perlahan-lahan keluar masuk vaginaku secara berirama. Lama-lama gerakan suamiku semakin cepat.

“ uh..uh… nikmat sekali ma..” kata suamiku
“ii..ya…pah..terus pah…” desahku

Tanganku diangkat ke atas kepala kemudian suamiku menyusupkan wajahnya ke ketiakku. Dijilatinya ketiakku hingga basah kuyup oleh liurnya.

“Aaaa….geli pah….ah…ah…nikmat pah…te…rus…”desahku sambil menggelinjang-gelinjang menahan geli dan nikmat pada ketiak dan vaginaku.

Tidak lama kemudian kurang lebih 5 menit dari orgasme pertama aku sudah mendekati orgasme kedua. Ketiga titik sensitifku diserang secara bersamaan.

“pah…a..ku…mau…ahhh..nyampe..lagi…ahh..”desah ku
“keluarkan …aja mah…, gak usah …sungkan…”jawab suamiku sambil terus menggenjot tubuhku
“iya pah…”
“Ach…ach…pah…aku nyampe pah…ahh…pah….pah…aaccchhhh…………..”aku berteriak kencang sekali, aku mengalami orgasme keduaku dengan dahsyat.

Ku peluk erat tubuh suamiku sambil berteriak

“aaccchhhh………….…!” tubuhku bergetar hebat.

Suamiku mendiamkan diriku sejenak, membiarkan aku menikmati orgasme keduaku yang hebat dan berkepanjangan itu. Hingga akhirnya orgasmekupun mulai mereda, badanku terasa lemas sekali.

“mah, aku belum nyampe lo..”kata suamiku menyadarkanku.
“Eh, iya pah. Nikmat bgt pah, sampai lemas badanku”jawabku
“aku genjot lagi ya..rasakan kenikmatannya. Hehehe…”kata suamiku lagi.

Belum sempat aku menjawab, tanpa menunggu jawabanku, suamiku langsung memompa penisnya dengan kecepatan tinggi. Aku yang barusan mengalami orgasme yang sangat dahsyat itu langsung kalang kabut. Mulutku megap-megap. Vaginaku terasa ngilu sekali namun itu tidak lama. Dalam waktu sekejap, rasa ngilu itu bercampur dengan nikmat dan lama-lama rasa ngilunya hilang sama sekali dan berganti dengan kenikmatan yang tiada tara.

Tidak lama kemudian,

“aahhh…..aaahhhhh……aaahhhh…….terus….paaa……” desahku menahan nikmat.
“sedikit lagi paaa… ahhh….achh……aa..kkkuuu…kell..luarr….lagi…”tubuhku menegang kuat sekali.

Kemudian mengejang-kejang. Seluruh tubuhku merasakan nikmat yang tiada tara yang berasal dari vaginaku. aku mengalami orgasme ketigaku disusul oleh suamiku yang menembakkan pejunya kedalam rahimku.

“Aaacchh….” Teriak suamiku sambil mendekap erat tubuhku. Akupun juga memeluk suamiku dengan erat. Kami mengalami orgasme secara bersamaan.

Setelah orgasme kami sama-sama mereda, aku merasa lemas sekali, tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tanganpun aku gak kuat. Suamiku menggulingkan tubuhnya di sampingku. Kami sama-sama berbaring dengan nafas yang ngos-ngosan seperti orang habis berlari kencang.

Setelah nafas kami mulai stabil, dan tenaga kami mulai pulih, suamiku berkata”Ma..”

“Hhmm…” sahutku malas
“Rasanya td luar biasa ya…”kata suamiku lagi
“iya pah..”kataku
“Mama tadi di luar hot banget lo. Mereka sampe melongo seperti itu. Hehehe…”kata suamiku lagi.
“Hot apanya..? malu banget tau……”kataku
“tapi mama suka kan….”goda suamiku
“apaan sih..”jawabku manja sambil mencubit perut suamiku
“Aww.. sakit mah..”jerit suamiku
“papa sih..masak aku di permalukan di depan orang asing seperti itu..”
“bilang aja mama suka. Hehehe…”kata suamiku
“enggak, siapa bilang..”jawabku
“Papa yang bilang, emang siapa lagi?” katanya
“huuu…, sok tahu..” jawabku lagi
“Buktinya, td setelah mama masuk rumah, trus papa pegang vagina mama sudah basah banget kayak banjir bandang. Hehehe” kata suamiku lagi
“iihhh… papa…”jawabku malu-malu sambil menjewer telinganya
“ayo, ngaku aja.. kalau memeknya basah artinya mama terangsang. Wanita pasti suka terangsang termasuk mama. Ayo ngaku aja kalau mama suka tubuh telanjang mama dilihat cowok-cowok itu. Hehehe..” teori suamiku sambil menggelitiki tubuhku.
“hihihihi…ampun pa.. jangan gelitiki mama… geli pa…iya iya, mama ngaku”kataku kemudian. Memang yang dikatakan suamiku itu benar. Justru rasanya semakin malu, malah makin terangsang.
“ngaku apa mah… yang jelas dong…” desak suamiku sambil menggoda
“iya, mama suka…. Puas-puas…?”akhirnya aku mengakuinya dengan tersipu-sipu.
“Kalau begitu, mulai sekarang sampai besok pagi, mama gak boleh memakai baju atau selembar kainpun untuk menutupi tubuh mama. Mama harus telanjang bulat terus di dalam rumah. Biarkan papa memandangi tubuh mama yang seksi dan mulus itu setiap saat” kata suamiku.
“ Oke, siapa takut..”tantangku
“Siip…”suamiku girang sekali.

Mendengar puji-pujian dari suamiku itu, aku merasa tersanjung dan senang mendengarnya. Maklum sifat wanita memang senang dipuji.

“Eh ma, besokkan hari minggu, tukang-tukang itu pasti libur. Berarti sampai besokpun mama harus telanjang terus lo. Kecuali kalau papa suruh pake baju” suamiku meningkatkan tantangannya lagi.
“Ooke…” aku menyetujui usulan suamiku.

Aku berpikir tidak ada salahnya aq terus telanjang di dalam rumah. Toh yang melihat hanya suamiku. Apalagi aku juga merasa seksi dan erotis jika suamiku terus memandang tubuh bugilku.

Setelah itu kami sama-sama membersihkan tubuh kami dari sisa-sisa keringat dan lendir yang menempel akibat percintaan kami yang hebat barusan. Aku pergi ke belakang untuk mempersiapkan masakan untuk makan malam kami dalam keadaan telanjang bulat. Rumah kami belum ada dapurnya karena masih rumah original dari developer sehingga aku harus memasak masakan di belakang rumah yang masih terbuka. Tidak ada tembok sama sekali yang memisahkan tanah kami dengan tanah orang lain. Tapi aku tidak khawatir dilihat orang meski memasak sambil telanjang karena hari sudah malam dan tidak ada orang sama sekali.

Setelah masakan selesai, kami makan bersama dengan lahap. Perut kami lapar sekali setelah percintaan yang menguras banyak energy. Kami makan sambil bercanda. Suamiku memakai t-shirt dan celana kolor sedangkan aku tetap telanjang. Sambil makan, tangan suamiku dengan nakal menggerayangi tubuhku. Kadang punggungku di elus-elus, kadang dicubit putingku, kadang digelitiki membuat aku sedikit menjerit-jerit kecil karena kaget dan geli. Kami bahagia sekali. Malam itu kami kembali bercinta dengan hot hingga kami sama-sama kelelahan dan tertidur sampai pagi.

Esok harinya aku bangun lebih dulu dari suamiku. Matahari sudah mulai terbit, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Saat hendak mengenakan baju untuk keluar rumah, aku ingat pada janjiku untuk tetap telanjang hingga besok. Akhirnya aku tidak jadi berpakaian. Aku berjalan menuju kamar mandi yang pintunya terletak di luar rumah untuk mandi. Di depan pintu kamar mandi, dengan malas aku menggeliatkan tubuhku, udaranya segar sekali. Aq sadar bahwa saat ini aku di luar rumah dalam keadaan telanjang. Jika ada orang dari kampung sebelah yang sedang ke sawah, pasti mereka akan melihat tubuh telanjangku ini namun biarlah anggap aja sebagai rejeki mereka. Aku tersenyum sendiri teringat pada kejadian kemarin sore yang begitu mendebarkan.

Setelah mandi dan mengeringkan tubuh, aku melumuri seluruh tubuhku dengan hand and body lotion hingga merata. Kemudian aku memasak makanan untuk sarapan kami. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, rumahku masih belum ada dapur jadi aku memasak di belakang rumah di ruang terbuka.

Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang mengetok pintu depan. Pada saat itu gorden jendela depan dalam keadaan terbuka. Aku bingung karena tidak bisa berbuat apa-apa. Mau masuk rumah takut terlihat oleh tamu tersebut, untuk membukakan pintupun pastinya tidak mungkin karena aku masih telanjang. Aku berharap suamiku bangun dan menemui tamu tersebut. Setelah beberapa lama ternyata suamiku belum juga bangun. Aku mendengar ada langkah kaki yang mendekati aku melalu samping rumah. Mungkin tamu tersebut mencoba mencari kami di belakang rumah karena tidak ada yang membukakan pintu depan.

Aku menjadi panik, mau mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku tetapi tidak bisa aku temukan. Hanya ada peralatan masak. Akhirnya cepat-cepat aku nekat masuk rumah sebelum tamu tersebut mengetahui aku di belakan rumah dalam keadaan telanjang bulat.

Betapa sialnya aku pada saat itu. Ternyata masih ada 1 orang tamu lagi yang masih ada di depan rumah tepat di depan cendela kaca sambil melihat di dalam. Otomatis tubuh telanjangku terlihat dengan jelas oleh tamu tersebut. Aku hanya bisa tersenyum pada orang itu sambil kedua tanganku menutup putting dan vaginaku.

“sebentar ya pak…” teriakku kepada tamu tersebut.

Cepat-cepat aku masuk kamar dan membangunkan suamiku.

“paa… bangun pa… ada tamu tuh….” Kataku sambil menggoyangkan tubuh suamiku…
“HHmmm…masih ngantuk maa.. ada apa?” Tanya suamiku
“ ada tamu di depan…”jawabku
“siapa..?” Tanya suamiku lagi dengan mata masih terpejam karena masih mengantuk
“kayaknya kuli-kuli yang kemarin paa…”jawabku
“temuin aja ma… papa msh ngantuk banget” kata suamiku…
“gak bisa pa… mama masih telanjang nih.. katanya gak boleh pake apapun kecuali di suruh papa….mama pake baju aja ya pa..” kataku
“ iya mah..bisa-bisa mama diperkosa kalau nemuin mereka dalam keadaan telanjang…sana pake baju trus temuin mereka, papa lanjut tidur dulu. Ngantuk….”jawab suamiku.

Aku lega sekali mendengar ucapan suamiku barusan. Ternyata apa yang diucapkan kemarin supaya aku bisa di kerjain kuli-kuli tersebut tidak serius adanya. Namun rasa erotis pada kejadian kemarin masih sangat menggodaku untuk sekali lagi berbuat nakal. Apalagi barusan aku juga kepergok dalam keadaan telanjang bulat jadi tidak ada salahnya aku mencoba eksib lagi di depan mereka.

Akupun mengenakan daster yang kemarin aku pakai saat menggoda kuli-kuli tersebut. Sebenarnya aku masih risih tapi aku merasa agak aman karena di rumah masih ada suamiku. Apalagi sepengetahuan aku tadi tamu yang berkunjung ke rumah cuma 2 orang. Setelah mengenakan pakaian seksi dan menggoda itu, dengan berdebar-debar aku membuka pintu depan. Ternyata masih ada 3 orang lagi yang ada di depan pintu yang tidak dapat aku lihat dari dalam rumah sehingga pagi-pagi sudah ada 5 orang yang bertamu di rumah aku. Sontak akupun terkejut dengan kedatangan mereka berlima. Aku berusaha menutupi keterkejutanku itu dengan tersenyum semanis mungkin.

“Pagi Bapak-bapak….ada apa ya…?” aku berkata sambil tersenyum manis menyambut mereka.
“Pagi mbak…” jawab mereka hampir bersamaan.
“gak ada apa-apa kok mbak, cuma pengen main kesini aja. Pengen nambah teman mbak..mumpung libur” kata pak Karjono
“Oooo…. Mari silahkan masuk sambil ngopi-ngopi dulu pak” kataku.

Lalu aku membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Pada saat melewatiku, sepintas aku melihat mereka mengintip ke belahan payudaraku yang memang terlihat jelas. Anehnya aku malah merasa seksi banget sehingga bukannya aku berusaha menutupi dadaku tetapi malah membiarkan saja mereka mengintipnya. Toh mereka tidak akan berbuat macam-macam karena masih ada suami di rumah.

“maaf…belum ada kursi maupun perabot lain pak, jadi terpaksa duduknya lesehan deh…maklum pak, baru belajar mandiri. Xixixixi…..” kataku.
“gak pa pa mbak..justru saya salut ama mbak..karena masih muda tapi udah punya rumah sendiri” kata pak karjono. Kata-kata itu membuat aku menjadi bangga.
“Suaminya dimana mbak?” Tanya kasiman
“masih tidur pak. Dia lagi libur kok.” jawabku. Sengaja aku tegaskan kalau suamiku libur supaya mereka tidak berani macam-macam.
“Jangan panggil pak donk…aku belum nikah nih..panggil nama aja mbak biar gak keliatan tua. Hehehe…” kata kasiman lagi.
“ngomong aja perjaka tua. Hahahaha…” timpal Jupri. Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Jupri
“ Eh, bentar yak pak, aku bikinkan kopi dulu” sambungku.
“wah, jadi ngrepoti nih”kata pak karjono

Aku tersenyum dan kemudian melangkah ke belakang membuatkan kopi untuk mereka. Selama obrolan singkat tadi, pandangan mereka semua tidak pernah lepas dari tubuhku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak ada yang luput dari pandangan mereka. Kulit tubuhku yang putih dan mulus ditunjang dengan wajah cantik dan tubuh yang proporsional di tambah lagi dengan penampilan aku yang seksi rupanya sangat menarik perhatian mereka. Membuat aku menjadi tersenyum-senyum sendiri. Akupun membayangkan seandainya aku telanjang di depan mereka. Hiii…. Aq jadi ngeri kalau terus melanjutkan lamunanku itu. Yang jelas mereka itu lelaki normal, pasti mereka akan berbuat lebih jauh lagi.

“iiihhhh…ngeri…” aku bergidik dan menghentikan lamunanku. Saat aku pegang memekku ternyata becek sekali, aku terangsang.

Setelah kopi selesai aku buat, aku mengantarkannya ke ruang tamu dimana mereka berada. Sesaat sebelum aku bagikan kopi tersebut, aku ingat kalau pakaianku minim dan tidak mengenakan cd maupun Bra. Jika aku menunduk pasti payudaraku terlihat jelas. Dari belakangpun memekku pasti juga terlihat. Kalau kemarin saat menyapu halaman jarak antara aku dan para kuil tersebut masih cukup jauh, tetapi sekarang jaraknya tidak lebih dari 1,5 meter. Dan yang paling mengerikan, mereka duduk agak berpencar sehingga jika aku menunduk membagikan kopi itu, tak di ragukan lagi, yang di depan dan di sampingku pasti melihat payudaraku dan yang di belakangku pasti melihat pantat dan memekku.

“aduh..gimana nih..?” kataku dalam hati.

Celakanya, dalam keadaan seperti itu justru aku merasa memekku membanjir.

Bagaimana kalau jupri yang ada di belakangku tau kalau memekku banjir…? Apa aku harus berganti pakaian dulu? Atau aku harus membangunkan suamiku? Berbagai pertanyaan keluar dari dalam hatiku. Tetapi kalau aku harus mengganti pakaian kayaknya tidak mungkin karena sekarang aku sudah ada di tengah–tengah ruang tamu di antara mereka.

Akhirnya dengan terpaksa aku putuskan untuk membagi sendiri kopi yang sudah ada di atas nampan di tanganku ini. Perlahan-lahan aku meletakkan lututku di lantai, berusaha sebisa mungkin agar bagian bawah dasterku yang mini ini tidak tersingkap. Setelah kedua lututku mendarat di lantai dengan sukses, maka inilah saat kedua payudaraku akan terlihat. Dengan berdebar-debar aku mulai merunduk, aku tidak berani melirik kearah mereka. Aku tau saat ini mereka pasti memandangku tanpa berkedip. Aku hanya berani melirik kearah payudaraku sendiri dan berkata dalam hati

Iklan Sponsor :

“ tuh… kan… terlihat deh… aduh…. Malunya aku……” kemudian secara bergantian mereka menelan ludah hingga suaranya terdengar olehku.

Aku yang sudah malu menjadi semakin malu karena aku merasa cairan memekku saat itu keluar cukup banyak hingga lelehannya terasa mengaliri pahaku.

“ aduh, pasti si jupri tau deh..”kataku dalam hati.

Waktu untuk membagikan kopi tersebut terasa sangat lama sekali. Mukaku terasa tebal akibat malu. Aneh memang, ingin eksib tapi merasa amat sangat malu. Mungkin karena masih pemula. Hehehe…..

“Silahkan di minum kopinya.. “ kataku
“ Te..te..terima kasih mbak…” kata Jupri tergagap. Dia terlihat shock setelah melihat memekku tadi..bukan cuma Jupri, ternyata yang lainnya juga shock. Mereka seakan mematung.

Benar kata suamiku, mereka sepertinya tidak pernah melihat wanita kota yang cantik, sexy, dan bersih hingga mereka menjadi shock. Aku tersenyum dalam hati. Asyik juga rasanya.

“sebentar ya pak… aku mau ke belakang dulu” kataku

Aku pergi ke belakang hendak meletakkan nampan. Setelah itu tanpa sepengetahuan mereka aku menguping pembicaraan mereka. Aku penasaran ingin mendengarkan komentar mereka tentang aku tadi.

“wuih, bos… mbak Irma benar-benar cantik dan seksi…aku bisa liat susunya dengan jelas…”kata nyoto kepada pak Kardjono.
“iya, susunya bagus banget” timpal kasiman
“ aku malah bisa ngeliat memeknya… wuih..indah sekali” kata Jupri
“Memang indah sekali…” kata Pak Kardjono

Aku yang mendengarkan pembicaraan mereka dari belakang menjadi tersanjung. Ternyata asyik juga memamerkan tubuhku ini kepada orang-orang kasar seperti mereka. Kalau Cuma di kagumi sama mereka sih gak pa pa.. tapi kalau mereka sampai nekat gimana?

“bos, kita tadi kok kayak orang blo’on aja setelah melihat tubuh mbak Irma”kata Nyoto
“Hahahaha… “ merekapun tertawa
“Kita nikmati aja pemandangannya bos..gak usah kikuk..toh mbak Irma juga senang kita liatin. Hehehe…”kata Jupri

Deg, jantungku terasa berhenti. Darimana dia bisa berkata seperti itu? Rasa Maluku muncul kembali..

“darimana kamu tau pri…?”kata pak Kardjono
“dari memeknya…hehehe…tadi tuh memeknya sampai banjir. Cairannya sampai mengalir ke bawah” kata Jupri.
“Artinya ?” Tanya kasiman
“dasar perjaka tua…hehehe… artinya mbak Irma terangsang…berarti kalau kita telanjangi, dia pasti suka…hehehe…”jelas pak Kardjono.

Seluruh persendianku rasanya lemas sekali…otot-ototku sama sekali tak bertenaga mendengar obrolan mereka. Tetapi aku masih aman karena masih ada suamiku di rumah. Trus, bagaimana kalau suamiku sudah mulai kerja..? Aku berharap semoga tidak terjadi apa-apa denganku.

Aku berusaha menenangkan diri. Setelah agak tenang, aku masuk kembali ke dalam rumah berkumpul lagi dengan mereka di ruang tamu.

Dengan tersenyum aku berkata “Maaf Bapak-bapak, agak lama di belakang, sekalian nyuci piring dulu”

“Wah.., suami mbak beruntung banget. Punya istri cantik…, rajin lagi…”kata pak Kardjono
“iya, jadi pengen nih punya istri kayak mbak…” kata kasiman
“ah.., bisa aja… makasih deh” aku tersipu dan merasa bangga mendengar pujian mereka.Cerita Sex Terbaru

Apa yang aku dengar dari obrolan mereka tadi saat aku di belakang ternyata benar. Mereka mulai berani merayu aku. Tidak seperti sebelumnya yang masih sungkan-sungkan. Bahkan mereka saling sahut menyahut untuk memuji dan merayu aku.

Tidak terasa sudah 10 menit kami ngobrol. Sebenarnya senang juga mendengar ocehan dan rayuan mereka walaupun ocehan mereka sudah mulai agak-agak kurang ajar tetapi karena lucu jadi aku abaikan aja. Kamipun tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya suamiku bangun dan bergabung dengan kami.

“Wah-wah…ramai sekali… ngobrol apa aja nih…” kata suamiku.

Akhirnya suamiku pun ikut bercanda bersama kami. Suamiku orangnya supel dan mudah bergaul jadi tidak perlu waktu lama untuk ikut larut dalam obrolan kami. Bahkan suamiku lah yang paling sering memancing omongan-omongan yang agak jorok sehingga kami semua semakin akrab.

Tiba-tiba ada telepon masuk di HP suamiku. Suamiku segera keluar rumah dan mengangkat HPnya di luar. Tidak tau apa yang di bicarakan tetapi kelihatan serius sekali. Setelah selesai berbicara melalui telepon dia masuk kembali.

“mah…aku di telepon oleh bos..ada masalah dengan proyek yang ada di Banjarmasin. Aku di suruh menyelesaikan masalah itu dan harus berangkat sekarang juga”kata suamiku
“sampai berapa lama pah…? Trus aku gmana?” tanyaku khawatir karena sebentar lagi aku di tinggal suamiku dinas ke luar pulau.
“gak tau sampai berapa lama, mungkin paling cepat 1 minggu mah…” jawab suamiku
“Yaa…, mamah takut pah….1 minggu sendirian” kataku

Suamiku tampak berpikir sejenak. “mau gimana lagi mah, namanya juga tugas…” kata suamiku

“Gak usah khawatir mas.. mbak Irma biar kita jagain. Di tanggung aman deh…” kata Jupri dengan semangat.

Tentu saja mereka bersemangat karena aku akan sendirian. Aku khawatir mereka lebih berani dan nekat karena tidak ada lagi yang melindungiku selama minimal 1 minggu kedepan.

“ya deh pak, aku minta tolong ya… terima kasih banyak..”kata suamiku lagi kepada para kuli bangunan tersebut.
“siapin pakaian papah mah…. Papah mau mandi dulu..”kata suamiku kepadaku

Dengan langkah gontai aku masuk kekamar mempacking pakaian-pakaian suamiku yang akan di bawa dinas. Tak berapa lama kemudian suamiku selesai mandi dan masuk kekamar kami. Saat berdua di kamar, aku mengungkapkan kekhawatiranku terhadap kuli-kuli tersebut.

“Pah, Mamah tuh selain takut sendirian di rumah sebenarnya juga takut ama mereka. Kok malah disuruh jagain mamah sih…”protesku
“lo emank kenapa?” Tanya suamiku

Aku mulai menjelaskan kepada suamiku bagaimana mereka memandangku dan menggodaku. Aku khawatir dengan tidak adanya dia di rumah, mereka lebih berani dalam menggoda dan bahkan lebih berani untuk bertindak lebih jauh seperti menyakiti atau memperkosaku. Aku benar-benar merasa takut.

Kemudian suamiku meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan aku. Para kuli bangunan itu tidak akan menyakitiku karena di rumah memang tidak ada barang berharga yang bisa menimbulkan kejahatan perampokan. Suamiku memintaku untuk menjaga sikap dan berkata-kata yang baik kepada mereka. Dengan demikian, tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi jika aku masih takut, lebih baik aku ke rumah orang tua aja untuk sementara waktu.

Aku setuju dengan ucapan suamiku. Aku bisa kerumah orang tuaku kalau aku takut sendiri. Namun jauh di lubuk hatiku, aku merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi tanpa ada suami dirumah. Sensasi eksib yang aku rasakan benar-benar membuat adrenalinku meningkat. Membayangkan itu membuat jantungku menjadi berdebar-debar.

Setelah semua keperluan suami sudah aku siapkan dan terpacking dengan rapi, suamiku berangkat ke bandara menggunakan taxi. Mobil di tinggal di rumah supaya aku tidak bingung apabila membutuhkan kendaraan. Sebelum berangkat tak lupa dia mencium bibirku di depan kuli-kuli tersebut. Aku menjadi salting dibuatnya. Aku mengantar suami sampai di depan rumah hingga taxi yang di naiki suamiku tidak terlihat.

Di daerah perumahanku yang masih kebanyakan sawah, angin bertiup cukup kencang. Hal itu membuat pakaianku berkibar-kibar sehingga pada satu waktu angin tersebut mengangkat pakaian yang aku kenakan. Aku berusaha keras untuk menahan pakaianku agar tidak terangkat. Kedua tanganku aku gunakan untuk menahan rok bagian depan namun tetap saja yg bagian belakang terangkat sehingga seluruh pantatku yang tanpa cd terekspos dengan jelas. Untungnya tidak ada orang sama sekali di belakang tubuhku. Meskipun begitu aku tetap gugup dan salting karena pak Kardjono dan yang lainnya dari tadi terus memperhatikan aku. Sambil tersipu malu dan wajah yang merah padam aku masuk ke dalam rumah, kembali bergabung dengan kuli-kuli bangunan tersebut.

“Aduh, jadi malu aku… maaf ya…” kataku kepada mereka.
“Ah gak pa pa mbak, justru rejeki bagi kami. Pagi-pagi udah dapat pemandangan indah. Hehehe…” sahut Jupri sambil tertawa mesum.
“Iya mbak… mbak jadi semakin cantik aja. Apalagi kalau mbak tanpa baju…. Waduh….bener-bener cantik mbak.” Timpal kasiman.

Mereka sudah semakin berani dan terang-terangan menggoda aku. Sebel rasanya mendengar omongan mereka. Pelecehan mereka melalui kata-kata membuat diriku seakan-akan tidak berharga lagi tapi….

“ Huuu… maunya…” kataku sambil tersipu. Anehnya, kata-kata melecehkan itu justru membuat aku merasa erotis. Tiba-tiba aku merasa senang dan tersanjung terhadap kata-kata itu.

Melihat aku yang selalu tersipu dan tidak marah terhadap godaan-godaan mereka, kuli-kuli tersebut semakin menjadi-jadi dalam menggoda. Untungnya itu semua hanya melalui kata-kata saja. Meskipun begitu, godaan-godaan itu sudah membuat aq terangsang. Vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan hingga membasahi karpet. Wajahku pastinya merah karena menahan malu.

Tidak terasa, sudah sekitar 1 jam kami bercanda. Pak Kardjono cs pandai sekali membawa suasana sehingga aku merasa relax dan enjoy dengan keberadaan mereka. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba HPku berdering. Aku kaget sekali karena sedang asyik menikmati pujian dan godaan Pak Kardjono dan kawan-kawan. Saat aku akan berdiri mengambil HP yang ada di kamar, aku melihat karpet tempatku duduk basah oleh cairan vaginaku sehingga aku tidak berani untuk berdiri. Akhirnya aku meminta tolong kepada nyoto untuk mengambilkan HP dengan alasan kakiku kesemutan.

Setelah nyoto mengambilkan HP dan menyerahkannya kepadaku, aku melihat suamikulah yang menelepon. Dia mengabarkan bahwa sekarang dia sudah di Bandara bersama Bos dan kira-kira 1 jam lagi akan terbang. Saat aku dan suamiku sedang ngobrol di HP, perlahan-lahan Jupri pindah ke samping kananku. Aku santai saja dan tidak curiga sama sekali sampai aku melihat Jupri mengajak pak Kardjono untuk pindah ke sisi kiriku dengan menggunakan isyarat.

Aku mulai curiga dengan apa yang akan mereka rencanakan namun aku berusaha tetap berbicara santai dengan suamiku di telepon supaya dia tidak khawatir dan mengganggu pekerjaannya. Perlahan-lahan Jupri mulai menurunkan tali dasterku yang sebelah kanan. Dengan serta merta aku menahan tali itu supaya tidak merosot dengan menggunakan tangan kiri sambil melotot kearah Jupri namun jupri hanya tersenyum mesum saja. Rupanya dia sudah mulai berani. Jantungku menjadi berdebar-debar.

Pada saat tangan kiriku menahan tali daster, Pak Kardjono perlahan-lahan menurunkan tali daster sebelah kiri. Aku menjadi bingung karena tangan kananku memegang HP sehingga tidak bisa menahannya. Aku rapatkan tangan kiriku ke tubuhku untuk menahan dasterku supaya tidak melorot namun justru memudahkan pak Kardjono karena otomatis tali dasterku menjadi longgar sehingga tali itu kini sudah berada di bawah siku kiriku. Jadi semakin lebarlah bagian dadaku yang terbuka. Sama dengan Jupri, pak Kardjonopun hanya senyam-senyum saja.

Aku semakin panik dengan keadaan ini. Aku tidak mau membuat suamiku terganggu pekerjaannya sehingga dalam pembicaraan di telepon aku berusaha biasa-biasa saja namun mataku melotot kearah Pak Kardjono dan Jupri dan meminta dengan isyarat untuk menghentikan tindakannya itu. Aku juga tidak berani berdiri dan meninggalkan mereka karena malu akibat karpet yang basah oleh cairan vaginaku.

Dengan lembut Pak Kardjono membelai-belai bagian dadaku yang terbuka. Bulu kuduku berdiri karena merasa geli dan terangsang. Aku berusaha menepis tangan pak Kardjono dengan tangan kiri yang menahan tali dasterku namun akibatnya justru menjadi boomerang. Siku kiriku menjadi longgar dan tidak lagi menahan daster sehingga daster itu langsung melorot dan terpampanglah payudara sebelah kiri. Aku agak menjerit dan berusaha menaikkan daster itu namun disaat bersamaan Jupri berhasil menurunkan tali daster sebelah kananku.

“ Ada apa mah..?” Tanya suamiku

Aku menjadi gelagapan di tanya suamiku

“ Eh..gak ada apa-apa pah… ini lo pah, ada kecoa lewat..mamah jadi kaget” jawabku.

Mendengar hal itu, Kuli-kuli itu menjadi semakin berani. Mereka yakin aku tidak akan melapor ke suamiku atas tindakan mereka. Sekarang daster itu sudah melorot di bawah payudaraku. Hanya talinya saja yang masih nyangkut di sikuku. Tangan kananku masih memegang HP dan tangan kiriku berusaha menutupi kedua payudaraku. Apa daya, satu tanganku tidak cukup untuk menutupi kedua payudaraku. Suamiku terus aja mengajak ngobrol di HP sehingga aku tidak bisa mencegah tindakan Jupri dan Pak Kardjono.

Pelan-pelan pak Kardjono berusaha melepaskan tali dasterku dari siku-sikuku. Aku menahannya dengan menguatkan kedua tanganku. Nyoto datang membantu. Dia mengambil tempat di belakangku, mengangkat rambutku dan mulai menciumi tengkukku. Aku memejamkan mataku menahan rasa geli dan merangsang ini sambil tetap berusaha konsentrasi ngobrol dengan suami melalui HP. Rupanya mereka berusaha memperkosaku dengan cara yang sangat halus.

Apakah ada memperkosa dengan cara halus..?? ataukah memang hal inilah yang aku kehendaki..?? yang jelas inilah akibat dari memamerkan tubuh kepada lawan jenis. aku merasa sungguh sangat seksi di hadapan mereka dalam keadaan begini. Tangan-tangan yang tadi berusaha aku kuatkan perlahan-lahan melemah dan tidak tahu kapan, kedua tali dasterku sudah terlepas dari sikuku. Aku terbuai oleh kelembutan perlakuan mereka.

Setelah itu, Nyoto berhenti menciumi tengkukku dan aku mulai sadar dengan keadaan sekitarku. Betapa malunya aku melihat payudaraku terpampang jelas tanpa ada yang menutupi. Suamikupun memanggil-manggil aku namun aku lupa untuk menjawabnya. Kasiman dan santo bengong melihat keadaanku yang sangat mengoda kaum lelaki. Cepat-cepat aku berusaha menutupi kembali payudaraku dengan tangan kiri dan berusaha menjawab panggilan suamiku. Aku beralasan sedikit ketiduran karena lelah. Akhirnya suamiku menyudahi pembicaraannya dan menyuruhku untuk istirahat.

Setelah HP tertutup, aku berusaha menaikkan dasterku tetapi pak Kardjono, Nyoto, dan Jupri menahan dasterku sehingga aku tidak bisa menaikkannya. Kemudian aku menutupi kedua payudaraku dengan kedua tanganku.

“Apa yang kalian lakukan..? sudah cukup..” kataku setengah berteriak.
“Mbak Irma cantik banget… kami ingin melihat mbak Irma tanpa pakaian. Pasti sangat sangat sangat cantik…sekali ” kata Pak Kardjono
“Betul mbak, kami tidak pernah melihat cewek secantik mbak..” kata Nyoto.
“Sudah stop… keluar kalian dari rumahku…!!” aku mengusir mereka namun disisi yang lain sebenarnya aku mengharapkan mereka berbuat lebih jauh.
“Tenang Mbak.. jangan mengusir kami donk… Jujur..mbak suka kan?” kata Pak Kardjono
“Iya Mbak.. kalau tidak suka, kenapa mbak terangsang?. Hehehe…” kata Jupri
“Mbak.. ngapain susunya di tutupi?… Kami semua tadi sudah melihatnya kok. Seksi lo mbak… di buka aja gih..” santo mulai ikut berbicara.
“Iya mbak… jujur aja… mbak suka kan?” Tanya Nyoto sambil berbisik di telingaku membuat aku kembali merinding sehingga tanpa sadar aku mendesah.
“Gak..!!” jawabku sambil menggelinjangkan tubuhku karena geli.
“Tuh kan… mbak Irma menikmati banget kayaknya” kata Pak Kardjono

Aku menjadi malu dengan tuduhan pak Kardjono. Memang bahasa tubuhku tidak bisa membohongi kalau aku terangsang berat. nyoto kembali menciumi tengkuk, pundak dan punggungku yang terbuka. Aku tidak tahu harus berbuat apa tetapi tubuh ini benar-benar merasakan rangsangan yang luar biasa. Tanpa sadar aku kembali memejamkan mata dan menggelinjang-gelinjang.

“ AAhhh…………” aku kembali mendesah karena menahan nikmat. Kali ini desahanku agak keras.
“Mbak, dasternya di copot aja ya… nanggung tinggal dikit..” kata pak Kardjono lagi

Aku diam saja, bingung harus berkata apa. Nyoto menghentikan ciumannya dari tubuhku dan aku menjadi sangat malu karena respon tubuhku.

“dasternya di lepas ya mbak..??” bisik nyoto di telingaku.

Memang percuma jika aku pura-pura menolak. sudah kepalang tanggung toh 80% aku sudah telanjang. Akhirnya aku menyerah dan menganggukkan kepalaku. Sangat halus sekali cara mereka untuk menelanjangiku.

“Angkat sedikit pantatnya mbak..”kata pak Kardjono sambil memegang ujung dasterku yang paling atas.

Dengan malu-malu dan jantung berdebar-debar aku mengangkat pantatku.

“aduh..jadi telanjang beneran nih” kataku dalam hati.

Pak Kardjono mulai memelorotkan daster yang aku kenakan melewati pantatku. Kemudian menariknya melewati lututku terus diloloskannya dari kakiku. Akhirnya sekarang aku benar-benar telanjang bulat dihadapan 5 orang pekerja kasar yang baru aku kenal kemarin. Tangan kiriku masih berusaha menutupi kedua payudaraku, tangan kananku menutupi vaginaku. Sensasinya sungguh luar biasa. Terangsang, malu dan erotis menjadi satu.

Kasiman dan santo mulai mendekatiku dari arah depan. Nyoto menghentikan ciumannya pada pundak dan tengkukku. Mereka berlima hanya memandangi tubuhku sambil melihat reaksiku tanpa melakukan apapun. Dipandangi seperti itu aku menjadi salting. Aku merasa bagaikan cewek terseksi di dunia. Dipandangi dan dikagumi oleh cowok-cowok pekerja kasar dalam keadaan telanjang bulat. Hhmmm…

“Gimana mbak Irma… suka telanjang di depan kita-kita kan..??”kata pak Kardjono. Aku tetap diam saja tak menjawab sambil menundukkan kepalaku. Jantungku berdegub kencang sekali.
“ayo mbak… jawab donk…” pinta Jupri

Aku malu untuk menjawab. Birahiku sudah terlalu tinggi untuk menghentikan ini semua. Aku ingin sekali meminta untuk melanjutkan kekurang ajaran mereka atas tubuhku tapi ego dan harga diriku masih ada. Aku tetap berusaha menjaga harga diriku walaupun itu sudah tidak mungkin.

“Kalau mbak gak mau jawab, aku akan foto mbak dan mengirimkannya ke suami mbak lo… gimana?? Mbak suka telanjang kan…?” Tanya Jupri lagi

Dengan mudahnya mereka menjatuhkan harga diriku tanpa ada paksaan. Hanya sedikit ancaman saja. Tidak ada pilihan lain selain menjawab pertanyaan Jupri supaya suamiku tidak tahu.

“Iii…iiya…” jawabku pelan. aku semakin menundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan mereka.
“Iya apa mbak..? yang jelas donk..” Tanya Jupri mencoba semakin menekanku
“Ii..iya..aku suka..” jawabku lagi
“Suka apa mbak..?? wah mbak Irma minta di foto Jup..”kata Nyoto kepada Jupri
“Jangan..jangan…please, jangan di foto…” pintaku
“Kalau begitu jawab yang jelas donk mbak…”kata Nyoto tidak sabar
“Iya…sssaaya..sssuuka..te..te..telanjang di depan kkkaalian…”akhirnya aku menjawabnya dan merasa malu sekali
“hehehe….hehhe…..” mereka semua tertawa senang dengan pengakuanku itu.

Meskipun orang desa ternyata mereka sangat pintar dalam mempermainkan nafsu wanita. Keterbelakangan daerah tempat mereka tinggal tidak membuat trik-trik sex mereka tertinggal juga bahkan mungkin lebih hebat daripada orang kota yang penuh dengan kesibukan dan polusi.

Dengan serta merta mereka langsung menciumi dan meraba-raba seluruh tubuhku. Santo dan kasiman mengulum sambil meremas-remas kedua payudaraku. Jupri mengarahkan bibirnya ke bibirku. Dia memainkan lidahnya dalam muluku dan berusaha menarik lidahku. Lidah kami saling menari dan melilit.

Sementara Pak Kardjono turun kebawahku membelai-belai vaginaku yang sudah sangat basah. Kemudian aku merasa vaginaku di gelitiki oleh sesuatu yang hangat dan basah namun aku tidak bisa melihatnya. Aku yakin itu adalah lidahnya yang sedang mengoralku.

Rasanya nikmat sekali, nafasku menjadi berat. Seluruh tubuhku diserang secara bersamaan. Belum lagi nyoto yang sedang asyik mengeksplor tubuh belakangku mulai tengkuk, sampai pantat. Tangannya di telusupkan ke belahan pantatku. Jarinya membelai-belai lubang anusku.

Kenikmatan dari seluruh penjuru tubuhku dengan cepat membawaku ke ambang orgasme. Aku tidak bisa mendesah dan berteriak karena sedang berciuman dengan jupri. Aku hanya bisa mendengus-dengus dan menggeliat-geliatkan tubuhku dalam keadaan duduk.Cerita Sex Terbaru

“Hhmm…hhmmmm…” aku berusaha melepaskan ciuman jupri untuk berteriak nikmat namun jupri sama sekali tidak memberikan kesempatan.

Tidak sampai lima menit, akhirnya aku orgasme dengan hebat. Lidah jupri aku sedot dengan kencang. Kepala santo dan kasiman aku tekan erat ke payudaraku. Kepala Pak Kardjono aku jepit dengan kedua pahaku. Selama beberapa menit tubuhku mengejat-ngejat karena orgasme. Meskipun suamiku selalu bisa memberiku orgasme setiap kami berhubungan namun kenikmatannya tak sebanding dengan kenikmatan yang saat ini aku rasakan.

Kenikmatan yang aku rasakan sungguh tak bisa diungkapkan padahal itu hanya melalui permainan mulut dan lidah di seluruh tubuhku. Kenikmatan yang sesungguhnya belum aku rasakan yaitu melalui penis-penis mereka. Membayangkan 5 penis yang akan masuk ke tubuhku membuatku bergidik.

Setelah orgasmeku mereda, nyoto merebahkan tubuhku. Nafasku masih memburu seperti habis lari jauh. Mereka melepaskan seluruh pakaian mereka hingga telanjang bulat, sama dengan aku. Aku melihat badan mereka sangat kekar, hitam, dan kokoh. Pekerjaan mereka pasti membuat otot-otot mereka terlatih sehingga terlihat kuat sekali.

Dan betapa kagetnya aku begitu melihat penis mereka satu per satu. Penis-penis mereka tidak ada yang lebih kecil atau sama besar dengan penis suamiku. Semuanya lebih panjang, lebih gemuk, dan kelihatannya lebih keras.

“Aduh… mati aku… bisa jebol vaginaku..” runtukku dalam hati
“Hehehe….Mbak Irma suka dengan kontol kami ya… keliatannya nafsu banget…hehehehe..” kata Kasiman.

Aku yang sudah tertangkap basah sedang melotot kearah penis mereka menjadi gelagapan dan menjawab

“ eng..eng..enggak kok.. punya kalian besar sekali… ta..ta.takut aku mas..bisa jebol aku..”
“apanya yang besar..?” Tanya Pak Kardjono
“ itu…anunya…kalian”jawabku
“ anu.. apa namanya..?” Tanya Pak Kardjono lagi
“anu..pen..penis.kalian..” jawabku terbata-bata karena gugup.
“Penis-penis..bilang ’kontol’ … ayo… bilang”perintah pak Kardjono
“Eh iya, kontol kalian besar banget..” kataku.

(Serr…serr..) hanya dengan berkata begitu vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan. Aku merasa tak berdaya dan dikuasai oleh mereka namun justru hal itu membuatku lebih terangsang. Pandai sekali mereka mempermainkan harga diriku. Dengan paksaan sedikit aja atau bahkan tidak dipaksa sama sekali aku sudah mempermalukan diriku sendiri.

“hehehe… begitu donk..tahan dikit ya…ntar mbak Irma pasti keenakan kok..” kata Pak Kardjono
“Maaf pak…jangan pak..aku mohon..” pintaku kepada pak Kardjono.

Aku takut vaginaku rusak. Aku takut sakit. Aku merasa ketakutan dengan kegagahan penis mereka. Aku mencoba bangkit dan menghindar dari mereka namun Nyoto menahanku.

“Tenang mbak..enak kok…hehehehe…” kata Nyoto.

Nyoto kembali merebahkanku, mengangkat kedua tanganku hingga berada di samping kepalaku hingga ketiakku terbuka lebar.

“Jangan…please…” pintaku
“Jup, san… kamu jilati ketiak dan susu mbak Irma gih… biar dia merasa nyaman” perintah nyoto kepada Jupri dan Santo.

Dengan semangat Jupri dan Santo mendekatiku dan mulai menjilati ketiak dan payudaraku. Rasanya geli-geli nikmat hingga aku menggelinjang kesana kemari. Kadang aku mendesah, kadang menjerit.

“aahhh…. Aih…aahh..uuhhh…”aku mendesah sekeras-kerasnya.

Aku melihat pak Kardjono kembali mendekat dan menempelkan penisnya ke mulut vaginaku. Perlahan-lahan dia mendorong penisnya memasuki vaginaku. Aku merasakan gesekan setiap milinya. Rasa geli dan nikmat pada ketiak dan payudaraku membuat gesekan penis yang masuk ke vaginaku menjadi sangat nikmat.

“Ach…….” Aku mendongakkan kepalaku setelah penis pak Kardjono masuk seutuhnya kedalam vaginaku.

Vaginaku terasa penuh sekali. Sejenak Pak Kardjono mendiamkan penisnya supaya vaginaku bisa menyesuaikan. Setelah itu dia mulai menggerakkan penisnya pelan-pelan.

“Aduh..ennnnakkk.. sekkkkaallliii….. aaahhh… terusss…..” aku menggelengkan-gelengkan kepalaku ke kanan dan kekiri.

Jupri dan santo terus mengerjai ketiak dan payudaraku sementara pak Kardjono semakin mempercepat genjotan penisnya.

“Auh……auh……..nikkmmmaaattttnnyyaaaa…… ach……….aaku mau kelluar….”desahku.

Tak lama kemudian

“ AAACCCCHHHHHHHH……………………” aku mengalami orgasme kedua yang lebih hebat dari pada orgasme pertamaku tadi hingga squirting. Pak Kardjono masih terus memompa penisnya meskipun aku mengalami squirting yang hebat sehingga orgasmeku terasa terus terjadi berulang-ulang. “ AAAAACCCCHHHHHHHHHHHHH……..” aku menjerit, menegang, dan mengejang-ngejang tiada henti. Tanganku menggenggam erat tangan nyoto yang masih tetap memegangi tanganku supaya tetap di atas kepala.

Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme beruntun, pak Pardjono mulai menghentikan pompaan penisnya di vaginaku. Jupri dan Santo secara kompak juga menghentikan jilatannya. Orgasmeku mulai mereda badanku terasa lunglai namun nafasku masih ngos-ngosan karena kehabisan nafas. Kadang-kadang aku masih mengejat-ngejat sedikit sisa orgasme yang barusan aku rasakan. Ini adalah orgasme terhebat yang pernah aku rasakan.

“Aaaahhhh….” Desahku manja karena kaget dan geli karena Jupri iseng menjilat ketiakku sebelah kanan.
“Bagaimana cantik..?? nikmat bukan…??? Hehehehe…” Tanya pak Kardjono dengan tawa mesumnya. Penisnya masih di dalam vaginaku dengan kokohnya.

Aku tidak menjawabnya karena masih sangat lemas dan tidak terlalu perduli dengan sekitarku. Kemudian pak kardjono memelukku dan tanpa melepaskan penisnya dari vaginaku dia berbalik sehingga aku di atas menindihnya. Aku masih sangat lemas untuk mengangkat tubuhku. Tubuhku lunglai di atas tubuh pak Kardjono dengan kemaluan kami yang masih bersatu.

“ Aaahhh…” aku mendesah ketika Pak Kardjono menggerakkan penisnya sedikit. Vaginaku masih sangat sensitive untuk menerima rangsangan. Pak Kardjono tidak mempedulikan keadaanku itu dia mulai menggenjot penisnya perlahan-lahan. Aku mulai terbuai dengan rasa nikmat pada vaginaku.

Rasa nikmat yang tak terkira itu membuatku lupa pada sekitarku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Jupri, Santo, Nyoto, dan Kasiman.

Tiba-tiba,

“Aihhhh….” Aku menjerit kaget karena ada yang mengelitik lubang anusku.

Hal ini membuat gairah birahiku semakin naik. Rasa geli-geli nikmat pada lubang anusku membuat kenikmatan pada vaginaku menjadi berlipat-lipat. Tenagaku yang tadi habis sekarang tiba-tiba muncul kembali. Desahanku berubah menjadi jeritan.

“aachh… aduh… ennaakk…. Kalian apakan anusku… aaaaccchhhhhh….” Aku menceracau tak karuan.
“aaaaacccchhhhh……..terussss…..kalian apakan itu….” Saat aku akan menoleh kebelakang, Jupri menahan kepalaku.

Dia mencoba memasukkan penisnya ke mulutku. Tanpa banyak protes aku membuka mulutku untuk menerima penisnya. Aku kulum ujung penisnya hingga membuat Jupri mendesah-desah.

“eehhmmmm…..eeehhhmmmmm…..” aku tidak bisa lagi mendesah dan menjerit.

Aku merasa sesuatu yang menggelitik lubang anusku tadi sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam lubangnya. Rasanya sangat sangat nikmat sekali. Sepertinya yang masuk adalah sebuah jari karena begitu terbenam dalam anusku, rasanya seperti ada yang bergerak-gerak di dalam.

Aku tidak bisa lagi menahan kenikmatan ini hingga akhirnya

“eeehhhhmmmmmmmmmmmm…………” tubuhku mengejang hebat. aku mengalami orgasme ketiga yang sangat nikmat. Pak Kardjono, Jupri dan seseorang di belakangku berhenti untuk memberiku kesempatan menikmati orgasme ini.

Aku sudah mengalami 3 kali orgasme hingga tubuhku sangat lemas tapi aku melihat ke5 kuli ini masih segar bugar. Justru mereka sangat bersemangat untuk mengerjai aku. Kapankah ini akan berhenti..?? Aku bisa pingsan karena Orgasme berulang-ulang jika mereka sangat kuat dalam bermain sex.

Perlahan-lahan orgasmeku yang ketiga mereda. Kuli-kuli itu memberikan kesempatan kepadaku untuk beristirahat sejenak. Penis Pak Kardjono masih didalam vaginaku dengan kondisi masih sangat tegang sedangkan penis Jupri sudah terlepas dari mulutku. Sebuah jari yang tadi ada di di dalam anusku perlahan-lahan mulai ditarik keluar. Gesekan antara jari dan dinding anus sangat terasa hingga membuatku sedikit mendesah.

“gantian rek…, aku mau keluar nih. Rasanya nikmat banget. Sayang kalau cepat keluar” kata pak Kardjono dengan logat desanya.
“sini aku duluan, pengen tau rasanya gimana?” kata kasiman yang memang masih perjaka

Ke empat temannya menyemangati kasiman yang sangat ingin merasakan bersetubuh dengan wanita. Kasiman tersenyum-senyum dan mendekatiku. Setelah itu perlahan-lahan aku di telentangkan sehingga penis pak Kardjono terlepas dari jepitan vaginaku.

Kasiman mengarahkan kepala penisnya ke lubang vaginaku dengan tangan kanannya. Setelah dirasa pas, dia langsung memasukkan penisnya dengan satu hentakan keras hingga aku terkaget, mataku melotot,mulutku menganga. Hentakan itu langsung membawaku di ambang orgasme.

“Aaaaaccccchhhhhhhhhhh………” desahku

Begitu penisnya masuk sepenuhnya ke dalam vaginaku, kasiman langsung menggenjot pinggulnya dengan kecepatan tinggi. Hanya beberapa genjotan saja, kasiman langsung mengalami ejakulasi. Aku yang tadi sudah di ambang orgasme juga mengalami hal yang sama.

” Aaaccchhhhhhhhhh……… emmmmmhhhhhhh………………..” aku menggeliat dan mengejang-kejang karena orgasme

Sangat terasa sekali kalau dia tidak pernah bersetubuh. Penisnya berkali-kali menyemprotkan pejunya ke dalam vaginaku. Ini adalah peju pertama yang masuk ke dalam vaginaku selain peju suamiku.

“Rupanya perjaka tua sangat tak berpengalaman. Heheheh……..” kata Jupri
“Hahahaha…….” Keempat teman kasiman tertawa hampir bersamaan.

Setelah Kasiman mencabut penisnya dari vaginaku, kuli-kuli yang lain secara bergantian menyetubuhiku. Tak terhitung berapa kali aku orgasme. Kasimanpun turut ambil bagian lagi dalam menggilir aku. Setelah ejakulasi pertamanya, dia mulai bisa mengendalikan diri sehingga ejakulasinya lebih lama.

Pada saat salah satu dari kuli tersebut akan ejakulasi saat menyetubuhiku, mereka berganti posisi sehingga kuli yang akan mengalami orgasme jadi tertunda. Rupanya mereka benar-benar ingin menikmati tubuhku selama mungkin. Vaginaku sudah sangat sensitive. Orgasmeku terjadi secara beruntun dan terus menerus sehingga tubuhku menjadi lemas sekali. Semakin lama mataku menjadi kabur dan akhirnya gelap sama sekali. Aku tidak sadarkan diri.

Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Saat sadar aku sudah berada di tempat tidur. Lampu kamarku sudah menyala. Aku mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi tadi siang, aku di gangbang oleh kuli-kuli bangunan yang baru aku kenal. Ku lihat melalui cermin yang ada di lemari pakaian,aku masih telanjang bulat.Cerita Sex Terbaru

Perlahan-lahan aku mencoba bangkit untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Sebelum ke kamar mandi, aku mengambil pakaian terlebih dahulu di lemari pakaianku. Namun saat akan membuka pintu lemari, aku tidak bisa membukanya. Tidak ada kunci yang biasanya menggantung di lubang kunci pintu lemari.

“Aneh, kemana kunci lemariku…?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku mencari daster yang tadi siang aku pakai di ruang tamu, ternyata juga tidak ada. Di belakang pintu kamar juga tidak ada pakaian yang biasanya menggantung di situ.

Setelah mencari kesana kemari tidak ada pakaian sama sekali yang bisa aku kenakan, aku melihat ada secarik kertas di atas meja rias. Ada pesan singkat yang tertulis pada kertas itu yang isinya,

“Maaf mbak Irma, seluruh pakaian mbak Irma kami masukkan ke lemari. Kunci lemari kami simpan supaya mbak Irma tidak bisa membuka lemari dan mengenakan pakaian. Mulai sekarang sampai suami mbak pulang, mbak Irma akan telanjang terus. Kami hanya menyisakan Handuk di kamar mandi. Gimana Mbak Irma?? Suka dengan ide kita kan?? Hehehe….”

Celaka……, sepanjang hari selama suamiku dinas, aku akan selalu telanjang. Bagaimana jika ada tamu ke rumah??, bagaimana jika aku perlu membeli makanan??, bagaimana jika aku harus keluar rumah??

Setelah membaca memo tersebut, badanku terasa panas dingin dan lemas. Bagaimana aku harus selalu telanjang dalam setiap aktifitasku selama beberapa hari ke depan. Jika ada tamu yang datang kerumah, pasti aku tidak akan bisa menemuinya karena kondisiku yang tanpa selembar kainpun menempel pada tubuhku. Belum lagi jika aku harus belanja ke tukang sayur yang biasanya melewati depan rumah.

Pikiranku menjadi kalut memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini namun disamping itu aku juga sangat penasaran dengan tantangan ini. Rasa penasaran ini membuat puttingku mengeras, vaginaku berkedut-kedut tanda terangsang. Kenapa aku menjadi begini?

Kuraba vaginaku, terasa sakit. Mungkin ke 5 kuli tersebut mengerjain tubuhku habis-habisan selama aku pingsan. Aku ingat betul saat masih sadar, bagaimana aku mengalami orgasme beruntun yang terus sambung menyambung hingga aku lemas dan akhirnya pingsan karena kehabisan tenaga. Setelah itu aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

Sekarang aku merasakan sangat lapar. Perutku keroncongan minta segera diisi. Aku berjalan menuju lemari es untuk mencari apa saja yang bisa dimakan. Aku melihat ada nasi bungkus dan minuman teh di atas lemari es. Aku buka nasi bungkusnya, isinya adalah nasi goreng yang masih hangat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melahap nasi goreng tersebut sampai habis. Setelah makanan dan minuman habis, aku kembali ke kamar dan menonton tv.

Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang telah terjadi. Rupanya kuli-kuli itu perhatian juga. Mereka menggarap aku di atas karpet di ruang tamu hingga pingsan. Setelah puas, mereka membawaku yang tidak sadarkan diri ke kamar untuk diistirahatkan. Lampu mereka nyalakan. Makanan dan minuman juga mereka sediakan sehingga saat sadar aku bisa langsung makan. Aku jadi tersanjung. Setelah lama mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi dan memikirkan apa yang akan terjadi besok, aku tertidur lelap sekali.

Tidak terasa, sinar matahari sudah menembus kamarku melalui celah-celah gorden di jendela. Aku bangun dan menggeliatkan tubuhku yang telanjang ini. Kemudian aku berjalan ke belakang untuk mandi dan keramas. Kamar mandiku menyatu dengan rumah tetapi pintunya menghadap ke belakang sehingga jika mau ke kamar mandi, aku harus keluar rumah dulu.

Saat itu aku melihat kasiman dan Jupri sedang mengaduk pasir dan semen di dekat pintu kamar mandi. Aku menjadi ragu untuk mandi karena harus melewati mereka dalam keadaan telanjang. Meskipun kemarin mereka sudah menikmati tubuhku dan mengetahui seluruh lekuk-lekuk tubuhku, tetapi rasa malu masih sangat mendominasi.

Aku berencana menunggu sampai mereka tidak berada di situ baru secepatnya aku masuk ke kamar mandi. Setelah mandi nanti aku bisa keluar dengan melilitkan handuk yang ada di kamar mandi sesuai memo yang mereka tulis. Rupanya aku cukup beruntung karena tidak lama kemudian Jupri dan kasiman di panggil pak Kardjono sehingga mereka meninggalkan tempat itu.

Begitu mereka sudah pergi, cepat-cepat aku masuk ke kamar mandi dan setelah sampai di dalam aku bernafas lega karena tidak ketahuan oleh mereka . Aku mandi dengan tenang hingga bersih. Setelah selesai aku keluar dengan melilitkan handuk pada tubuhku. Handuk ini cukup kecil, bagian atas hanya bisa menutup separuh payudaraku dan bagian bawah hanya 2-3 cm dari selangkanganku. Namun aku tidak punya pilihan lain, toh ini lebih baik dari pada tidak tertutup sama sekali.

“Pagi mbak Irma…. Segar banget, wangi lagi…Hhmmm….” sapa Jupri kepadaku.
“ Pagi juga……” aku menjawab dengan tersenyum manis. Mata Jupri dan Kasiman memandangi seluruh tubuhku dengan semangat sekali seolah-olah mereka bisa menembus handuk yang aku pakai. “Permisi ya…
“ jawabku lagi sambil cepat-cepat mau masuk ke dalam rumah.
“Sebentar mbak…keburu-buru amat sih…..” kata Jupri lagi.
“Ada apa..??” tanyaku
“bikinkan kami kopi panas donk… 5 cangkir aja..” pinta Jupri
“maaf Jup… aku gak bisa” aku menolak dengan halus.
“ Gak boleh begitu mbak, mbak harus menuruti kemauan kami, dan kami tidak akan menyakiti mbak kok… kalau mbak gak mau nurutin kami…Hmmm…ntar mbak nyesel lho…” ancam Jupri dengan halus pula.
“Emank kenapa…?” tanyaku mulai khawatir.
“Heheheh… ada deh… kami bisa melakukan apa aja lho mbak….misalkan, kalau kami marah, kami bisa menyakiti mbak, atau bisa memberikan foto mbak yang lagi keenakan itu ke suami mbak, atau..masih banyak lagi deh…hehehehe….” Jawab Jupri.

Ancaman Jupri ini sangat halus sekali tapi resikonya sangat besar. Sekarang aku menjadi benar-benar khawatir.

“Iya mbak…kemarin kami memfoto mbak waktu ngesex ama kita…. Mbak seksi banget lo..” timpal Kasiman.
“Eh, jangan…jangan….” Cegahku,
“i..iya deh, aku bikinkan. Bentar ya…”kataku dengan ketakutan.

Toh hanya kopi, apa susahnya aku menuruti permintaan mereka itu. Mereka nampak senang dengan persetujuanku. Aku segera membuatkan mereka kopi. Setelah selesai aku taruh diatas nampan dan mengantarkannya kepada mereka.

Jupri dan Kasiman senang sekali, Pak Kardjono, Santo dan Nyoto yang baru mengetahui aku membuatkan kopi untuk mereka juga terlihat senang sekali. Mereka bersuit-suit menggodaku.

“wah..wah…wah… yang nganter kopi cantik dan seksi. Pasti kopinya enak tuh” teriak Nyoto
“Apalagi kalau di tambah susu… hahahaha….” Teriak Santo.

Mereka semua tertawa senang sekali. Meskipun malu, mau tak mau aku menjadi tersipu mendengar godaan mereka. lelaki manapun pasti menggodaku karena tidak tahan melihat penampilanku saat itu (narsis.com). Aku mengantarkan kopi dengan hanya handuk kecil yang dililitkan ke tubuh saja.

“Stop dulu mbak Irma… tunggu sebentar” teriak Jupri.

Dia mendekatiku dan berkata “ begini lho mbak….”

Tangan Jupri menuju ujung handuk yang aku selipkan ke tubuhku dan menariknya pelan sehingga handuk tersebut melorot.

“Aih…………………” teriakku karena kaget.

Handuk tersebut jatuh di bawah kakiku. Kini aku telanjang bulat di depan mereka sambil membawa nampan. Aku sama sekali tidak bisa menutupi payudara dan vaginaku karena membawa nampan berisi kopi panas. Kalau aku jatuhkan, kopi panas akan menyiram tubuhku. Aku hanya bisa berteriak malu tanpa bergerak. Payudaraku terpampang dengan putting yang tegang. Vaginaku juga terlihat jelas seolah-olah menggoda mereka untuk menjamahnya.

“Wooowwwww…. Indahnya…..” teriak Nyoto bersemangat. Wajahku semakin merah.
“ini di taruh dimana..?”tanyaku
“di sini aja mbak Irma…” jawab Pak Kardjono menunjuk tempat yang agak rata.

Aku berjalan kea rah yang di tunjukkan pak Kardjono. Pada saat berjalan, mereka semakin heboh. Payudaraku bergoyang-goyang indah dan pantat serta pinggulku melenggok-lenggok menggoda. Jantungku berdegub keras, aku merasa sangat seksi.

“Ah…terlanjur malu..ya udah…di nikmati aja” kataku dalam hati.

Begitu sampai ditempat yang ditunjuk pak Kardjono, aku meletakkan kopi-kopi tersebut dengan membungkuk, dan kedua kakiku sengaja tidak aku tekuk sehingga kedua payudaraku menggantung indah dan vaginaku menjadi terbuka dan bisa dilihat dengan jelas dari belakang. Siapapun yang ada di belakangku pasti bisa melihat vaginaku merekah dan basah oleh cairan.

“eeehhhh… jangan disitu nanti kena kotoran. Di sini aja…” kata pak Kardjono sambil menunjuk tempat yang ada di depannya. Aku tahu itu hanya alasannya saja tapi aku menurutinya

Aku mengambil kembali kopi-kopi yang sudah aku letakkan dan beralih ke tempat yang di tunjuk pak Kardjono. Di tempat itu, terpaksa aku harus berada di depan Pak Kardjono yang saat itu sedang berjongkok. Posisi pantatku tepat berada di depan wajah Pak Karjono sehingga saat akan meletakkan kopi, vaginaku yang sudah basah dan merekah sangat dekat dengan wajahnya.

Tiba-tiba

“AAAHHH……………” aku kembali menjerit kaget karena merasakan ada yang lunak basah tepat menyentuh klitorisku.

Aku tidak bisa menegakkan tubuhku. Masih ada kopi panas di tanganku. Aku menoleh ke belakang ternyata itu adalah lidah Pak Kardjono yang menusuk-nusuk klitorisku. Sangat nikmat sekali.

Klitorisku yang sejak tadi sudah mengembang karena terangsang terasa sangat sensitive terhadap sentuhan lidah Pak Kardjono. Aku memejamkan mata menikmati sentuhan itu. Sensasi dipermalukan dan rasa nikmat pada klitorisku membuat aku terlena sehingga cairan vaginaku semakin membanjir.

“Aku tidak boleh seperti ini, aku harus tetap jaga image sebagai wanita baik-baik” kataku dalam hati.
“Sssuuuudddah pak..ccccukup…” kataku terbata-bata kepada pak Kardjono.

Cepat-cepat aku meletakkan kopi panas itu dan meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam rumahku. Pak Kardjono sama sekali tidak menahanku.

Di lubuk hatiku aku berharap mereka menahanku, mempermalukan aku, den menggarap tubuhku seperti kemarin. Sampai aku masuk ke dalam rumah, mereka tidak mengejarku seperti yang aku harapkan. Aku sedikit menyesal kenapa tadi harus jaga image…

Di dalam rumah aku merasa kelimpungan. Birahiku menggantung menuntut untuk segera di tuntaskan tetapi gak mungkin aku minta kepada mereka. akhirnya aku putuskan untuk mencari kesibukan dengan membersihkan rumah supaya birahiku mereda.

Setelah beberapa saat, birahiku mereda. Aku menonton tv sambil tetap bertelanjang bulat. Lalu Jupri datang melalui pintu belakang. Dia menyuruhku untuk membuatkan makan siang untuk istirahat mereka. tanpa bisa menolak, akupun membuatkan mereka makan siang.

“Akan diapain lagi aku kali ini…?? Aduh…jadi deg-degan. Kok aku jadi suka ya….” Kataku dalam hati saat menyiapkan makanan buat kuli-kuli itu.

Banyak pertanyaan tentang apa yang akan terjadi pada diriku setelah ini. Aku membulatkan tekad untuk menikmati perlakuan mereka tapi aku tetap berpura-pura menolak supaya image aku sebagai wanita baik-baik tetap terjaga.

Setelah selesai, aku mengantarkan makanan tersebut ke tempat mereka. Seperti tadi pagi, aku mengantar makanan dalam keadaan telanjang bulat dan diiringi godaan dan siulan mereka terhadapku. Kembali aku diliputi rasa malu dan terangsang akibat godaan mereka. langkah kakiku terasa berat karena salting, putingku mengeras. Kali ini godaan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka berlima memujiku, menyanjungku sehingga aku tersipu-sipu malu. Tangan mereka juga jahil sekali.

“Aaaahhhh…..aduh….geliii…..” aku menggeliat kegelian bercampur kaget karena tiba-tiba Santo memelintir lembut putingku.

Aku sama sekali tidak bisa menepis atau menghindar karena kedua tanganku membawa makanan. Aku hanya bisa menggeliat dan mendesah saja akibat colekan-colekan mereka yang nakal. Putingku sering menjadi sasaran korban kejahilan mereka hingga aku kegelian. Anehnya, dilecehkan seperti itu tidak membuatku marah namun justru aku menyukainya. Aku hanya tersipu-sipu dan menjerit kecil yang tentu saja membuat mereka semakin gemas.

Aku di suruh meletakkan makanan di tempat kopi tadi pagi namun kali ini tidak hanya pak Kardjono yang berjongkok. Setelah menjahiliku, mereka cepat-cepat berjongkok berjajar di dekat Pak Kardjono. Rupanya mereka ingin seperti Pak Kardjono tadi pagi dan tidak ingin melewatkan pemandangan indah di depan mata mereka.

“Tolong minggir donk,aku mau naruh makanan ini..” kataku
“Silahkan cantik…” jawab kasiman namun tidak menyingkir dari tempatnya jongkok.
“Kalian jangan disitu……” Kataku risih
“Gak pa pa sayang…………taruh aja makanannya disitu…….…”kata Pak Kardjono

Jantungku berdegub semakin kencang. Aku tau sebentar lagi pasti vagina dan klitorisku menjadi sasaran kejahilan mereka. ini membuat vaginaku semakin basah. Aku tidak bisa mengelak permintaan mereka. tadi pagi aja aku bisa meski ada pak Kardjono demikian juga kali ini.

“Awas…jangan macam-macam….” ancamku kepada mereka dengan genit.

Akhirnya aku nekat meletakkan makanan di depan mereka yang sedang jongkok. Tentu saja ancamanku tadi tdk ada artinya. Begitu aku membungkuk, Santo langsung menyentuh klitorisku dengan lidahnya.

“Auh………!!” aku sedikit berteriak karena sentuhan lidah itu terasa geli sekali.

Spontan aku berusaha menegakkan tubuhku tetapi ada yang menahan pundakku sehingga aku tetap merunduk. Aku melihat dari sela-sela selangkanganku, vaginaku tepat di depan wajah Santo.

“San, jangan gitu donk….Geli banget……..…… auh…………….!!!” Aku menjerit sebelum menyelesaikan perkataanku karena tiba-tiba santo kembali menyentuh klitorisku dengan lidahnya.

Kemudian dia mulai menjilat-jilat vaginaku secara intens hingga membuatku mendesah-desah tanpa bisa menghindar. Posisi tubuhku masih merunduk.

Payudaraku yang menggantung menjadi bulan-bulanan Jupri dan kasiman. Mereka memilin-milin putingku, meremas-remas buah dadaku, dan menghisap-hisap putingku. Lubang anusku juga ada yang menggelitik. Lengkap sudah penderitaan birahi yang aku alami. Rangsangan dari seluruh penjuru tubuhku yang sensitive membuatku terlena.

Sayup-sayup aku mendengar suara handphoneku bordering dari dalam rumah. Nyoto bergegas mengambilkan handphoneku itu dan menyerahkannya kepadaku. Serentak mereka berhenti mengexplore tubuhku.

“Siapa Mbak???” Tanya Pak Kardjono
“Suamiku pak…” Jawabku panik
“Diterima aja mbak Irma, kasihan tuh suaminya..pasti kangen ama istrinya. Hehehehe…” kata Pak Kardjono lagi.
“I..i..iya pak……” jawabku sambil menegakkan tubuku.
“Halo pah….. gimana kabarnya….? Mama kangen banget pah….” Aku menjawab telepon suamiku.
“ Halo mah…papa baik-baik aja mah… mamah gimana??” Tanya Suamiku
“Baik Pah…………………. Kya…….!!!!” Aku menjerit kaget karena tiba-tiba Jupri dan kasiman mengangkat tubuhku dari sisi kanan kiriku.

Paha kananku di angkat oleh Jupri sedangkan paha kiriku diangkat oleh kasiman sehingga posisi tubuhku terangkat mengkangkang. Vagina dan Anusku terbuka lebar. Tangan kiriku berpegangan pada leher kasiman sedangkan tangan kananku tetap mengangkat telepon.

“Kenapa mah… ada apa???” Tanya suamiku khawatir.
“Aaahhhhh………………….” Teriakku lagi karena kedua buah dadaku di kenyot oleh Santo dan Nyoto.
“Mah…mamah…… ada apa???….” suamiku semakin khawatir
“Eh papah, gak ada apa-apa kok. Cuma kecoa yang lewat kakiku pah…”jawabku berbohong.

Mendengar itu, Jupri tersenyum menggoda. Mungkin dia merasa apapun yang dia dan teman-temannya lakukan pasti aman.

“Ooooo…. Kirain ada apa?? Mamah lagi ngapain nih?” Tanya Suamiku

Pak Kardjono jongkok di bawahku dan mulai menjilati vaginaku ke atas dan ke bawah secara berirama. Tubuhku kembali dirangsang dari berbagai tempat. Buah dada, vagina, anus, dan telingaku dijilat dan diciumi oleh mereka secara serentak.

“Eengg… ini pah, lagi nonton tv” aku menjawab pertanyaan suamiku sambil menahan rasa nikmat di sekujur tubuhku. Mati-matian aku menjawab agar suaraku terdengar normal.
“Mah, kayaknya papa agak lama di sini. Mungkin sekitar 2 minggu karena masalahnya sangat rumit. Mama gak pa pa kan?”kata suamiku
“Iya pah, gak pa pa kok” aku merasa suaraku agak berat.

Nafasku memburu. Aku menjadi panik karena sudah diambang orgasme. Sementara di bawah sana pak Kardjono terus menjilati vagina dan anusku tanpa jeda. Aku member isyarat kepada kuli-kuli itu untuk berhenti karena suamiku akan mengetahui kalau aku orgasme tetapi mereka sama sekali tidak mengendorkan serangannya

“Mamah kenapa? Sakit ya??” suamiku terus bertanya. Mungkin karena dia mulai curiga dengan suaraku.

Aku bingung harus menjawab apa. Rasa yang sangat nikmat ini membuat aku tidak bisa berpikir normal. Celakanya, aku sudah tidak kuat menahan orgasme ini apalagi pak kardjono mulai menggelitik vaginaku dengan jarinya sementara lidahnya terus menjilati klitorisku.

“Perut mamah sakit??” Tanya suamiku.
“Iya pah. Aaaaacccchhhhhhhhhhhhhhh…………………………………………..!!” akhirnya aku orgasme hebat sekali hingga air pipisku memancar deras. Aku squirting lagi.
“Mah…” suamiku memanggil
“Aaacchhhhhhhhh…………………………!!” aku orgasme untuk kedua kalinya secara beruntun. Benar-benar sangat nikmat sekali. setelah itu akhirnya mereka menghentikan jilatannya pada tubuhku.
“Mamah…..”Suamiku memanggil lagi.
“I..i..iya pah… maaf pah…. Mama Diare sampai mengejan di WC… Perut Mama mulas pah…..”jawabku.
“Tapi suaranya kok kayak orang keenakan gitu…??” selidik suamiku
“Merdu ya pah???….biasalah pah…. Kalau orang cantik itu mengejan aja kedengaran merdu lo….. Xixixi….”aku mencoba bercanda supaya suamiku tidak makin curiga.
“bisa aja mamah…. Papah jadi nafsu nih” kata suamiku mulai relax.

Pada saat itu Pak Kardjono memasukkan lagi jarinya kedalam vaginaku dan aku merasa ada sesuatu yang mencoba masuk kedalam anusku. Hampir aku memekik karena kaget untungnya aku bisa mengendalikan diri.

“Udah ya pah, mamah mo konsentrasi nih. Ntar telpon lagi ya??” segera aku menutup telpon.

Mereka ber 5 mulai merangsangku lagi. Tubuhku kembali dikerjain habis-habisan oleh mereka. tak terhitung berapa kali aku orgasme namun kali ini aku tidak pingsan lagi. Mungkin karena sudah pengalaman kemarin. Tetapi karena terlalu banyak orgasme, aku menjadi sangat lemas sekali. Bahkan orgasmepun aku hanya megap-megap saja. Suara nyaring teriakanku saat orgasme juga tidak lagi terdengar.

Kekuatan sex mereka tidak diragukan lagi. Dimataku, mereka adalah cowok-cowok yang gagah perkasa yang membuat aku terus-terusan kelojotan karena orgasme.

Dilecehkan, dipermalukan, dan diperkosa di luar rumah membuatku merasakan sensasi yang sangat erotis. Tak terbayangkan jika teman-teman kulinya yang sedang membangun tempat lain tahu ada cewek cantik yang dengan senang hati diperkosa, pasti mereka akan ikut-ikutan. Itu artinya, akan semakin banyak cowok-cowok kasar yang mengerjain aku. Bayangan itu membuatku kembali orgasme walaupun hanya orgasme lemah karena memang aku sudah tidak punya tenaga sama sekali.

Diperkosa?? Benarkah aku diperkosa??

Menjelang pukul 4 sore, Pak Kardjono CS baru berhenti mengerjain aku. Lebih dari 4 jam aku di buat kelojotan karena orgasme, vaginaku terasa panas dan nyeri akibat ulah mereka. Setelah mereka puas, aku di angkat ke dalam rumah untuk di istirahatkan.

Ya, itulah yang aku butuhkan. Aku sudah hampir pingsan lagi seperti kemarin, tenagaku habis namun aku sangat puas sekali. Dengan telaten mereka menyuapiku makan dan membasuh tubuhku dari sisa-sisa persetubuhan tadi. Mereka memperlakukanku layaknya ratu. Sangat berbeda dengan siang tadi dimana aku diperlakukan seperti budak seks. Tidak lama setelah aku di baringkan di tempat tidurku, aku langsung tertidur pulas.

Aku tidur hingga pagi hari. Esoknya aku bangun dengan tubuh yang terasa segar dan fit. Cepat-cepat aku mandi, memasak, dan sarapan sebelum Pak Kardjono dan yang lainnya datang untuk mulai bekerja. Setelah itu aku ke kamar untuk menyendiri dan merenungkan kejadian yang telah terjadi.

Tulilit……tulilit…… tulilit……tulilit……… terdengar suara HPku berdering. Terlihat di caller id suamiku yang menelepon.

“Halo pah….. gmn kabarnya?…” tanyaku
“Halo mamah sayang…. Papa baik-baik aja. Mama gimana? Udah enakan perutnya?” Tanya suamiku.
“Iya pah, agak mendingan… cepet pulang pah…. Mamah kangen nih….” Aku merengek manja ke suamiku.

Aku sangat membutuhkan suamiku di sampingku, aku butuh perlindungan darinya. Baru 2 hari aku di tinggal namun terasa sudah lama sekali.

“Papah juga kangen mah…sabar dulu ya….”kata suamiku
“Pak Kardjono, Jupri, dan yang lainnya gimana? Mereka gak gangguin mama kan? Tanya suamiku.
“Emank kenapa pah..?” tanyaku
“ya khawatir aja mereka gangguin mamah pas sendiri d rumah. Soalnya mereka udah kita bikin penasaran ama tubuh mamah..” kata suamiku
“Siapa yang mulai hayo..”kataku
“Ya papah sih…. Tapi papah kan Cuma cari sensasi aja. Tapi kalau mereka sampai keterusan papah jadi khawatir mah” kata suamiku
“kalau mereka keterusan ya udah, pasrah aja. Xixixxi…… Dari pada ngelawan ntar malah ada apa-apa gimana? Ya mamah nikmatin aja….xixixixi….”kataku sambil menyelidik tanggapan suamiku.
“Ah mamah, Papah jadi khawatir sekaligus horny lo….” Kata suamiku
“Biarin…. Ntar mamah telanjang terus aja pah. Kalaupun mereka ngeliat mamah, ya udah, anggap aja rejeki mereka. kalau mereka pengen colek-colek mamah, ya mamah pasrah aja. Xixixi… “ godaku ke suami sambil melihat reaksinya

Ternyata suamiku memang khawatir kalau aku diapa-apain ama para kuli itu. Dia memamerkan aku karena merasa bangga telah memilikiku yang cantik dan seksi. Dia senang melihat kaumnya menjadi horny karena melihat istrinya yaitu aku. Tetapi untuk melangkah lebih jauh, suamiku sama sekali tidak menginginkannya.

Setelah ngobrol lama akhrnya kami mengakhirinya. Terdengar ada tukang sayur di luar. Aku butuh belanja sayur-sayuran dan ikan karena di lemari es sudah kosong. Tapi bagaimana aku harus belanja jika aku telanjang bulat begini…

Aku memanggil Kasiman di belakang rumah untuk meminta tolong di belanjakan. Dengan tersenyum mesum dia menjawab “Belanja aja mbak…gak pa pa kok…. Hehehehe…. Tukang sayurnya pasti senang. Bisa-bisa di kasih gratis lo….”

“Jangan gitu donk…. Aku malu nih…. Tolongin ya….” Rayuku
“aku panggilin ya mbak……” kata kasiman
“Jangan-jangan…..” cegahku.

Kalau di panggilkan berarti penjual sayur itu akan datang dan aku tidak akan bisa menemuinya. Tetapi terlambat, Kasiman sudah memanggilkannya.

Aku berlari ke ruang tamu dan bersembunyi di balik pintu. Tukang sayur itu mendekat. Aku membuka sedikit pintu ruang tamu dan melongokkan kepalaku.

“beli apa mbak…?” Tanya tukang sayur itu.

“Ayam 1 Kg, Terong, sama cabe pak…” jawabku.

Tukang sayur itu hanya bisa melihat kepalaku saja yang melongok ke luar. Dia tidak menyadari kalau dibalik pintu itu, tubuhku sedang telanjang bulat. Aku melihat Kasiman cs memperhatikanku sambil tersenyum-senyum.

“Sialan tuh orang…. Sengaja mau mempermalukan aku…” kataku dalam hati.
“Baik mbak….. sayur-sayurnya gak di pilih-pilih mbak…?” kata tukang sayur itu.
“oh, iya ya…..?? …eemmmm………..bentar deh pak…..” kataku

Aku menutup pintu dan berpikir sejenak, bagaimana aku harus keluar?? Kalau aku tidak belanja, trus makan apa aku?? Gak mungkin aku keluar dengan telanjang begini….

Aku ingat masih ada handuk yang bisa menutupi tubuhku meskipun tidak keseluruhan tetapi lumayan dari pada tidak ada sesuatupun yang menempel.

Aku bergegas mengambil handuk dan melilitkannya di tubuhku. Sebelum keluar, aku bercermin dulu untuk melihat penampilanku. Setelah melihat penampilanku di cermin, aku menghela nafas panjang. Ternyata penampilanku masih sangat menggoda, nyaris telanjang.

“Aduh…jadi deg-degan lagi nih…. Ntar kalau sampai lepas gimana??, berarti bertambah 1 orang lagi yang bisa melihatku telanjang… nih handuk kok kecil sih… simpulnya jadi gak kuat..” kataku dalam hati.

Tetapi tidak ada pilihan lagi, aku harus belanja kalau tidak aku tidak bisa makan. Akhirnya aku nekat keluar rumah untuk belanja hanya dengan berlilitkan handuk kecil. Untungnya penjual sayur itu di depan rumah sehingga aku tidak perlu berjalan jauh.

Begitu aku keluar rumah, kuli-kuli itu dengan kompak bersuit-suit menggodaku. Aku yakin wajahku memerah karena malu. Mendapat godaan seperti itu aku tidak bisa marah namun justru menjadi tersipu. Tukang sayur itu terbengong melihatku nyaris telanjang. Hingga aku mendekat, dia masih terpaku di tempatnya. Tersanjung juga aku melihat reaksinya. Hehehe…

“Mana pak sayur-sayurannya…?” kataku yang membuat dia menjadi gelagapan.
“Eh…aaanu…mmbbaaak… iiini…mbbaaakkk… ssseeeggger banget..”jawab tukang sayur itu.Cerita Sex Terbaru

Apanya yang seger?? Sayurnya atau aku? aku tertawa dalam hati. kemudian aku mulai memilih-milih bahan-bahan makanan yang akan aku beli.

“ Pak, ikan lelenya setengah Kg ya…. sekalian di bersihin donk…..” kataku
“Bbbaik mbak….”Jawabnya terbata-bata mungkin karena masih shock.

Dia mengambilkan ikan lele pesananku dan mulai membersihkannya di bawah. Waktu itu aku dalam posisi berdiri menghadap dagangannya sedangkan dia jongkok di belakangku. Aku melirik ke belakang, ku lihat dia dapat leluasa melihat tubuhku terutama bagian belakang bawah. Aku yakin belahan pantatku terlihat jelas olehnya. Aku pura-pura cuek aja. Aku biarkan tukang sayur itu menikmati belahan pantatku yang mulus ini.

“Ooyyy…. Kalau jualan, jualan aja…jgn ngintip2..hahahaha….” teriak Kasiman kepada tukang sayur itu.

Tukang sayur itu menjadi panic, takut aku marah. Tetapi aku tetap pura-pura diam sambil memilih-milih sayuran. Menyadari kalau aku tidak menanggapi teriakan-teriakan kuli itu, dia kelihatan lebih tenang. Aku lirik dia mengacungkan jari jempol kepada Kasiman dan teman-temannya sambil tersenyum.

Simpul handuk yang ada di dadaku terasa agak mengendur akibat gerakan-gerakan tubuhku. Tiba-tiba simpul itu terlepas dan handuk yang melilit tubuhku melorot. Aku kaget dan langsung menjatuhkan belanjaanku. Aku berusaha menutupi tubuh telanjangku dengan kedua tanganku yang tentu saja sia-sia.

“Aiihhh……………………………..” teriakku kaget.

Tangan kananku menutupi buah dadaku dan tangan kiriku menutupi vaginaku. Jupri mendekat. Dia mengambil handukku yang melorot tadi dan mengalungkannya di lehernya.

“Mmmaaf ya pak…” kataku gugup kepada tukang sayur itu.

Jantungku deg-degan, bulu kudukku merinding. Sekali lagi aku dibuat malu oleh ulah para kuli itu. Aku melihat mereka juga bengong melihatku yang sudah polos

“gak apa-apa mbak….” Jawab tukang sayur itu gugup pula sambil melotot ke tubuhku yang sudah tidak ada sehelai kainpun yang menempel.
“Malah dapat rejeki ya pak….” Kata Jupri sambil tersenyum.
“Eh Jup…. Kesiniin handukku…..” pintaku kepada Jupri.
“Iya mbak… tapi bapaknya nunggu pembayarannya lo… bayar dulu donk…..” kata Jupri

Aku mengambil dompet yang tadi aku jatuhkan bersama dengan belanjaanku. Otomatis buah dadaku menggantung indah karena tidak lagi aku tutupi. Setelah itu aku membayarnya dengan tidak lagi menutupi buah dada dan vaginaku. Tukang sayur, Jupri, dan yang lainnya terpana melihatku.

Jantungku terus-terusan berdegub kencang, vaginaku mengeluarkan cairan yang cukup banyak hingga aku merasa cairannya mengalir melalui pahaku. Di perhatikan seperti itu membuatku merasa seksi. Kepalang tanggung aku menutupi tubuhku, aku biarkan saja mereka menikmati pemandangan tubuhku yang mulus dan indah ini.

Setelah melakukan pembayaran, aku mengambili belanjaanku yang terjatuh satu persatu. Saat mengambil, sengaja aku menungging-nunggingkan pantatku kearah mereka. aku pamerkan vaginaku yang sudah basah. Aku sangat terangsang dan ingin segera dikerjain tapi aku gak mau memulai terlebih dahulu.

“Aacchhhh………………….”aku mendesah karena ada jari yang menusuk vaginaku dari belakang kemudian menariknya lagi. Vaginaku semakin membanjir. Aku masih tetap menungging mengambil belanjaanku.

Jupri mendekap tubuhku, menahan agar posisiku tetap menungging kemudian menggelitik vagina dan anusku di depan tukang sayur itu.

“Aacchhhh…. Jupp…. Nakal kamu….. auuhhhh….. geliiii……..”teriakku. aku menggelinjang kesana kemari tetapi Jupri menahannya dengan kuat.

Gelitikan Jupri tidak bisa aku hindari.

“Jupp….. udah….. acchhhh…………………….hentikan………..” teriakku. Sesekali jari Jupri menelusup masuk ke vagina dan anusku.
“Udah….. ammmpuunnnn………………. Hentikan……” desahku.

Dengan cepat aku berada diambang orgasme karena diperhatikan oleh 6 pria kasar yang mengagumi tubuhku sehingga perasaan erotis ini cepat membakar birahiku.

Saat aku akan orgasme, Jupri menghentikan gelitikannya. Aku tidak tahu harus bagaimana, sangat-sangat tanggung. Tidak mungkin aku memintanya untuk terus mengerjain aku. sedangkan tadi aku meminta untuk menghentikannya. Tubuhku menuntut untuk dipuaskan.

Aku menegakkan tubuhku dengan nafas yang terengah-engah. Jupri membawa sayur terong yang aku beli tadi. Terong itu cukup besar sebesar lengan bayi.

“huh…huh…mau ngapain kamu?…huh…..huh…..huh…..” tanyaku kepada jupri dengan masih terengah-engah.
“kira-kira cukup nggak ya mbak…..?” Tanya Jupri
“Wah… Asyik tuh…..” kata kasiman girang. Pak Kardjono, Kasiman, Nyoto, dan Santo datang mendekat.

Mereka mengelilingiku termasuk tukang sayur itu. Aku pasrah ketika Kasiman mengangkat kakiku sebelah kiri kemudian perlahan-lahan memasukkan terong itu ke dalam vaginaku.

“Oooohhhhhhh……………………………………” aku memejamkan mata dan mendongakkan kepalaku.

Sangat terasa sekali gesekan terong itu dengan dinding vaginaku. Setelah masuk hingga mentok, rasanya penuh sekali. Tidak ada ruang sedikitpun dalam vaginaku. Bahkan ketika Kasiman menurunkan kaki kiriku, ganjalannya sangat terasa hingga aku tidak bisa meluruskan kakiku.

Sialnya, mereka pelan-pelan melepaskan aku hingga aku berdiri sendiri tanpa ada yang memegangi.

“Ayo mbak, masuk ke rumah. Masak telanjang di tengah jalan begini. Kalau ada orang lewat gimana?” kata Pak Kardjono.

Aku hendak mengeluarkan terong itu dari vaginaku dan berjalan ke dalam rumah namun pak Kardjono melarangku. Aku di suruh berjalan dengan terong yang tetap menancap dalam vaginaku.

“Tolongin aku pak……. Aku gak bisa jalan….. rasanya mengganjal banget….” Kataku agak manja membuat ke 6 orang itu menjadi gemas kepadaku.
“Jalan sendiri mbak…..cepetan, keburu ada orang lewat…” kata Jupri sambil tersenyum mesum. Aku mencoba berjalan meski dengan kaki yang mengkangkang dan tubuh agak membungkuk.
“Jangan membungkuk mbak, jadi kayak monyet…. Hahahahha…..”kata Nyoto sambil tertawa yang diikuti oleh teman-temannya.
“Badan tegap, kaki diluruskan mbak……. Jalannya lenggak-lenggok biar kayak peragawati….hehehe…”perintah Jupri.

Bukannya marah, tapi aku malah menuruti permintaan mereka. kenapa aku jadi begini? Aku mencoba menegakkan tubuhku dan meluruskan kakiku. Rasanya sulit sekali. Ganjalannya terlalu besar. Tetapi tetap aku paksakan hingga rasanya vaginaku semakin mengapit erat terong dalam vaginaku.

Saat aku mencoba melangkah, gesekan terong dan vaginaku terasa semakin nikmat. Aku berjalan selangkah demi selangkah. Setiap langkahku membuat mulutku menganga karena kenikmatan yang luar biasa yang aku rasakan. Hampir saja aku orgasme dalam setiap langkahku

“Ahhh…………… ohhhhh……….. aaaku…. Mauuuu… kkkkkkeluar……. Ohhhhhh……………….. aaaccchhhhhhhhhhhhhhh………………………..” Hanya 5-6 langkah saja akhirnya aku mengalami orgasme yang luar biasa.

Tubuhku bergetar hebat seperti orang sakau karena obat bius. Ke 6 pria yang mengiringiku takjub melihat efek orgasmeku itu.

Setelah mereda, aku mencoba berjalan lagi namun hanya 3-4 langkah,

“ Aakkkuuu…. Kkkeelluarrrr…. Llllaaggiiii……. Aaaccchhhhhhhhhhh……………………..” aku kembali mengalami orgasme yang tidak kalah hebatnya dengan orgasme pertama tadi. Tubuhku bergetar-getar, mataku hanya terlihat putihnya saja.

Untuk bisa segera masuk ke dalam rumah rasanya sulit sekali. Rasanya seperti berjam-jam aku diluar rumah dalam keadaan telanjang dengan terong di dalam vaginaku dan aku terkejang-kejang setiap 4-5 langkah.

Mereka menyemangatiku supaya cepat masuk ke rumah karena keburu ada orang lewat. Aku sendiri karena khawatir ada orang lewat, membuat aku cepat orgasme. Hadehhhhh………….

Apa yang akan terjadi setelah ini..?? mereka belum menggangbang aku sama sekali. Belum ada satu orangpun yang menyetubuhiku tetapi aku sudah mulai kehabisan tenaga karena orgasme dengan terong.

Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa masuk ke dalam rumah. Kakiku terasa gemetaran dan lemas sekali. Tubuhku langsung ambruk di atas karpet di ruang tamu rumah. Terong yang menancap di dalam vaginaku perlahan-lahan dicabut oleh Nyoto. Gesekannya menimbulkan rasa nikmat di dalam vaginaku hingga membuatku menggelinjang.

“Aaaahhhhh……………………..…” desahku.
“Heheheh…. Enak ya mbak….” Tanya Jupri dengan terkekeh-kekeh

Aku tidak menjawab pertanyaan jupri itu. Mataku hanya terpejam. Dengan keadaanku yang seperti ini, telanjang bulat dan mulut ternganga, aku yakin sebentar lagi aku akan dikerjain habis-habisan lagi oleh mereka. Mau tidak mau, aku harus siap menerimanya.

Aku tidak tahu siapa yang memulai lebih dulu, tubuhku di telentangkan, pahaku dibuka lebar-lebar, kedua tanganku diletakkan diatas kepalaku namun mataku masih tetap terpejam. Kedua putingku langsung menjadi santapan lezat bagi mereka. Tanpa foreplay lagi, salah satu penis mereka sudah masuk kedalam vaginaku.

Permainan sex kali ini berbeda dari biasanya. Selain kelima kuli bangunan yang biasa menggangbang aku, kali ini ditambah satu orang lagi yaitu tukang sayur keliling. Permainan sex tukang sayur itu tidak sehebat kelima kuli bangunan yang sanggup bertahan lama dan membuatku mengalami multi orgasme hingga squirting. Selain penis tukang sayur itu kecil, dia juga tidak sanggup bertahan lama sampai akhirnya dia mundur dengan sendirinya dari arena pertempuran birahi tersebut.

Permainan berlanjut, kedua puting payudaraku dihisap dan dijilat-jilat tiada henti oleh Santo dan Kasiman. Terkadang kepala mereka berdua menelusup di ketiakku, lidah mereka bermain-main di permukaan ketiakku hingga aku menggelinjang kegelian.

“Aacchhhhh….aduuuhhhh……gggelllli…………aaammmpuuunnnn …….”desahku.
“Ah…ah…ah…. Enak mbak….?” Tanya Jupri terengah-engah sambil tetap menggenjot tubuhku.

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Jupri sambil memejamkan mata dan mendesah-desah tak karuan.

“Jawab donk mbak…?”Tanya pak Kardjono
“IIiiiyyaa…..”jawabku.
“iya apa mbak…?”Tanya Nyoto.
“Iiyyyaaaaa……..en..en..eennnnaaakkkk……. ach….ach…ach….” aku berusaha menjawabnya meski terengah-engah.

Sementara penis Jupri sudah tenggelam dan keluar masuk dalam vaginaku. Dia mengocok penisnya yang besar itu dengan cepat namun berirama. Kenikmatan yang aku rasakan sungguh luar biasa. Rasa geli dan nikmat menghinggapi sekujur tubuhku. Aku tidak kuat lagi menahannya sehingga tidak lama kemudian,

“AAACCCCHHHHHHHHH…………….akuu kkkeluarrrr AAAAACCCCCCHHHHHHHHHHHHHHHH……….” Teriakku.

Satu persatu Jupri dkk menggilir tubuhku hingga aku benar-benar kehabisan tenaga. Permainan baru berakhir menjelang jam 12 siang. Sungguh aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padaku. Berpikir untuk berhubungan intim dengan orang selain suamiku saja tidak pernah apalagi berhubungan intim dengan beberapa orang sekaligus.

Kejadian-kejadian erotis selama beberapa hari terakhir ini membuatku berubah. Aku menjadi sangat menyukai sensasi eksibisionis dan sensasi sex keroyokan. Aku tidak tahu bagaimana jika nanti suamiku pulang?? Apakah aku masih bisa puas dengan hanya berhubungan sex dengan suamiku saja?? dan apakah pelecehan-pelecehan seksual yang aku sukai ini juga akan berakhir??

Setelah kelima kuli bangunan itu puas, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka sementara aku hanya bisa berbaring tak berdaya di ruang tamu. Kepulangan suamiku masih 10 hari lagi, selama itu pula aku yakin akan mengalami petualangan-petualangan liar bersama kuli-kuli bangunan tersebut. Aku tidak tahu, petualangan-petualangan apa yang akan aku alami.

Sore harinya setelah aku mandi, suamiku meneleponku. Aku menerima teleponnya sambil tiduran di ranjang dengan telanjang bulat.

“Halo mamah sayang……… gimana kabar kamu…?” Tanya suamiku di seberang sana.
“Halo papah…. Mamah baik-baik aja….” Jawabku
“Papah kangen ama mamah ya….. hayo….”timpalku kembali
“Ya pasti donk…. Siapa sih yang bisa gak kangen sama wanita cantik seperti mamah……….”goda suamiku.
“Ah papah…jadi malu….xixixi…”kataku genit.
“Mah, papah minta tolong di emailkan file yang ada di flashdisk papah. Flashdisknya tertinggal di laci meja kerja papah. Warnanya putih. Sekarang ya mah…. Atau nanti malam juga gak pa pa”kata suamiku.
“lo kok bisa tertinggal sih pah….” Kataku
“namanya juga lupa mah….”kata suamiku
“ Gimana caranya meng-email pah….? Kan laptopnya di bawa papah……”tanyaku
“di pos satpam perumahan kita ada computer lengkap dengan jaringan internetnya. Minta tolong aja ke pak Satpam untuk meng-emailnya” kata suami

“Apa gak bisa di tunda pah..?”tanyaku mulai cemas karena tidak mungkin aku kesana tanpa pakaian sedangkan seluruh pakaianku terkunci di dalam lemari pakaian dan kuncinya di sandera.
“Gak bisa mah, itu filenya penting banget.” Kata suamiku
“Aduh, gimana nih…?? Gawat..” kataku dalam hati.
“tolongin papah ya mah…… please…??!!” kata suamiku.

Bagaimana aku menolaknya?? Jika aku tolak, bagaimana dengan pekerjaan suamiku??

“I..i…iya…pah….”kataku panic
“Makasih istriku sayang…….”kata suamiku kemudian menutup teleponnya

Aku harus meminta kepada pak Kardjono untuk membantuku. Paling tidak dia mau membukakan lemariku supaya aku bisa mengenakan pakaian. Tapi bagaimana aku harus menghubunginya atau teman-temannya?? Mereka sudah kembali ke basecamp mereka. Dan disana juga banyak kuli-kuli yang lain berarti tidak mungkin aku meminta bantuan pak Kardjono dan kawan-kawan.

Karena tidak ada jalan lain, aku putuskan untuk nekat datang ke pos satpam hanya dengan handuk yang dililitkan di tubuhku saja. Aku menunggu hingga gelap supaya kondisiku tidak begitu mencolok. Letak pos satpam dengan rumahku cukup jauh. Harus melewati beberapa blok. Blok-blok yang akan aku lewati itu ada satu atau dua rumah yang sudah ada penghuninya namun mereka jarang keluar. Aku harus berhati-hati dan tidak boleh terlihat oleh tetangga-tetanggaku itu dalam keadaan setengah telanjang karena akan membuat nama baikku dan suami tercemar.

Saat hari sudah mulai gelap, aku mulai keluar rumah dengan mengendap-endap. Aku melihat kekanan dan kekiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang tampak di luar rumah. Setelah aku merasa aman, buru-buru aku melilitkan handuk untuk menutupi tubuhku yang telanjang bulat ini. Tak lupa flashdisk yang dipesan suamiku aku bawa. Aku mulai berjalan menuju pos satpam di pintu gerbang perumahan.

Aku mengenakan sandal dengan hak yang agak tinggi sehingga tidak bisa berjalan dengan cepat. Apalagi kondisi jalan yang masih belum rata. Aku harus berjalan dengan sangat hati-hati sambil memilih jalan yang agak rata sehingga jalanku sangat lambat dan cara berjalanku bak peragawati yang berlenggak-lenggok. Sensasinya membuatku merasa sangat seksi.

Angin semilir-milir yang menerpa tubuhku membuat handuk yang aku kenakan bergerak-gerak menggelitik tubuhku seakan menegaskan bahwa saat itu hanya handuk tersebut yang menutupi tubuh telanjangku.

Setelah melewati beberapa rumah, aku mendengar ada deru sepeda motor yang akan melewatiku. Aku takut pengendara motor itu melihatku. Cepat-cepat aku keluar dari jalan dan berusaha untuk sembunyi di rumah kosong yang gelap. Oleh karena aku memakai sandal dengan hak yang agak tinggi, gerakanku tidak bisa cepat. Sebelum aku berhasil sembunyi, sepeda motor itu telah melewatiku. Jantungku berdegub kencang, aku yakin dia mengetahui keberadaanku yang hanya memakai handuk sebagai penutup tubuh. Untungnya pengendara motor itu terus memacu motornya. Aku bernafas lega, kali ini aku beruntung.

Setelah yakin situasi aman, aku kembali melanjutkan perjalananku menuju pos satpam. Selama berjalan, mata dan telingaku aku pasang tajam-tajam supaya jika ada orang, aku bisa cepat bersembunyi. Jantungku deg-degan karena takut ketahuan.

Pada saat aku berbelok di tikungan blok, kurang lebih 20 meter aku melihat 3 orang laki-laki berjalan ke arahku sambil berbincang-bincang. Jarak yang tidak begitu jauh untuk bisa melihatku dalam keadaan setengah telanjang dengan sangat jelas. Untungnya mereka tidak melihat kearah depan. Aku berbalik dengan cepat dan berusaha mencari tempat untuk sembunyi namun sialnya rumah di sekitar aku berdiri sudah berpagar semua dan tidak ada yang kosong sehingga aku tidak dapat bersembunyi.

Aku berjalan dengan agak cepat menyusuri jalan yang tadi telah aku lalui sambil menoleh ke kanan dan kekiri mencari tempat sembunyi. Jantungku kembali berdebar-debar takut terlihat oleh ketiga orang tadi. Beberapa detik lagi mereka akan berbelok dan berjalan sama dengan arahku. Saat itu juga mereka akan melihatku sedangkan aku masih belum menemukan tempat sembunyi.

“Aduuhhhh…..gawatttt……….” kataku dalam hati.

Malam itu benar-benar malam sial bagiku. Dari arah depan ada mobil yang sedang melaju pelan ke arahku. Lampu mobil tersebut sangat terang menyorot ke depan. Jantungku semakin berdebar, kakiku terasa berat untuk melangkah. Tempat persembunyianpun belum aku temukan. Terus berjalan ataupun tidak, aku tetap akan terlihat. Dari arah belakang ada 3 orang yang sedang berjalan kearahku, dari arah depan ada mobil yang juga melaju ke arahku.

Aku terus berjalan sambil menundukkan kepala. Suara mobil terdengar semakin mendekat, sorot lampupun mulai mengenai tubuhku. Sekarang aku berjalan dengan tersorot lampu mobil yang terang benderang. Aku semakin menunduk karena malu. Penumpang dalam mobil itu pasti bisa melihatku. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat seksi. Lelaki manapun pasti akan mupeng melihatku seperti ini.

Saat sudah ada di depanku, mobil itupun berhenti. Aku menjadi gemetaran karena malu, takut, seksi dan terangsang. Darahku terasa mengalir lebih cepat sehingga tangan, kaki dan wajahku berasa menebal.

“Mbak…..mbak…. permisi… mau nanya…..”kata sopir mobil tersebut sambil membuka pintunya.
“Iya, ada apa mas…?”tanyaku. aku memanggil mas karena orang itu terlihat masih muda.
“Mau Tanya, alamat ini dimana ya….?”Tanya sopir itu sambil menyodorkan kertas berisi alamat rumah dan memposisikan dirinya disampingku.

Lengan kanannya menempel lengan kiriku. Dengan posisi seperti itu, dia dapat melihat dengan bebas belahan payudaraku dari atas.

Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, handuk yang aku kenakan berukuran sedang sehingga mampu melilit tubuhku namun sangat minim. Bagian atas hanya menutup sedikit di atas putingku sedangkan bagian bawah hanya sekitar 5 cm dari pangkal pahaku. Simpulnya pun sangat sedikit, dibagian bawah handuk ada belahan yang cukup terbuka.

“EEmmmm….. dimana ya……? Aku masih belum paham betul daerah sini mas…….. maaf yaaa….” Jawabku. Aku ingin cepat-cepat berlalu dari tempat ini.

Dari dalam mobil aku melihat ada empat orang lagi yang terus melihatku dengan mata yang seakan mau melahap tubuhku. Aku pasrah saja menerima tatapan-tatapan seperti itu dan berharap lilitan handukku tidak terlepas.

“Ooohhhh…. Jadi mbak nggak tahu ya…? Mbak juga masih baru ya?” Tanya orang itu seakan ingin mengulur-ngulur waktu supaya aku tetap berada di situ lebih lama.

“Iya mas, belum 1 minggu.” Jawabku.
“Ada apa mas…?” Tanya seseorang yang ada di belakangku.

Jantung ini terasa mau copot karena ternyata 3 orang yang tadi akan aku hindari agar tidak melihatku, sekarang sudah ada di belakangku.Cerita Sex Terbaru

“Eh ini pak, saya mau Tanya alamat ini. Mbak ini tidak tahu karena masih baru disini.”tanya sopir itu kembali.
“Trus, mbak ini rumahnya dimana? Kok diluar rumah Cuma pake handuk?” Tanya salah satu orang yang berjalan tadi yang mengenakan Tshirt putih.

“Rumah saya di blok G sana pak. Ini saya mau ke pos satpam di gerbang sana mau minta tolong kirim email ke suami saya. Pakaian yang saya kenakan tadi sedang saya rendam untuk dicuci tapi waktu saya mau ambil pakaian ganti di lemari, kunci lemari saya gak ada. Saya lupa naruhnya sedangkan file yang harus di email ini sangat penting. Jadi terpaksa saya Cuma pake handuk aja.” Jelasku panjang lebar mencari alasan yang masuk akal.

“ Ooooo……kirain kenapa kenapa……”kata bapak yang satunya lagi yang mengenakan kemeja kotak-kotak.
“Bapak tahu alamat ini pak??”sopir itu menanyakan alamat kembali
“Kalau blok itu adadi sebelah sana pak. Tikungan itu belok kanan, trus lurus aja sampai mentok, kemudian belok kanan lagi”Kata Bapak yang mengenakan Tshirt putih memberikan penjelasan.
“Ok pak, terima kasih. Mbak perlu saya antar..?” kata sopir itu menawarkan bantuannya kepadaku.
“Terima kasih mas, saya kesana sendiri aja.” Tolakku halus
“Ya sudah kalau begitu…. Saya permisi dulu…. Terima kasih banyak….”kata sopir itu sambil tersenyum nakal kepadaku
“Iya silahkan……”jawab kami berempat

Setelah mobil itu berlalu, Bapak yang berbaju merah juga menawarkan bantuannya kepadaku.

“ayo saya antar mbak…. Bahaya lo jalan sendirian dan setengah telanjang gitu….”kata Bapak berbaju merah
“Eh, terima kasih pak… gak usah repot-repot.. saya sendiri aja. Terima kasih….. saya permisi dulu…..” kataku. aku cepat-cepat pergi dari tempat itu. Pandangan mereka liar sekali menatap tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki membuatku jadi merinding dan salah tingkah.
“Bener lo mbak…bahaya banget….” Timpal bapak yang berkemeja
“Gak pa pa kok pak, permisi……”kataku sambil ngeloyor pergi.

Simpul handukku terasa agak mengendor. Untungnya saat mau terlepas, tanganku berhasil memegangi simpulnya terlebih dulu. Ketiga bapak-bapak itu hanya bisa bengong melihatku. Sambil berjalan menjauhi mereka, aku memegangi handukku yang akan melorot.

Setelah berbelok di tikungan dan tidak lagi terlihat oleh Bapak-bapak itu, aku berhenti dan mengambil nafas panjang. Lega sekali rasanya karena mereka tidak sampai memperkosaku. Aku betulkan simpul handuk yang terlepas. Jantungku masih deg-degan karena kejadian tadi. Ada 7 lelaki yang tidak aku kenal di sekitarku dalam keadaan aku setengah telanjang.

“Huuhh….asyik juga. Xixixi….” Kataku dalam hati.

Ku raba vaginaku ternyata basah sekali. Tiba-tiba aku memiliki ide gila yang pasti akan menaikkan adrenalinku. Sebelum sampai di pos satpam, aku ingin melepas handuk yang menutupi tubuhku. aku ingin berjalan-jalan di alam terbuka dan jauh dari rumah tanpa penutup tubuh sedikitpun. Jika hal itu aku lakukan, pasti menegangkan sekali.

Aku melepaskan handukku, tegang sekali rasanya. Namun saat akan berjalan, aku menjadi ragu-ragu. Aku tidak berani karena terlalu mendebarkan. Akhirnya aku pakai kembali handuk yang sempat aku lepas. Aku meneruskan langkahku menuju pos satpam.

Jarak antara pos satpam dan rumahku yang tidak begitu jauh terasa jauh sekali karena suasana yang menegangkan. Tinggal beberapa meter lagi aku sudah sampai di pos. Aku melihat 2 orang satpam sedang mengobrol. Aku dekati mereka setelah sebelumnya aku memastikan simpul handukku sudah rapat.

“Malam Pak…..”sapaku kepada kedua satpam itu. Di seragamnya tertulis namanya Edi dan Bagus. Keduanya berbadan tegap, tinggi, dan gagah.
“Iya, malam mbak…”sahut kedua satpam itu.

Mereka tampak terkejut dan bengong melihatku. Mereka heran kenapa malam yang belum larut ini ada cewek cantik dengan penampilan yang hampir telanjang datang ke tempat mereka. Namun itu hanya sesaat saja, setelah itu mereka terlihat bersemangat menanggapi aku. Tatapan mereka membuatku merasa sudah telanjang. Rasanya handuk yang aku pakai sudah tidak ada gunanya lagi.

“Maaf pak aku gak pake baju, bajuku terkunci di dalam lemari.”kataku
“Oh iya mbak, gak pa pa kok. Ada apa ya..? Tanya Edi
“Pak aku mo minta tolong pinjam komputernya. Aku mo kirim email bentar. Boleh ya pak….”kataku.
“Oh iya, silahkan mbak…………”kata Bagus.

Aku berjalan memasuki pos. computer sudah menyala tinggal mencolokkan flashdisk yang aku bawa. CPU komputernya terletak di bawah sehingga aku harus menunduk atau berjongkok untuk mencolokkan flashdiskku. Kulihat dari sudut mataku, Edi dan Bagus berada tepat di belakangku. Seandainya aku menunduk, pantat dan vaginaku pasti terlihat dari belakang. Seandainya aku berjongkok, ujung-unjung handukku bagian bawah akan terbuka lebar sehingga vaginakupun juga akan terlihat jelas dari atas dan samping tubuhku.

Kembali aku diliputi rasa tegang, jantungku berdebar-debar. Apa yang harus aku lakukan?? Menunduk atau berjongkok. Akupun memilih menunduk untuk memasang flashdisk. Karena gugup, flashdisk yang akan aku pasang tidak bisa masuk-masuk ke colokkannya.

Dari belakang Edi dan Bagus melotot kearah pantatku. Aku mengetahui hal itu namun pura-pura tidak tahu supaya mereka tidak kaget. Aku merasakan sensasi yang luar biasa mendebarkan dan mengasyikkan. Vaginaku menjadi basah, aku terangsang.

Setelah flashdisk terpasang, aq duduk di kursi yg ada di depan monitor. Ada rasa lega dan kecewa setelah aku memasang flashdisk tersebut. Lega karena sensasi yang mendebarkan telah berakhir, kecewa karena bagian sensitifku tidak kelihatan lagi oleh Edi dan Bagus.

Saat aku mengirim email, mereka berdua mendekatiku dan memposisikan diri disamping kanan dan kiriku. Mereka ingin mencari kesempatan untuk dapat melihat dari atas belahan dadaku yang terbuka dan pahaku yang sangat mulus. Kulirik kearah bawahku ternyata vaginaku terlihat mengintip dari sela-sela belahan handuk yang aku pakai. Aku membiarkan saja dengan perasaan yang deg-degan.

Edi dan Bagus semakin merapatkan tubuhnya ke tempatku duduk. Mereka pura-pura bertanya kesana kemari untuk mengulur-ulur waktu supaya aku lebih lama di pos mereka. Dengan puru-pura tidak sengaja juga, bagus menempelkan punggung tangannya ke bahuku dan sedikit menggesek-gesekkannya. Sedangkan Edi meletakkan tangannya di sandaran kursi sehingga kadang-kadang menyentuh tengkukku. Aku menjadi sangat terangsang. Aku ingin mereka menciumi dan menjilati sekujur tubuhku hingga tidak ada yang terlewatkan se inchi-pun namun tidak mungkin aku yang meminta dan memulai duluan.

Setelah email terkirim, aku tidak langsung beranjak dari tempat itu. aku berpura-pura mencari file yang akan aku email lagi padahal file yang harus aku kirim hanya 1 saja dan sudah tidak ada lagi. Lalu muncul ide nakalku supaya mereka nekat memperkosaku. Berulang kali aku mengambil nafas dalam-dalam supaya simpul handukku mengendur. Setelah aku rasa sudah cukup kendur, aku mengambil flash disk yang ada di bawah sambil tetap duduk di kursi. Aku menundukkan tubuhku untuk meraih flashdisk tersebut. Bagian punggungku semakin terbuka dan memperlihatkan kehalusan kulitku karena handukku tertarik kebawah. Saat itulah sebenarnya simpul handuk sudah terlepas. Jantungku berdebar-debar.

Setelah itu aku berdiri dan handuk yang melilit tubuhku langsung melorot. “Aiiiihhhhh………………….” Aku menjerit pura-pura kaget. Bukan handuk yang langsung aku raih, tapi aku hanya berusaha menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tanganku. Tentu saja usahaku itu sia-sia. Dua buah payudara hanya ditutupi satu tangan saja sedangkan vaginaku ditutupi tangan kiri yang masih menggenggam flashdisk.

“Aduhhhh… pak Edi, pak Bagus…. Maaf ya, jadi makin gak sopan.. gak sengaja nih….maaf ya…”kataku.
“Gak pa pa kok mbak….. malah kita senang kok ada pemandangan indah di depan mata kita…”kata Edi.
“Ah, bisa aja pak Edi…”kataku dengan tersipu malu dan bangga.
“Pak, Jangan diliatin terus donk….malu ini lho…. Tolong tutup mata donk pak, aku mau ambil handukku…” aku pura-pura merajuk.
“Eh, maaf mbak. Habis mbak seksi banget sih….lebih baik gak usah pake handuk deh…. Lebih cantik begini kok” kata Bagus sambil mengambil handukku yang ada di bawah.
“Sini Gus handuknya biar aku simpan sebagai kenang-kenangan.”kata Edi menimpali
“Jangan pak…. Aduhhh…malu nih pak….sini donk handuknya”kataku merengek.

Edi melipat handukku dan disimpan di dalam tasnya. Otomatis tidak ada lagi sesuatu untuk menutupi tubuhku ini.

“Hehehehe….. ginikan lebih enak di pandang.”kata Edi setelah menyimpan handukku.
“betul ed… pemandangannya lebih indah. Heheheheh..”timpal bagus

Mendengar itu, aku merasa tersanjung. Mereka mendekatiku, aku semakin deg-degan.

“Eh..mau apa kalian..?” tanyaku.

Nampaknya mereka tidak memperdulikan pertanyanku. Bagus mengelus lengan dan bahuku dengan lembut sedangkan Edi mengelus tengkuk, punggung hingga pantatku. Bulu kudukku langsung berdiri merasakan elusan itu.

“Eeemmmmm………….” Desahku agak manja sambil memejamkan mata dan sedikit menggeliat karena geli.
“wuihhh….. halusnya…………”kata Bagus sambil terus mengusap-usap bahuku.
“Iya Gus, udah halus…, cantik…, seksi…, mulus lagi… wahhh…. Mimpi apa kita kemarin Gus….”kata Edi

Aku tersipu malu mendengar pujian mereka dan semakin merasa tersanjung.

“Jangan Pak, kembalikan handukku. Aku malu pak…”aku memang merasa malu tetapi ingin mereka terus melanjutkan perlakuan mereka kepadaku bahkan ingin mereka lebih nekat.

Bagus mulai mencium pundakku, beralih ke leherku, dan kemudian sedikit menjilat telingaku.

“Eeemmmmmmmm………paaaakkkk……”aku kembali mendesah merasakan ciuman itu

“Udah pak… ccuuukkkuuupppp….aahhhh…..” Aku berkata pelan sambil sedikit mendesah.

Tentu saja hal itu membuat Bagus dan Edi semakin semangat. Mulutku menolak namun dengan nada menggoda dan tubuhkupun nampak menikmati. Mereka tidak percaya kalau aku menolak perlakuan mereka.

Dengan mata terpejam dan mulut sedikit terbuka, tanpa sadar tiba-tiba Edi sudah mendaratkan mulutnya mengulum bibirku. Aku sudah terbuai dan membalas ciuman Edi pada mulutku.

Bagus menurunkan tanganku yang menutupi payudara dan mengelus payudaraku lembut sekali. Kadang-kadang putingku di colek-colek hingga membuat aku tersentak-sentak seperti terkena sengatan listrik. Kadang-kadang dia juga memuntir-muntir putingku. Aku semakin terangsang dan nafasku terputus-putus mengikuti colekan-colekan jarinya pada putingku.

Sementara Edi masih tetap mencium bibirku. Dia benar-benar menikmatinya. Tak dibiarkannya mulutku terlepas dari pagutannya bahkan hampir seluruh lidahku sampai masuk ke mulutnya karena sedotannya yang kuat seakan-akan mau menelan lidahku itu. Mulutkupun menjadi menganga lebar dibuatnya. Ciumannya dahsyat sekali

“Ahhhh….. ahhhh…..ahhhh…..” desahku dengan mulut terbuka lebar karena kenikmatan yang aku rasakan.

Bagus berpindah tempat di belakangku, sementara tangannya masih tetap meraba-raba payudaraku. Setelah itu, rambutku yang belakang disibakkan lalu dia menciumi tengkukku. Aku merasa seperti melayang-layang. Bulu-bulu di sekujur tubuhku meremang.

Tangan Edi turun ke bawah merabai pantatku. Kadang dia meremas kuat pantatku dan kemudian mengelus-elus lagi. Elusannya bahkan sampai menelusup di belahan pantatku hingga mengenai anusku. Ciumannya tidak pernah lepas sedikitpun. Bagus menurunkan satu tangannya sampai pada vaginaku. Diusap-usapnya vaginaku dengan lembut.

Saat ciuman Edi terlepas, aku menggunakan kesempatan itu untuk mendesah sedikit keras. Rangsangan yang aku terima pada sekujur tubuhku membuatku tidak bisa menahan desahan. Nikmat sekali.

“Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhh…………………………………….” Desahku
“Aaaahhhhhhhhh…………………………………..” Aku terlonjak kaget.

Klitorisku yang sudah menegang sedari tadi tiba-tiba di jepit oleh jari telunjuk dan jempol oleh Bagus. Setelah menjepit, dia kemudian memuntir-muntir klitorisku seperti memuntir-muntir puting payudara. Vaginaku semakin basah. Rasa nikmat yang aku rasakan tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata. Klitorisku tidak pernah diperlakukan seperti itu. Terasa sangat dimanjakan.

“Aaaahhhhh……….aaahhhhhhh…….aaaahhhhhh……..”tid ak ada jalan lain untukku selain berteriak untuk meredam kenikmatannya.

Aku menggeliat-geliatkan tubuhku, meliuk-liuk seperti penari ular. Dalam waktu singkat, aku sudah mendekati ambang orgasme. Sebentar lagi pertahananku akan jebol.

“Aaakkkuuu …mau kkkkeluuaaarrr…..oooohhhhhhh……tttteerrruuuuussss…… …”racauku

Edi menggigit ringan leherku yang mendongak. Rupanya dia gemas dengan mulusnya leherku. Dimainkannya lidahnya disitu, menggelitik leherku yang jenjang, putih dan mulus. Beberapa saat kemudian,

“Aaacccchhhhhhhhhh………………………iiiiihhhhhhhhhhhh…………aa aaccccchhhhhhhhh………..” tubuhku menegang sampai beberapa detik, tanganku meremas pundak edi sekuat-kuatnya lalu cairanku menyemprot dari dalam vagina setelah itu tubuhku mengejang-kejang.

Aku mengalami orgasme pertama pada malam itu setelah menahan rangsangan birahi sejak keluar rumah tadi.

Setelah orgasmeku mereda, Bagus mengambil tempat duduk yang ada di depan computer dan langsung menarikku ke pangkuannya dengan posisi aku membelakanginya. Kemudian dia meletakkan penisnya tepat di depan mulut vaginaku dan memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku dengan sekali hentakan sehingga membuatku terlonjak.

“Ooohhhh……….. aduh……., sakit pak…….pelan-pelan donk………..”kataku dengan mendongakkan kepala.

Vaginaku masih sensitive akibat orgasme tadi. Penis si bagus membuat vaginaku terasa ngilu. Setelah masuk seluruhnya, Bagus mendiamkan penisnya supaya vaginaku menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Selang beberapa detik, dia mulai mengocok penisnya dalam vaginaku.

Sementara Edi menyodorkan penisnya ke dalam mulutku. Akupun langsung membuka mulutku dan mulai mengulumnya. Kumainkan lidahku menggelitik kepala penisnya yang ada di dalam mulut. Edi tampak sangat menikmatinya. Dia mendesah-desah dan mengelus rambutku. Lalu tangan satunya meremas-remas payudaraku.

“Hosh….hosh…gimana mbak??…hosh…hosh….enak gak?? Hehehehe….”Tanya Bagus dengan nafas yang mendengus-dengus seperti orang sedang berlari.

Pinggulnya masih tetap menggenjotku dengan kecepatan agak tinggi namun tetap berirama.

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak lama kemudian nafasku sudah semakin berat. Orgasmeku sudah dekat.

“Ehmmmmm….ehmmmm…..ehmmmmm…..” begitulah suaraku karena mulutku masih terisi penis Edi.

Malam itu aku di kerjain habis-habisan oleh Bagus dan Edi. Mereka sangat bernafsu sekali melahap tubuhku. Tubuhku tidak pernah dibiarkan menganggur barang sedetikpun. Mereka mencumbuku secara bersamaan namun saat bersetubuh, mereka melakukannya secara bergiliran. Hal itulah yang membuatku tidak berhenti sama sekali. Saat bagus menyetubuhiku, Edi hanya mencumbuku sambil mengumpulkan energy untuk giliran berikutnya. Begitu juga sebaliknya.

Tidak terasa, sudah 2 jam aku dikerjai. Tak terhitung berapa kali aku mengalami orgasme. Sedangkan mereka berdua sudah mengeluarkan pejunya masing-masing 2 kali dalam vaginaku. Setelah itu kami bertiga merasa sangat lelah, terutama aku. Kami beristirahat sambil ngobrol-ngobrol. Mereka merasa senang bisa berkenalan denganku dan merasakan nikmatnya tubuhku. Mereka mengakui aku benar-benar sangat cantik dan seksi.

Setelah tenagaku mulai pulih, aku berpamitan mau pulang. Aku meminta handukku untuk di kembalikan.

“Pak Edi, Pak Bagus, saya pulang dulu ya.. uda jam setengah 10 malam. Aku mau tidur dulu, capek banget habis kalian kerjain tadi.” Kataku
“Oh iya, silahkan mbak Irma… ayo saya antar…” kata Edi.
“Terima kasih Pak Edi, saya bisa pulang sendiri kok. Tolong kembalikan handuk saya donk…..gak mungkin saya pulang telanjang bulat gini…”kataku memohon..
“Gak pa pa mbak…. Udah malam, gak bakal ada orang kok.. nie handuknya mo saya simpen buat kenang-kenangan. Hehehehe….” Kata Edi
“tapi pak……..”kataku memelas.

Bagaimana nih, aku sudah tidak memiliki penutup tubuh sama sekali. Di rumahpun juga tidak ada. Apakah aku harus telanjang terus selama 9 hari ke depan? Batinku. Bagaimana jika aku kehabisan sembako dan aku harus belanja ke supermarket.

“Ayo saya antar aja mbak….”Kata Bagus menawarkan jasanya.
“Gak pak, gak usah. Aku pulang sendiri saja.. makasih… please, kembalikan handukku donk pak…”kataku

Walaupun aku merengek-rengek untuk meminta handukku supaya dikembalikan, kedua security tersebut tetap tidak mau memberikannya. Dengan rasa sebal, jengkel dan bingung, aku nekat pulang sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Dalam hati aku berharap tidak ada orang yang mengetahui ketelanjanganku lagi. Apabila sampai kepergok ama orang lagi, aku yakin akan mengalami pelecehan kembali dan ujung-ujungnya adalah perkosaan yang sangat menguras tenaga.

Saat ini aku hanya ingin segera beristirahat karena kondisiku yang sudah sangat lemas. Kakiku melangkah dengan gontai tanpa tenaga namun aku masih berusaha untuk tetap waspada pada sekitarku supaya tidak kepergok.

Aku mengambil jalan yang berbeda dengan jalan saat aku berangkat tadi. Aku takut Bapak-bapak yang mengetahui aku berjalan setengah telanjang tadi berusaha menemui aku lagi dengan menunggu di jalan yang sama. Aku belum hafal betul dengan keadaan perumahan itu namun aku berharap jalan yang aku lalui ini lebih sepi dan lebih aman.

Lega sekali rasanya hati ini karena tinggal 2 blok lagi aku sudah sampai di rumah. Kupercepat langkah kakiku dengan tangan kanan menutupi payudara dan tangan kiri menutupi vaginaku. Sebenarnya percuma juga aku menutupinya namun lumayan bisa menahan goyangan payudaraku akibat langkah kaki yang agak cepat.

Saat akan tiba di belokan terakhir, aku langsung menghentikan langkahku begitu melihat bapak-bapak yang sedang berkumpul dan duduk-duduk di tikar di tengah jalan. Rupanya mereka sedang ronda malam. Memang di perumahanku yang sepi ini, setiap malam bapak-bapak melakukan ronda malam secara giliran untuk membantu security menjaga keamanan lingkungan perumahan.

“Aduh…, padahal kurang sedikit lagi aku sampai.”aku ngedumel sendiri
“Gimana nih? harus lewat mana aku? Apa harus putar blok? Aduhh….pasti jauh lagi jalurnya….”aku merasa cemas sekali.

Selain tenaga yang sudah lemah, kakiku rasanya juga sangat pegal namun aku harus menghindari bapak-bapak itu.

Akhirnya aku balik arah mencari jalan lain memutari blok supaya tidak melewati Bapak-bapak itu. setelah berjalan cukup jauh, aku berhasil menemukan jalan ke rumah. Arahnya menjadi berlawanan dengan Bapak-bapak yang sedang ronda tersebut namun mereka masih bisa melihat rumahku dengan jelas. Artinya, seandainya aku masuk ke rumah, mereka masih bisa melihat tubuh telanjangku ini. Aku harus menunggu Bapak-bapak itu lengah, baru kemudian aku berlari masuk ke dalam rumah.

Saat sudah dekat dengan rumah, aku berhenti sejenak di kegelapan untuk bersembunyi. Kulihat mereka asyik bercanda dan bermain kartu sambil sesekali melihat lingkungan sekitar. Tidak ada kesempatan untuk aku bisa berlari ke dalam rumah. Aku terus menunggu. Selain cowok-cowok, nyamuk-nyamukpun ikut menikmati tubuhku.

Sayup-sayup aku mendengar, Bapak-bapak itu berbicara akan patrol keliling komplek. 1 orang menunggu di tempat, yang lain keliling. Saat 1 orang yang menunggu tersebut tidak melihat kearah rumahku, aku langsung berlari. Jantungku berdebar-debar takut ketahuan. Saat aku berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam, Bapak itu berbalik arah menghadap ke rumah.

“Uuuhhhhh….. hampir saja ketahuan….”kataku dalam hati.

Nafasku ngos-ngosan karena ketegangan yang aku alami barusan. Kuambil air putih dan meminumnya sehingga agak tenang. Kemudian aku basuh tubuhku di kamar mandi, aku cuci vaginaku dari sisa sperma security. Dan setelah itu aku menuju ranjangku untuk beristirahat.

Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Tubuhku terasa sakit semua. Kulihat pada layar HP ada 12 panggilan tak terjawab. Rupanya suamiku menelepon namun aku sama sekali tidak mendengar deringnya karena terlalu lelap tidur. Aku telepon balik suamiku.

“Halo papah…. Met pagi…..Tadi telp mamah ya…?” kataku
“Halo mah… iya…gmn kabarnya?”Tanya suamiku
“baik pah….maaf ya?? Tadi mama masih tidur” kataku
“Tumben.. jam segini masih tidur” kata suamiku
“Iya pah, badan mama capek banget” kataku
“Jaga kesehatan ya mah, jgn tarlalu capek” kata suamiku lembut
“Iya pah, makasih ya… papah kapan pulang? Mama kangen nih…”kataku manja
“Mungkin 1 minggu lagi mah, tapi gak tau juga, tergantung pekerjaan. Mah, kemarin filenya udah papah terima. Makasih ya sayang…” kata suami ku
“iya pah” kataku
“ya uda deh, mama lanjut istirahat aja. Muach…..”kata suami ku
“ iya pah, cepet pulang…. Muach….”kataku

Kemudian telepon di tutup.

“Maafin mama pah, Mama di lecehkan, di kerjain oleh orang-orang, tapi mama menikmatinya. Maafin mamah ya pah…” kataku dalam hati.

Setelah menerima telepon dari suamiku, Aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang. Rasanya masih ingin tidur lagi. Seharian kemarin hingga lewat tengah malam aku di kerjain habis-habisan oleh para kuli bangunan dan security perumahan. Belum lagi aku harus telanjang bulat di luar rumah yang begitu menegangkan yang membuat adrenalinku meningkat. Aku ingin seharian ini bisa beristirahat.

Tukang-tukang yang mengerjakan bangunan sebelah terdengar sibuk dengan pekerjaannya. Sayup-sayup aku mendengar para kuli bangunan itu sesekali menyebut namaku. Mereka pasti bertanya-tanya dimanakah aku berada sekarang karena sampai siang bolong begini rumahku masih tertutup rapat.

Perutku terasa lapar tapi aku malas untuk makan. Badanku sakit semua, tidak ada tenaga. Pengen tidur terus. Tak terasa akhirnya aku terlelap lagi.

“Oooaaammmmpppphhhhhhhhhh…………………..” aku menguap sambil menggeliatkan tubuhku.

Segar sekali rasanya tubuhku ini setelah seharian tidur tanpa aktifitas sama sekali. Kamar dan seluruh penjuru rumahku gelap gulita. Nampaknya hari sudah malam. kunyalakan lampu kamar dan melihat jam dinding. ternyata sudah menunjukkan pukul 7 malam. Itu artinya aku sudah tidur selama kurang lebih 15 jam.

“Wahh… rekor nih. Blm pernah aku tidur segitu lamanya” kataku sambil tersenyum.

Perutku terasa keroncongan. Lapar banget. Memang seharian perutku tidak kemasukan makanan apapun. Segera aku beranjak menuju dapur untuk memasak makanan. Setelah masak, makan dan mandi, aku kembali merebahkan tubuhku di ranjangku sambil menonton tv. Tak terasa aku kembali tertidur.

Esok harinya sekitar pukul 05.00 pagi aku sudah terbangun. Segera aku menuju dapur untuk masak makanan buat aku sendiri untuk hari ini. Sengaja aku cepat-cepat masak sebelum para kuli bangunan itu datang untuk meneruskan pekerjaan mereka supaya aku tidak di kerjain lagi. Meskipun aku sudah beberapa kali di kerjain oleh mereka tetapi rasa malu masih lebih mendominasi.

Kurang lebih 1 jam aku sudah menyelesaikan acara memasak dan mandi. Segera aku tutup semua pintu dan jendela untuk menghindari pelecehan dan ulah cabul para kuli bangunan terhadap diriku.

Setelah semua tertutup rapat dan terkunci, akupun menonton tv di kamar sambil sarapan. Sayup-sayup ku dengar tukang-tukang itu sudah mulai datang. Aku teringat saat-saat mereka melecehkanku, mempermalukanku, menjahili aku hingga menyetubuhi aku secara keroyokan. tiba-tiba aku menjadi horny. Ingin di lecehkan lagi.

Ooohhhh…. Cepat-cepat aku mengalihkan pikiranku pada makanan dan acara televise yang ada di hadapanku. aku mencoba untuk focus pada acara tv namun sekilas muncul lagi ingatan itu membuat vaginaku menjadi becek dan berkedut.

“Pak Jono, ini lampu kamar mandi mbak Irma kok menyala padahal kemarin mati” aku mendengar suara Jupri berteriak kepada pak Kardjono.

Pintu kamar mandiku ada di luar sehingga siapapun bisa masuk ke kamar mandi.

“Apa Pri…..??”Tanya Pak Kardjono sambil berjalan menuju Jupri
“Ini lo pak, lampunya ini kemarin mati, sekarang kok menyala?”Jupri mengulang perkataannya
“Oooo…, berarti mbak Irma ada di dalam rumah Pri…” kata Pak Kardjono.
“Yeeaaahhh…. Hore…..” Teriak mereka girang

Hatiku berdebar-debar mendengar obrolan mereka. Mereka begitu yakin aku ada di dalam rumah. Selintas aku berpikir untuk keluar saja dari persembunyianku, menemui mereka, dan menikmati perlakuan mereka terhadap diriku. Namun aku masih sangat risih dan malu. Kakiku terasa lemas.

“Mbak Irma…… ayo keluar… kita tau lo, mbak Irma ada di dalam….” Aku mendengar suara Jupri dari belakang rumah.

Ku raba vaginaku dan ternyata sudah basah. Aku merasa horny sekali. Tubuhku sudah segar setelah beristirahat seharian kemarin dan sekarang aku siap untuk dikuras kembali seluruh tenagaku. Aku putuskan untuk menemui mereka.

Dengan jantung yang berdebar-debar, aku melangkah ke pintu belakang rumah untuk menemui mereka.

“ Aduh…. Rasanya kok seperti baru awal berbugil ria sih…. !” gerutuku dalam hati sebelum membuka pintu.

Setelah seharian kemarin tidak telanjang di depan orang-orang, sekarang akan telanjang lagi dihadapan orang yang bukan suami rasanya seperti mengawali lagi.

“Mbak Irma…..!” teriak Nyoto

Perlahan-lahan aku membuka pintu dan melongokkan kepalaku,

“Hai, pa kabar pak…?” Salamku pada mereka. Tubuh telanjangku masih bersembunyi di balik pintu, hanya kepalaku saja yang muncul.
“Wah…. Mbak Irma kemana aja sih…..??? kami semua kangen banget loo…”Kata pak Kardjono
“Iya nih mbak Irma, kemana aja sih? Dari kemarin dicariin gak muncul-muncul” kata Jupri
“Eh iya, kemarin lagi gak enak badan jadi seharian istirahat di kamar”jawabku
“Trus sekarang gimana mbak? Masih gak enak badan? “ Tanya Pak Kardjono perhatian.
“sudah lumayan pak..”jawabku
“berarti sudah siap kita kerjain lagi donk….hehehehe….”kata jupri dengan senyum mesumnya

Deg….jantungku terasa mau copot mendengar kata-kata Jupri. Gairahku mendadak meningkat, vaginakupun berkedut-kedut. Aku menundukkan kepalaku karena malu.

“Tuh kan… mbak Irma pengen kita kerjain lagi to…”kata Jupri lagi.
“Hehehe….. bener Pri, tuh kan… dia nunduk, malu-malu kucing” kata Nyoto
“Jadi tambah gemes aku….hak…hak….hak….”kata Pak Kardjono sambil terkekeh-kekeh

Jantungku semakin berdebar-debar mendengar godaan mereka. “Eh, enggak kok. Jangan donk….”sahutku.

“Mbak, buka pintunya donk…aku pengen liat tubuh telanjang mbak Irma nih”kata Kasiman dan hal itu semakin membuatku malu dan bergairah. Kasiman mulai mendorong pintunya perlahan-lahan.

“eh… aduh… mau ngapain kalian…. Aduh…. “kata-kataku melarang mereka untuk membuka pintu tetapi anehnya aku sama sekali tidak menahannya sampai akhirnya pintu itu terbuka sepenuhnya.

Mereka mendekatiku dan memandangi tubuh telanjangku dengan pandangan seolah-olah ingin menelanku bulat-bulat. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan kedua tanganku namun itu hanyalah sia-sia saja. Kedua tanganku tidak mampu menutupi tubuhku yang polos.

“Hehehe…. Mbak Irma harus kita hukum karena kemarin telah membuat kita kebingungan” kata pak Kardjono.

Tangannya menggamit tanganku yang menutupi putting payudara, dan menyeretnya keluar rumah.

“Di hukum apaan pak? kan aku udah bilang kalau lg kecapekan” kataku mengelak.

Mau tidak mau aq harus mengikuti Pak Kardjono yang menyeret tanganku supaya tidak terjatuh.

“Pak…. Pak….. mau ngapain???… pak…..”Aku memohon sambil mengikuti langkah pak Kardjono.
“Udah… diem…. Pokoknya mbak Irma harus dihukum….”Kata Pak Kardjono
“Hakk…hakk…..hak…… iya mbak, harus dihukum….”Kata Kasiman menimpali dan terkekeh-kekeh melihat aku yang kebingungan.
“Eeitss… sebentar pak, Mbak Irma belum memakai sandal tuh….. Sayang kalau kakinya lecet kena batu”Kata Jupri sok perhatian. Dia masuk kembali ke dalam rumah dan membawakan sandal high heel untuk ku.

Setelah memakai sandal itu, aku kembali diseret pak Kardjono. Dia membawaku ke bawah sebuah pohon yang ada di belakang rumah yang sedang mereka bangun. Ku lihat pak Kardjono berbisik dengan Santo. Aku gak tahu apa yang mereka bicarakan tapi aku yakin mereka sedang membicarakan hukumanku. Setelah itu dengan setengah berlari, Santo masuk ke dalam rumah setengah jadi itu dan kembali dengan membawa sebuah celana panjang.

Jantungku berdebar-debar menantikan sebuah hukuman untukku.
Buat apa celana itu?
Hukuman apa yang akan mereka berikan untukku?
Di berikannya celana panjang itu kepada Pak Kardjono.

“Nih Pak celananya” Kata Santo
“Sampirkan ke batang itu” perintah Pak Kardjono menunjuk batang yang agak horizontal dan tingginya kira-kira 2 meter dari tanah
“Pak…. Mau di apain aku??? ….Please….”kataku memelas.
“Mau dihukum mbak…. Dari tadi kan udah dibilang, mau dihukum… hehehehe…”jawab Kasiman

Setelah celananya tersampirkan di batang pohon, kedua tanganku diangkat oleh pak Kardjono sehingga tangan kiri yang dari tadi menutupi vaginaku sekarang tidak lagi menutupinya.

“Pak….. ampun pak……” kataku memohon.

Kedua tanganku diikatkan pada celana itu. Kini kondisiku terikat di bawah pohon dengan posisi kedua tangan keatas. Vaginaku dan seluruh tubuhku terekspos di alam terbuka. Payudaraku terasa membusung indah. Uuuhhhh…. Sensasinya membuatku merasa seksi sekali. Tak terasa vaginaku mengeluarkan cairan.

Kemudian kelima kuli bangunan itu mengelilingiku. Mereka memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga membuatku menjadi malu sekali.

“Ini hukumannya mbak. Hehehe……. Saya ikat disini supaya mbak Irma tidak bisa kemana-mana.

Dan kami bisa meneruskan pekerjaan kami sambil memandang pemandangan indah di dekat kami. Hehehe….” Kata Pak Kardjono dengan tertawa terkekeh-kekeh.

Mendengar kata-kata Pak Kardjono, aku menjadi tersanjung. Ku tundukkan wajahku menahan malu. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sambaran mulut yang langsung mencaplok putting payudaraku sebelah kiri.

“Kyaaa………….! ” Jeritku. Belum reda rasa kagetku, dari arah belakang ada mulut yang mendarat di ketiakku sebelah kanan.
“Aaaiicchhhhh……………!” kembali aku menjerit karena sangat kaget dan geli.

Rupanya Jupri yang sedang mengulum putting kiriku dan Nyoto yang menciumi ketiak kananku. Mereka memainkan lidah dan bibir mereka hingga membuatku menggeliat-geliat menahan geli.

“Aaahhhh….. ssstttopp…. Ammpuuunnn……… ahhh…..”aku mendesah tak karuan, mulutku menganga, tubuhku menggeliat-geliat.

Ketiak dan putingku terasa amat sangat geli. Untunglah mereka berdua hanya sebentar saja menggelitik putting dan ketiakku dengan lidah mereka hingga aku bisa bernafas dengan lega. Meskipun rasa malu masih ada, tapi dalam hati aku menyukai perlakuan mereka bahkan aku menginginkan lebih dari pada itu. Tapi untuk menjaga image aku tetap harus pura-pura menolak perlakuan mereka.

“ Gelitikan tadi juga merupakan salah satu hukuman buat mbak Irma. Hehehehe……. Suka kan??” Kata Pak Kardjono.
“Jangan Pak… Geli banget…. Ampun….tolong lepasin Irma pak….”kataku memohon
“Hehehe….. ampun atau ampun???……tuh, pahanya sampe basah gitu…..” ejek Nyoto sambil ujung jari-jarinya di gesekkan ke tubuhku dari lengan yang terangkat menuju ke bawah melewati ketiak, payudara sampai perut dan kembali lagi keatas membuatku kembali menggeliat-geliat.
“Aaaahhhhh…….. aaahhhhhh……… ammmppuunnnnn…….” Aku mendesah dan merintih menahan geli yang kembali melanda tubuhku. Aku sama sekali tidak bisa menghindar dari jari-jari nakal itu. Tubuhku terus menggeliat-geliat.
“Hayo.. jawab yang jujur mbak Irma…. Kalau gak jujur, gak berhenti lo…….”kata Nyoto.Cerita Sex Terbaru

Apakah aku harus mengatakan kalau aku suka? Itu sama saja dengan menjatuhkan harga diriku sendiri. Tapi kalau aku tidak mengatakan “suka”, gelitikan ini sangat menyiksaku. Kalau terus-terusan begini, aku bisa ngompol di tempat ini dan ini malah semakin mempermalukan diriku.

“Aaahhhhhhh……………….. uuhhhhhh………….. cccuukkkuuppppp……… aammmmppppuuuunnnn…” desahku.
“Gimana..??? hehehehe……..”kata Nyoto
“Iy…iy…..iyyaaaa………aaaahhhhhh………………..”jawabku akhirnya.
“Iya apa mbak..??” kata Jupri menimpali.
“Yang jelas dong mbak Irma cantik………..”Kata nyoto masih dengan jari-jarinya yang nakal yang terus menggelitiki tubuhku.
“Iyy……. Iiiyyyaaaaa aakkkuuu sssssuuukkkaaaa…….. aaahhhhhhh………..” jawabku lebih jelas sambil terus menggeliat-geliat dan mendesah.
“Nah… gitu donk…….” Kata Nyoto. Dia akhirnya menghentikan jari-jarinya.
“Mbak Irma, kami lanjut kerja dulu ya…. Mbak Irma disini dulu ya….. tungguin kita-kita. Hehehehe….” Kata Pak Kardjono.
“Pak, Lepasin Irma dulu donk pak….. ntar ada orang yang liat nih….”kataku merengek.
“Lo…. Mbak Irma gimana sih…… katanya tadi suka……..”kata pak Kardjono.
“Atau mbak Irma mau di gelitikin lagi….. gmn?”kata Nyoto
“Eh…eh… gak usah… iya iya Irma suka…..” jawabku cepat sebelum jari-jari nakal Nyoto kembali menggelitik tubuhku.
“Ya udah, tunggu disini ya Mbak Irma cantik……hehehehe……..”kata Pak Kardjono

Mereka berlima segera meninggalkan aku sendiri bergelantungan dibawah pohon. Jarak antara rumah yang sedang dibangun dengan pohon tempatku terikat tidak jauh, hanya sekitar 5 meter saja. Namun demikian, sebelah kanan rumah setengah jadi itu masih tanah kosong sehingga jika ada orang yang lewat di depan rumah, masih ada kemungkinan tubuh telanjangku terlihat. Aku berharap tidak ada orang yang lewat sehingga aku tidak bertambah malu.

Dengan posisi terikat tersebut, payudaraku seakan menantang siapa saja yang melihatnya untuk mencucupi putingku. Sensasinya sungguh luar biasa, aku merasa seksi sekali. Apalagi ditengah-tengah kesibukan kelima kuli tersebut bekerja, sesekali mereka menjilat bagian-bagian tubuhku yang menurut mereka menggoda sekali. Kadang telingaku di jilat, kadang putingku, kadang ketiakku di gelitiki dengan lidah, bahkan kadang-kadang mereka memasukkan lidah mereka dalam vaginaku. Itupun mereka lakukan hanya sekejap-sekejap saja sehingga membuatku merasa tanggung dan frustasi.

Aku hanya bisa pasrah menikmati pelecehan-pelecehan yang mereka lakukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya desahan dan jeritan serta gelinjangan tubuh saja yang bisa aku lakukan.

Beberapa saat sebelum istirahat, terdengar ada suara sepeda motor yang berhenti di depan bangunan yang sedang di kerjakan itu. Dari suara yang terdengar, tampaknya ada 2 orang yang datang. Mereka berbincang sambil bergurau.

Tak lama kemudian, sepertinya ada suara dari salah satu orang asing itu yang mendekat. Aku jadi kebingungan, aku takut ketahuan. Kondisiku yang terikat tidak bisa menutupi tubuhku yang telanjang. Jantungku berdebar kencang menantikan saat-saat aku dilihat oleh orang asing lagi dalam keadaan polos, telanjang bulat.

Bagaimanapun juga, aku adalah wanita baik-baik yang tidak ingin malu karena bagian-bagian tubuhku yang paling rahasia terekspos ke public. Sudah cukup 5 orang kuli bangunan, 2 orang security, dan seorang tukang sayur itu saja yang melihat dan menikmati tubuh telanjangku. Aku tidak ingin semakin banyak orang yang tahu.

Namun kenyataannya kali ini akan ada orang asing lagi yang akan melihatku bugil.

“Ooohhhhh……gimana nih…??? Aduh……malu aku………”jeritku dalam hati.
“Wo, ayo balik!” Teriak seseorang yang suaranya tidak aku kenal.

Baca Juga Cerita Seks Godaan Janda Panas

Sepertinya dia sedang memanggil orang yang sedang menuju ke arahku itu.

Saat itu orang yang dipanggil “wo” sudah kelihatan ujung kakinya dan hampir melihatku namun dia segera berbalik arah sehingga tidak sempat melihatku.

“Fiuhhh…. Hampir saja. Selamatlah aku…..”gumamku. aku mengambil nafas panjang.

Terasa lega sekali karena tubuhku selamat dari tangan-tangan nakal orang asing yang lain.

Saat istirahat, aku dan kuli-kuli itu makan bersama. Tentunya aku disuapi oleh mereka secara bergantian sambil sesekali tangan mereka menjahili tubuhku.

Setelah makan, kembali mereka menggodaku dengan berbagai pujian atas kecantikan dan keseksianku. Sebagai wanita normal, aku sangat senang dan tersanjung mendengar pujian-pujian itu. Tanpa bisa dicegah, aku menjadi tersipu-sipu. Melihatku seperti itu, mereka semakin semangat menggodaku dan bahkan menjadi gemas terhadapku.

Akhirnya secara bersamaan mereka mengerubungiku. Kasiman mencium bibirku dengan sangat bernafsu. Aku yang sejak pagi merasa sangat terangsang membalas ciuman kasiman dengan tidak kalah panasnya.

Kedua payudara dan ketiakku menjadi sasaran nafsu mereka. Dua orang meremas payudaraku masing-masing kiri dan tangan. Aku tidak tahu siapa saja melakukan itu karena mataku terpejam melayani ciuman kasiman. Putting kiriku terasa diemut, dijilat dan digigit oleh orang yang ada d sebelah kiriku. Sambil tangannya menggelitik ketiak kiri dan meremas payudara kiriku. Sementara orang yang ada di sebelah kananku meremasi payudaraku sebelah kanan dan memilin-milin putingnya sedangkan mulut dan lidahnya menjilati ketiakku.

“Eehhmmmm…………………..Eeehhmmmmm…………………” aku mendesah dan menggeliat-geliat tak karuan menahan geli dan nikmat yang teramat sangat.

Setelah itu kakiku sebelah kanan diangkat kesamping hingga lututku hampir menempel pada tubuhku. Kemudian aku agak terlonjak kaget merasakan benda yang lunak dan basah menempel pada vaginaku dan bergerak lincah di permukaannya hingga klitoris. Rupanya ada yang mengoral vaginaku. Belum lagi hilang rasa kagetku, aku merasa ada yang membuka pantatku dan menjilati lubang anusku.

Rasa nikmat yang aku rasakan tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Seluruh organ sensitifku diserang secara bersamaan. Apalagi keadaanku yang terikat pasrah dan tak berdaya membuat rasa nikmat ini menjadi berlipat-lipat.

Eeehhhmmmmm………eeehhhmmmmmmmm………………eeemmmhhhhhhhh…… ……….”hanya itulah yang bisa aku lakukan. Mendesah dan menggeliat.

Hanya dalam waktu yang singkat, aku sudah merasa di ambang orgasme. Kelima Kuli itu terus merangsang tubuhku tanpa henti. Hingga akhirnya,

“EEmmmpphhhhhhhhhhhhh…………………………..” aku mengalami orgasme hebat tanpa bisa di tahan lagi.

Tubuhku menegang kuat hingga beberapa detik setelah itu mengejang-ngejang nikmat.

Namun kelima kuli itu tidak memberiku kesempatan untuk beristirahat, mereka terus menjilat-jilat tubuhku hingga tubuhku terus mengalami orgasme yang sambung-menyambung. Setelah beberapa kali tubuhku menegang, Kasiman baru melepas ciumannya. Seperti sudah diberi tanda, satu persatu kuli-kuli itu menghentikannya rangsangannya pada tubuhku. Tubuhku menggantung lemas pada ikatan di tanganku.

“Uuhhhffff….uuhhfff…uuhhff….uuuhhhffff……”nafa sku terengah-engah.

Sesekali aku mengejang sedikit sisa dari gelombang orgasme yang barusan melandaku. Kulihat mereka saling berbisik. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Aku menjadi penasaran dengan rencana mereka namun aku hanya bisa pasrah menerima apapun yang mereka rencanakan tersebut.

Jupri mendekatiku sambil melepaskan celananya. Penisnya sudah sangat tegang hingga menghadap atas. Penis tersebut terlihat besar dan kokoh membuat vaginaku makin berkedut-kedut minta untuk segera di bobol. Dia kemudian mengangkat kedua kakiku lalu melingkarkannya pada pinggangnya sehingga posisiku kini digendong dengan kedua tangan tetap terikat dan tergantung. Aroma keringatnya yang khas pekerja berat menusuk hidungku. Hal itu bukannya membuatku jijik namun malah meningkatkan nafsuku.

Jupri mulai mengarahkan penisnya memasuki tubuhku. Kepala penisnya sedikit demi sedikit membelah vaginaku yang basah. Gesekannya terasa banget. Hampir saja aku meraih orgasmeku kembali. Saat setengah penisnya sudah masuk, tiba-tiba dia melepaskan pegangannya pada tubuhku. Tubuhku langsung anjlok, lingkaran kakiku pada pinggang jupri semakin erat karena kaget membuat batang penis itu seakan menembus liang peranakanku.

“Uuuuccccchhhhh……………………………..” tanpa bisa dibendung lagi aku meraih orgasmeku dengan dahsyat.

Tubuhku melengkung kedepan, payudaraku membusung indah, putingnya semakin dekat dengan muka Jupri. Jupri tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung mencaplok putting itu dan menyedotnya dengan kuat. Orgasmeku terasa semakin nikmat.

Setelah orgasmeku mereda, jupri mendekap tubuhku. Keringat dan aromanya yang menyengat membuaiku. Dari belakang, seseorang menempelku dalam keadaan telanjang. Kulirik ternyata dia adalah Santo.

Kurasakan santo membelai-belai lubang anusku. Akupun menggeliat geliat karena kegelian. Hal ini membuat gairahku kembali bangkit.

Setelah itu,

“Uuuuccchhhhhh………”aku melenguh karena santo memasukkan 1 jarinya ke dalam anusku.

Dikeluar masukkannya jari itu ke dalam anusku. Aku merasa sangat nikmat. Setelah beberapa saat, santo menambah 1 jari lagi yang masuk ke dalam anus. Lubang bawahku terasa penuh sekali.

“Aacchh…aacchh….aacchh….. uuhhhh……” aku mendesah-desah merasakan kenikmatan yang amat sangat.

Sambil tangannya mengobok-obok anusku, mulutnya mencium dan menjilati telingaku membuatku semakin mendesah keras.

Tak lama kemudian santo mengeluarkan jarinya dan mulai mengarahkan penisnya yang besar ke anusku. Aku yang mengetahui hal itu menjadi panic dan berusaha menghindarinya.

“Ooohhh…. Udah… jangan yang itu….. ampun…….”aku memohon kepada mereka dan menggerakkan pantatku supaya penisnya tidak bisa masuk.

Santo dan Jupri menjepit tubuhku diantara tubuh mereka dengan erat sehingga gerakanku menjadi terbatas.
Kepala penisnya sudah menempel pada mulut anusku. Aku yang merasakan itu semakin panic. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Jangan…ampun……….”aku merengek-rengek supaya mereka tidak melakukan double penetrasi.
“Oooooohhhhhhhh………………………………” aku mulai melenguh merasakan kepala penis santo yang mulai menerobos lubang anusku.
“Aaaccchhhhh……………………….sssssaaaaakkkkkkiiiiitttttt… ………………” lubang anusku terasa seperti dibelah.

Mengetahui hal itu, Jupri tidak tinggal diam. Dia menggerak-gerakkan penisnya yang ada di vaginaku secara perlahan-lahan sehingga rasa nikmat dan sakit bercampur menjadi 1. Proses masuknya penis Santo dalam anus terasa sangat lambat sekali. Hampir saja aku tidak kuat menahan sakitnya hingga akupun mengeluarkan air mata.

“Tenang mbak Irma, sebentar lagi enak kok. Hehehehe….. tuh, udah masuk semua kontol Santo. Hehehehe…..” bisik pak Kardjono sambil menjilati telinga kananku.

Mengetahui penis Santo sudah masuk semuanya, aku sedikit lega. Jupri dan santo mendiamkan penis mereka didalam kedua lubang bawahku supaya aku bisa menyesuaikan diri. Rasanya tubuh bagian bawahku sangat penuh.

Kondisiku sekarang diapit erat oleh 3(tiga) orang pria dalam keadaan kedua tangan terikat keatas dan telanjang bulat. Aku merasa sangat seksi sekali. Tanpa sadar aku menggerakkan tubuhku perlahan-lahan menginginkan yang lebih. Jupri dan santo yang memahaminya mulai menggerakkan penisnya pelan-pelan.

“Ooooohhhhhhhhhhhh………………… aaaahhhhhhhhhhhh………………”desahku.

Kenikmatan yang aku rasakan jauh melebihi rasa nikmat yang selama ini pernah aku alami. Bahkan saat aku di gilir oleh kelima kuli inipun masih jauh lebih nikmat saat ini.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatku mencapai klimaks. Hanya beberapa menit saja, kenikmatan ini sudah menjalar ke seluruh tubuh hingga akhirnya aku mencapai big orgasme yang luar biasa.

“Aaaaaaaaaaccccccccchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhh…………………………………….” Jeritku panjang.

Tubuhku menegang luar biasa dan dalam waktu yang cukup lama hingga beberapa menit.

Santo dan Jupri sama sekali tidak menghentikan gerakkannya. Penis mereka tetap bergerak keluar masuk lubang anus dan vaginaku meskipun mereka mengetahui aku sedang mengalami orgasme yang hebat. Hal ini membuat orgasme yang aku alami tidak berhenti, malah sambung menyambung terus.

“Aaaaacccccchhhhhhhhhhhhhhhhhhh…………………………………… ……….” Setelah orgasme reda sebentar, tubuhku kembali menegang hingga aku berteriak panjang lagi.
“Aaaaaaacccccccccccchhhhhhhhhhhhhhhhhhh…………………………… …..”jeritku kembali.

Orgasmeku baru berhenti setelah Jupri dan Santo menghentikan goyangan penisnya pada kedua lubangku. Saat itu aku benar-benar lemas sekali. nafasku ngos-ngosan seperti lari berpuluh-puluh kilometer.

Tanpa mencabut penis dari dalam lubang vagina dan anusku, Jupri dan Santo dibantu teman-temannya melepaskan ikatan tanganku. Kemudian mereka membawaku ke dalam rumah dengan keadaan 2 penis tetap tertancap dalam tubuhku.

Dengan tertatih-tatih, aku digendong oleh mereka. Saat menuju rumah, aku kembali mengalami orgasme. Hampir saja aku terjatuh dari gendongan karena tubuhku yang menegang.

“Kita susah payah gendong, mbak Irma kok malah keenakan. Hehehehe……..”seloroh Jupri.

Mendengar itu, mukaku menjadi merah padam karena malu. Apalagi teman-temannya yang lain juga ikut meledekku.

Sesampai di dalam rumah, aku kembali digarap ramai-ramai. Kali ini seluruh lubangku terisi oleh penis-penis mereka. Bagian-bagian tubuhku yang sensitive juga tak luput dari jamahan mereka. Tak terhitung lagi berapa orgasme yang aku alami hingga aku tak sadarkan diri.

Aku bangun pada pagi hari masih dalam keadaan telanjang. Seluruh tubuhku di penuhi sperma yang telah mengering terutama di bagian vagina. Disitu agak tebal karena banyak sperma yang terkumpul. Badanku terasa pegel semua. Vagina dan anusku terasa sakit sekali.

Dengan tertatih-tatih aku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh supaya badan segar. Setelah mandi aku kembali kekamar tidur untuk istirahat. Tiba-tiba, ada seseorang yang membuka kunci pintu depan rumahku.

“Ceklek…ceklek…” suara kunci dibuka.
“Krieeeekkkkk……………..”pintu dibuka
“Mamaaaa……….. papa pulang…………….”ternyata itu suara suamiku.

Aku kaget sekali. ingin pingsan rasanya. Bagaimana ini….? Kok suamiku sudah pulang….? Secepat kilat aku menyambar bantal untuk menutupi tubuhku. Belum sempat aku mengganti sprei yang masih belepotan sperma yang telah kering.

“Halo mama sayang……………….”kata suamiku di depan pintu kamar.

Mataku langsung melotot melihat suamiku tersenyum di pintu kamar. Jantungku berdegub kencang. Aku tidak bisa ngomong apapun. Seluruh otot-otoku terasa lemas tak bertenaga. Suamiku yang melihatku telanjang dan hanya di tutupi sebuah bantal langsung melongo. Diapun kaget melihatku seperti itu.

“Mama…, kok telanjang?” Tanya suamiku heran.

Aku bingung harus menjawab apa. Keringat dingin langsung keluar dari sekujur tubuhku.

“Mama…..?” panggil suamiku lagi membuatku langsung tergagap.
“Ii…Iii…Iiyyaa…. Pppaaaa”Jawabku gugup.
“kok Telanjang..??” Tanya suamiku lagi.
“Aaa…aanu… pah…bbaaju-bbbaaju mamah.. hhiiilang pah…”jawabku spontan namun shock dan rasa gugupku masih belum hilang.

Aku berusaha tenang supaya suamiku tidak curiga. Aku memutar otak untuk dapat mencari alasan secepat mungkin. Dan aku mendapat suatu ide. Aku berusaha tenang dan santai.

“lho.., kok bisa hilang? Masak baju selemari hilang semua? Siapa yang ngambil? Tanya suamiku lagi sambil mendekatiku.
“Ya itu masalahnya pah….. kunci lemarinya hilang padahal baju yang sedang mama pakai sudah mama cuci.

Jadikan baju itu basah, jadi bajunya di jemur. Saat dijemur itu pah, bajunya hilang. Gak tahu kemana.” aku memberikan penjelasan pada suamiku.

“Kok bisa?? Emank ada yang ngambil baju mama di jemuran?”Tanya suamiku lagi. Dia duduk di pinggir ranjang di sebelahku.
“Gak tau pah….mungkin terbang kena angin.”jawabku pura-pura santai.
“Mamah gak bisa buka lemari pah, lemarinya kokoh benget. Mau minta tolong orang gak mungkin, mama kan lagi telanjang” aku melanjutkan alasanku.
“Jadi mama telanjang terus??”Tanya suamiku. Kali ini dia terlihat excited.
“Iya pah.”jawabku
“Sudah berapa lama?”Tanya suamiku lagi
“2 hari pah.”Jawabku berbohong
“Eh, Papah kok udah pulang? Katanya masih banyak kerjaan…”tanyaku
“Udah kelar mah, papah kerjakan secepatnya supaya cepat selesai. Kasian Istriku sendiri di rumah.”Jawab suamiku.
“Gimana rasanya 2 hari telanjang mah??”Tanya suamiku sambil mencium pipiku.

Tangannya menelusup di bawah bantal mengelus payudaraku. Rupanya dia terangsang mendengar ceritaku.

“Iiihhhh pappahh, tangannya nakal banget…. Suka ya? istrinya telanjang selama 2 hari”kataku manja.

Aku merasa lega karena suamiku percaya dengan ceritaku.

“Suka Banget..”kata suamiku. Dengan nakalnya dia mencubit putingku.
“Auwww….. papah…..!”aku menjerit kaget akibat cubitan suamiku.
“Heheheh…… trus gimana kalau mamah mandi? Kan pintu kamar mandinya di luar? kuli-kuli sebelah apa gak liat mama?” Suamiku terus memberondong pertanyaan dengan antusiasnya.
“Ya mamah sembunyi-sembunyi pah, takut juga kalau kepergok”jawabku hati-hati takut salah omong.
“Bahaya juga ya mah? Mereka kan tau kalau gak ada papa di rumah. Bisa nekat mereka kalau liat mamah telanjang”kata suamiku.
“Iya pah…..” jawabku

“Papa kangen banget mah….”kata suamiku sambil mulai mencumbuku. Untunglah aku habis mandi sehingga tubuhku terlihat segar dan harum.

Suamiku mulai mencium bibirku dengan sangat bernafsu. Akupun membalasnya dengan nafsu yang bergelora juga. Ku elus penis suamiku dari luar celananya. Aku sangat merindukan kehangatan suamiku.

“Oooohhhhhhhh……………….. mama kangen juga pah….”kataku sambil mendongakkan kepala dan mendesah saat suamiku mencium telinga dan leherku.

Tangan suamiku terus merabai tubuhku. Sentuhan suamiku yang penuh perasaan sayang dan cinta kurasakan berbeda dari pada sentuhan pria lain. Sentuhannya menimbulkan rasa tentram dalam hatiku.

“Oooohhhh….. papaaahhh…..ssaaayyyaaaaaannnnggg………………”desahku lagi.

Saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba suamiku menghentikan cumbuannya dan memperhatikan sesuatu di sprei ranjangku.

“APA INI….!”Teriak suamiku

Spontan aku melihat kearah yang dimaksud suamiku. Dan saat itu pula kepala terasa berputar. Tubuhku lemas sekali. Suamiku melihat bekas sperma yang telah mengering di sprei itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak tahu apa yang harus aku katakan pada suamiku? Air matakupun akhirnya keluar membasahi pipiku. Aku menangis tanpa bisa berkata apa-apa.

“Apa yang telah mama lakukan??!”kata suami dengan nada tinggi.
“Maafin mamah pah….hiks..hiks..” kataku sambil menangis
“Apa yang terjadi mah..?? kenapa Mama berbuat seperti itu?? Kata suamiku masih dengan nada marah
“Sejak kapan ini semua terjadi?? JAWAB MAH…Jangan berbohong!” Bentak suamiku

Lenganku di cengkeram erat oleh suamiku. Aku takut sekali melihat kemarahan suamiku.

“A..AA…Aawwall..nnyyyaaaa… ssssaat pp…pappaahh… akannn… dddiinaass…, P.. p.. aapppaahhh ttaauu ssseenndiirrriii, mmmmaammmaaa ppake bbaju apa?? Ssaat teemuiin mereka. Saat papah berangkat, mamah di telanjangi oleh kuli-kuli itu”aku bercerita dengan terbata-bata.
“Tttee…tteeruss…mmaama dikerjain dan disetubuhi bareng-bareng”lanjutku
“KURANG AJAR….. TERUS MAMAH DIAM AJA…? HHAAA….??” Bentak suamiku.

Saat itu tanpa sengaja aku melihat gundukan di selangkangan suamiku. Apakah suamiku terangsang mendengar ceritaku? Namun pikiran itu segera aku singkirkan

“Waktu itu Mama takut pa..”jawabku dengan kepala menunduk kebawah. Aku tidak berani menatap suamiku.
“TAKUT?? APA MEREKA MENGANCAM??”Tanya suamiku.

Aku menggelengkan kepala pelan. Tidak ada gunanya lagi berbohong dan membela diri

“TERUS KENAPA????……….”Tanya suamiku masih dengan nada tinggi.

Aku tidak tau harus menjawab apa. Aku sangat ketakutan.

“BAIK…! Sekarang jawab Papa, siapa aja yang telah menikmati mama?” Tanya suamiku
“kelima kuli bangunan sebelah pah…, te..terus…tttukang sayur keliling, dddan… 2 security perumahan pah..”jawabku.
“HAAAA……JJJAADI ADA 8 ORANG???” teriak suamiku kaget. Aku hanya bisa mengangguk.
“GILA….”teriak suamiku lagi.
“Oke, sekarang panggil mereka semua kesini..”perintah suamiku.
“CEPAAATTT…!” bentak suamiku.

Aku bergegas memanggil Pak Kardjono dan teman-temannya dan minta tolong kepada mereka untuk memanggilkan tukang sayur dan security perumahan. Aku bilang ke mereka kalau suamiku marah besar karena mengetahui apa yang telah mereka lakukan terhadapku. Kelima kuli itu Nampak ketakutan dan segera beranjak memanggil security dan mencari tukang sayur.

Setelah semua datang, mereka dikumpulkan suamiku di ruang tamu. Nampak wajah-wajah ketakutan mereka. Aku berusaha menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tanganku. Dengan berkacak pinggang suamiku marah-marah kepada mereka.

“AKU TAU APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN KEPADA ISTRIKU!”Seru suamiku kepada semua lelaki yang ada. Dia sangat marah sekali. Berbagai kata-kata kasar keluar dari mulut suamiku untuk melampiaskan kemarahannya. Dia ngomel gak karuan. Kami semua yang jadi sasaran kemarahan suamiku hanya menunduk takut.

MAU KALIAN AKU LAPORKAN KE POLISI HHAA…?”bentak suamiku.

“A..A…ampun mas… jangan mas.. kasian anak istri saya mas..”Pinta Pak Kardjono

“ENAK AJA KALIAN MINTA AMPUN..! HABIS NIKMATI ISTRI ORANG, MAUNYA AMAN-AMAN AJA GITU…???? AKU TIDAK TERIMA…! “ omel suamiku.

Sesaat kami semua hening sibuk dengan pikiran masing-masing.

KENAPA KALIAN LAKUKAN ITU??” Tanya suamiku masih dengan nada tinggi.

“Ma..Ma…maafkan ka..kami… mas….itu karena mbak Irma….cantik banget…”Jawab Jupri terbata-bata
“Ii…iya mas… selain cantik, mbak Irma juga seksi banget… kami tergila-gila ama kecantikan dan keseksian mbak Irma”Lanjut pak Kardjono dengan kepala tertunduk. Mendengar itu aku menjadi tersanjung.
“KURANG AJAR KALIAN…, KALIAN TAU KAN… DIA ITU ISTRIKU……!” kata Suamiku
“Hhhuuuhhhhh……”Suamiku menghembuskan nafasnya kuat-kuat untuk meredam emosinya.
“aku bisa saja tidak melaporkan kalian ke polisi, asal kalian menurut pada perintahku”kata suamiku dengan nada agak menurun.
“II..ii..iya mas… ka..kami siap mas….”jawab mereka antusias.

Wajah ke 8 orang itu agak berbinar-binar mendengar harapan yang disampaikan suamiku, namun aku masih masih tetap tidak berani menatap suamiku karena merasa bersalah sama dia.

“Sekarang, semua masuk kamar…!”Perintah suamiku tegas.

Aku dan semua lelaki yang ada, masuk ke dalam kamar tidur. Meskipun semua lelaki yang ada di situ sudah pernah menikmati tubuhku, tetapi rasa risih masih ada. Bagaimana tidak risih, aku satu-satunya cewek disitu dan dalam keadaan bugil tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhku tetapi aku tetap berusaha melaksanakan kemauan suamiku.

“Mama, naik ke atas ranjang..”perintah suamiku kepadaku.
“Kalian, ikat tangan istriku keatas di ujung ranjang, dan ikat kakinya di ujung yang lain… pake ikat pinggang kalian…” perintah suamiku kepada semuanya.
“Baik mas…..”Jawab mereka.
“Pa…papah…., ma..mamah mau di apain..?? ampun pah….”tanyaku kaget.

Aku sangat kaget mendengar perintah suamiku itu. Apa yang ada di pikirannya? Apa yang akan terjadi dengan diriku? Tanpa berani melawan, aku dan kedelapan lelaki tersebut segera melaksanakan perintah suamiku. Dengan pasrah akupun diikat kedua tangan dan kakiku di ujung-ujung tempat tidur sehingga membentuk huruh “X”.

jantungku berdetak kencang. Setelah terikat kencang, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhku terpampang tanpa bisa aku tutupi. Wajahku terasa seperti menebal menahan malu. Aku yakin wajahku memerah seperti udang.

“Mamah akan papah hukum karena berani mengkhianati papah..!” Jawab suamiku tegas.

“Kalian…, jilati seluruh tubuh istriku…, Semuanya…. Jangan sampai ada yang terlewati. Jangan berhenti sampai aku bilang stop… Ngerti..??”perintah suamiku kepada kedelapan lelaki tersebut.
“Siap mas…..”Jawab mereka kompak.
“Pah…jangan pah…. Ampunnnn…… mamah gak betah geli pah…. Ampunnnn pah…”aku merengek kepada suamiku supaya membatalkan perintahnya.

Suamiku tidak menggubrisku. Kedelapan orang itu segera mengelilingiku. 3 orang di sebelah kananku, 4 orang disebelah kiriku, dan 1 orang ada di bawahku diantara kedua kakiku yang mengkangkang. Jantungku berdebar-debar. Sepertinya perintah suamiku tidak bisa ditawar lagi.

Kupandangi semua lelaki yang mengelilingiku. Mereka Nampak senang dengan hukuman ini. Melihat ekspresi mereka, aku merasa menjadi sangat seksi. Sudah gilakah aku?? Kenapa aku merasa seksi dengan bertelanjang bulat di depan banyak lawan jenisku?

“Ayo mulai..!” kata suamiku.

Mereka secara bersamaan mulai menjilati seluruh tubuhku. Kedua telingaku di kulum dan dijilat-jilat membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Kedua ketiakku dan kedua payudaraku pun tidak menganggur. Mereka menjilati dan mencupanginya dengan sangat bernafsu. Vaginaku dan perutku juga mengalami nasib yang sama. Klitorisku di cucup, disedot dan digelitik dengan lidah secara terus menerus hingga terasa mengembang besar dan membuatnya menjadi sangat sensitive. Rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu membuatku menggeliat-geliat tanpa henti.

“Ach…….. paaaah……. Uuuhhhhhh……… ammpunnn…….. “teriakku kepada suamiku. Ingin aku bisa bergerak bebas supaya rasa geli ini berkurang namun apa daya, bahkan untuk menggelengkan kepalapun aku tidak bisa karena kedua telingaku menjadi sasaran birahi mereka.

Sampai beberapa menit, mereka terus menjilat sekujur tubuhku. Suamiku sama sekali tidak mau menghentikan aksi para lelaki tersebut hingga perlahan-lahan tubuhku terasa akan meledak. Sekilas kulihat suamiku ada di atas kepalaku, memperhatikanku yang sedang berteriak-teriak manahan siksaan kenikmatan ini.

“Pppaaaahhhhhhhhhhhh……………ssssuuuddaaaahhhhhh… ……….. accchhhhhh……..”teriakku

Sesaat kemudian, tubuhku menegang kuat. Pantatku terangkat. Dan akhirnya,

“Aaaaaaaaccccccccccccccccccccccchhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhh……………………………” teriakku kencang. Jjjjjrrrrreeeeeeesssssssssssssss…………………, vaginaku menyemprotkan cairan dengan kuat hingga mengenai tembok kamar. Tubuhku mengejang-kejang akibat klimaks yang aku alami.

Melihatku seperti itu, tidak lantas membuat suamiku menghentikan perintahnya sehingga kedelapan orang itu terus menggelitiki tubuhku dengan lidah dan tangan mereka. Aku betul-betul merasa tersiksa dengan hukuman ini. Siksaan birahi yang luar biasa. Tubuhku mengejang-ngejang terus tak terkontrol dan mulutku juga mendesah-desah tiada henti.

Sampai dengan beberapa orgasme yang aku alami tiada henti, baru suamiku menghentikan siksaan ini.

“Udah, stop…!”perintah suamiku.
“Kalian turun.., ganti aku dulu” kata suamiku

Mereka semua turun dari tempat tidur. Ganti suamiku yang naik keatas ranjang setelah melepas celana dan CDnya. Aku masih terengah-engah kelelahan dan melihat penis suamiku sudah ereksi maksimal.

“Pah…. Ntar dulu pah, istirahat dulu pah….”pintaku

Namun rupanya suamiku tetap tidak menggubrisku. Dia mulai memasuki tubuhku. Setelah kepala penisnya masuk, dia menusukkan penisnya dengan kekuatan penuh kedalam vaginaku. Blesss……….

“Aaaccchhhh……………………………..” aku mendesah dan sedikit berteriak sambil mendongakkan kepalaku.

Baca Juga Cerita Seks Pembantu Hyper

Vaginaku terasa ngilu sekali. Kemudian suamiku mencium bibirku dengan sangat bernafsu. Penisnya bergerak keluar masuk vaginaku dengan cepat sekali.

Tak berapa lama kemudian, aku mengalami orgasme kembali. Suamiku memberiku kesempatan menikmati orgasmeku kali ini. Setelah itu dia kembali menggenjotku dengan kecepatan penuh. Setelah 2 kali aku mengalami orgasme dengan suamiku, barulah suamiku yang mendapatkan orgasme, hampir bersamaan dengan orgasmeku yang ketiga.

Lemas sekali rasanya tubuhku ini, lututku terasa gemetaran. Setelah orgasme kami sama-sama mereda, suamiku mengeluarkan penisnya dari dalam vaginaku. Setelah itu suamiku memerintahkan kepada tukang sayur dan santo untuk melepaskan ikatanku.

“Pak, lepaskan ikatan istriku.” Perintah suamiku kepada santo dan tukang sayur.

Aku sadar kedelapan orang itu masih dalam keadaan mupeng setelah menjilati tubuhku dan melihatku bercinta dengan suamiku namun mereka tidak berani macam-macam dengan suamiku. Mereka hanya diam saja menanti perintah suamiku selanjutnya. Kulihat selangkangan mereka menonjol menandakan penis mereka sedang ereksi.

Setelah ikatanku terlepas, kedua tanganku kugunakan untuk menutupi payudara dan vaginaku. Aku tahu ini percuma tetapi lumayan untuk mengurangi rasa risih yang melandaku.

“Jadi bagaimana mas, mas gak akan melaporkan kami kan?” Tanya Pak Kardjono penuh harap.
“Baik, Kalian tidak akan aku laporkan ke polisi karena telah memperkosa istriku”kata suamiku.
“Terima kasih mas….”teriak mereka girang. Mereka sangat senang dengan pernyataan suamiku.
“Kalian tahu kenapa aku begitu marah???”Tanya suamiku
“Karena kami telah memperkosa istri mas…” jawab kasiman
“BUkan……” kata suamiku.
“Trus…..?” Tanya mereka heran.

Suamiku tersenyum, dan menjawab “Karena kalian pesta gak ngajak-ngajak aku”

“HHAAAAAHHHHHHH…………….”jawab kami semua semakin keheranan.
“Papah……” aku tidak percaya dengan ucapan suamiku sekaligus senang karena itu berarti rumah tangga kami akan baik-baik saja. Suamiku tersenyum kepada kepadaku.

Dia membelai rambutku dengan sangat mesra.

“Kalian mupeng ya..?” Tanya suamiku kepada mereka.
“Ya jelas lah mas….. siapa yang gak mupeng liat cewek cantik telanjang di depan mata kami” jawab Jupri dengan celotehannya yang kurang ajar itu. Tapi aku suka dengan celotehannya yang selalu menyanjungku. Aku menjadi tersipu malu. Suasana berubah menjadi sangat akrab.
“Oke…, kalian aku ijinkan untuk menggarap istriku lagi” kata suamiku dengan bangga
“Papah….!”kataku manja.
“Yeahhhhhh………” teriak mereka hamper bersamaan. Dan segera beranjak hendak mendekati diriku.
“Eeeiiitttssss……., tunggu dulu. Siapkan makan siang dulu untuk kita semua, baru permainan dimulai. Hehehe….” Kata suamiku membuat mereka sedikit kecewa.

Mereka segera beranjak memasak makanan buat kami semua. Sementara mereka memasak, aku dan suamiku bercengkrama didalam kamar.

“Apaan sih papah….. aku bakal jadi korban lagi deh…”kataku manja disertai cubitan yang mendarat diperut suamiku.
“Korban enak ya..???”goda suamiku
“IIiiiiihhhhh….. awas ya… ini semua gara-gara papah…”kataku
“Lo, kok bisa….??”Tanya suamiku
“Iya, gara-gara papah nyuruh mamah pamer tubuh ke orang-orang itu, jadi keblabasan kan…. Gitu aja pake marah-marah nyalahin mama…” kataku dengan wajah yang aku buat cemberut dan memonyongkan mulutku.
“Tapi mamah suka kan….?”goda suamiku lagi
“Iiiihhhhh…………… papah…… mesti gitu….”kataku sambil memukul-mukul pundaknya. Suamiku tampak gemas sekali melihatku manja-manja.
“Makanan siap……”teriak tukang sayur

Kamipun makan bersama di ruang tamu sambil bercanda ria. Sambil makan, aku digoda habis-habisan oleh suamiku dan gengnya membuat wajahku merah merona. Sesekali tangan suamiku dicolekkan ke putingku membuat yang lainnya juga ikut-ikutan. Bahkan ada yang mencolek klitorisku saat aku sedang mengambil minum yang letaknya agak jauh dariku sehingga saat mengambil minum aku harus menungging. Minuman yang aku ambil saat itu langsung tumpah karena aku kaget sekali.

“Oke mas, makanan sudah habis nih…”kata Jupri kepada suamiku.
“Terus…..???” Tanya suamiku
“katanya……, hehehehe……”Kata jupri cengengesan.
“Tunggu apa lagi? Ayo diserbu…….”kata suamiku.
“Eh…eh… mau apa kalian??? Eh…….”kataku.

akupun berlari menuju kamar menghindari mereka. Mereka mengejarku dan berhasil menangkapku. Setelah itu aku kembali dikerjain berramai-ramai oleh mereka. Kali ini aku menikmatinya tanpa beban.

“Aauucchhhh……………… aaahhhhh………….aaahhhhh…….” desahku.

Aku mengalami orgasme berulang-ulang. Suamiku tampak yang paling buas diantara mereka yang sudah buas. Seluruh lubang yang ada di tubuhku selalu terisi oleh penis-penis mereka. 9 orang lelaki perkasa mengeroyokku tanpa henti. Cairan orgasmeku berkali-kali menyemprot keluar. Tenagaku terkuras habis saat orgasme berkali-kali hinga akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Begitulah akhirnya, gara-gara awalnya ingin eksib, akhirnya aku menjadi sasaran kebuasan birahi suamiku dan orang-orang pekerja kasar. Namun anehnya, aku sangat menyukainya. Apakah aku menjadi binal?? Demikian akhir dari ceritaku ini. Nantikan ceritaku yang lain, yang masih ada hubungannya dengan kelanjutan cerita ini. Semoga dapat menghibur suhu-suhu sekalian.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Kisah Seks, Cerita Porno.

Silahkan hubungi Sintia, boleh di mainin sesuka hati asalkan abang baca cerita di cerita sex terbaru . Cerita-Cerita sex di sini ada beberapa adalah cerita sex terbaru yang saya alami sendiri pribadi lho mas, coba tebak cerita yang mana?