Bosku

Cerita Sex Terbaru | Bos ku seorang wanita karir yang sukses merawat bisnis sekaligus merawat tubuhnya. Tak mengherankan bila
aku, dan mungkin juga karyawan lain sekantorku, kerap membayangkan ngesex dengan dia. Setiap membayangkan
tubuhnya yang tinggi semampai, dengan lekuk-lekuk tubuh yang elok, serta kulitnya yang putih mulus,
timbul keinginanku untuk mengocok-ngocok penisku. Sayangnya, keinginan itu tak bisa kulampiaskan
mengingat tidak memungkinkannya hal itu dilakukan di lingkungan kantor.

Cerita Sex Terbaru Bosku

Suatu sore Bsoku, bu winda, memanggilku.

“Iwan, kamu kesini ya sebentar,” panggilnya lewat telpon.

Deg,degan betul rasanya. Jarang-jarang banget bos ku memanggilku ke ruang kerjanya. Paling-paling kami
hanya bersapa saat berpapasan, atau kalau sedang meeting rutin di awal bulan. Jantungku pun berdegup
kencang.

Tok tok tok..aku mengetuk pintu sebelum memasuki ruang kerjanya yang dilengkapi sofa, berlapiskan karpet,
dan dihiasi lukisan-lukisan koleksi pribadinya.

“Kinerjamu belakangan ini saya lihat agak merosot. Ada persoalan apa dengan kamu?” ujar Bu Winda membuka
percakapan.
“Hmmm…akan saya perbaiki bu. Belakangan ini memang saya mengalami imsomnia (sulit tidur -red) bu..
Eee….,” jawabku sekenanya.

Ingin sekali aku bilang aku mengalami imsomnia karena kebanyakan mengkhayal bercinta dengannya. Tapi, aku
tak beranilah bilang begitu.

“Kenapa? apakah beban kerja yang diberikan perusahaan terlalu berat, sampai kamu jadi susah tidur?”
lanjut Bu Winda, sembari menatap mataku dalam-dalam.

Aku membalas tatapan matanya. Ah, rasanya ingin sekali ku katakan yang sejujurnya tentang hasrat birahiku
yang terpendam padanya.

“Ti..ti..dak, bu. Masalahnya karena aku kurang bisa mengatur waktu saja. Belakangan ini aku memang sedang
memikirkan soal keluarga,” jawabku sekenanya.
“Ooo begitu. Ya sudah kalau itu masalahnya. Begini saja, kau ungkapkan saja apa itu masalah keluargamu.
Mungkin saya bisa membantu,” lanjutnya.
“Terima kasih bu. Ibu baik sekali. Tapi, saya masih bisa mengatasinya kok,” ungkapku, sembari melayangkan
pandangan penuh arti ke arahnya.

Sejak aku masuk ke ruangannya, memang batang kemaluanku seperti tak kuasa menahan gejolak birahi. Aroma
parfum Bu Winda, dan penampilannya yang modis membuatku cepat ereksi di hadapannya.

Bu Winda adalah seorang ibu dari 2 orang anak yang masih SD. Suaminya seorang kurator seni, dan beberapa
kali menjemput Bu Winda di kantor. Bu Winda sangat pelit dalam berbicara, hanya seperlunya saja dia
berbicara dengan kami. Selebihnya dia lebih banyak berbicara dengan relasi perusahaan, dan bergabung
dengan komunitas wanita-wanita karir di Ibukota ini.

Kunjungi Juga CeritaSexDewasa.Org

Hari demi hari kubayangkan diriku bersama bos di ruangannya bertelanjang ria, dan saling berbagi
kenikmatan seks. Khayalan itu jelas sebuah angan-angan yang tak mungkin, mengingat aku dan bos ku berbeda
kasta serta rupa. Akhirnya, khayalan dan fantasiku terhadap bu Winda membawaku pada sebuah pelampiasan
untuk berpetualangcinta di tempat-tempat hiburan malam, dari diskotik hingga karaoke dan spa. Gajiku pun
tak pernah tersisa, meskipun aku sudah bekerja ekstra untuk mencari penghasilan tambahan. Setiap bulan
pasti uangku habis untuk membiayai penyaluran seks yang tersumbat itu. Uangku habis untuk bersenang-
senang bersama para clubber yang sama-sama dahaga akan seks dan seks.

Pada suatu petang, saat partner kerja satu ruangan denganku absen sakit, telpon berdering di mejaku.
Suara di ujung sana suara perempuan dengan nada yang agak serak-serak basah.

“Ooo, maaf salah sambung,” kata perempuan itu, begitu kusebut aku bukanlah Indra, partner kerjaku itu.
“Apa ada pesan, biar nanti saya sampaikan kepada Indra?”

Perempuan di ujung telpon terdengar agak ragu beberapa saat, sebelum mengatakan sesuatu. Sudah itu dia
tak menutup pembicaraan, akan tetapi mengajaku berkenalan.

Singkat cerita, hampir setiap hari perempuan yang mengaku bernama Intan ini menelpon aku. “Suara kamu
enak,” begitu selalu dia berargumen saat kutanya apa tak bosan berbicara di telpon saja denganku.
Maksudku, kenapa gak kopi darat saja.

Perbincangan kami beragam. Mulai dari urusan kantor, gosip-gosip infotainment, hingga masalah rumah
tangga diutarakan oleh perempuan yang membuatku penasaran. Bahkan, kadang dengan genitnya dia sering
merayuku seperti seorang gadis pemandu telpon seks pulsa premium itu.

“Nanti juga ada saat nya kamu tahu aku . Sekarang belum saatnya, karena aku berada di luar Jakarta, ”
begitu selalu dia beralasan.

Tapi aku tak berputus asa untuk bisa copy darat dengannya. Hingga akhirnya, setelah kami menjadi sangat
akrab, bisa bercanda, marah-marah, tertawa-tawa di telpon selayaknya seorang teman tapi mesra, barulah
dia bersedia bertemu denganku.

“Kamu ngantornya dimana, Wan? Biarlah aku yang datang ke kantormu. Bagaimana?”

Wah sebuah tawaran yang tak bisa ditolak dengan jawaban

“deal or no deal” ujarku.
“YA, aku bersedia dong. Tapi kalau bosku datang, aku gak enak. Jadi, sebaiknya kamu datang selepas jam
kantor ya? Jam 5.30 saja. Oke,dear?”

Intan setuju. Sore itu aku menunggunya. Ketika jam sudah menunjukkan hampir ke pukul 5.30, suasana kantor
sudah sepi. Aku telah merancang sebuah taktik jitu untuk bisa melakukan kencan pertama yang dahsyat
dengan perempuan yang kukenal lewat telpon itu. Sebotol anggur merah kusiapkan di laci, lengkap dengan
gelasnya, untuk menyambut Intan.

Saat ku menunggu, tiba-tiba bosku kembali ke kantor.Cerita Sex Terbaru

“Belum pulang, Wan?” bu Winda bertanya kepadaku, sembari berjalan menuju ruangannya. Dia seksi sekali
sore itu, dengan gaun serba putih dilengkapi dengan kain tenun melingkar di lehernya.

Aku beralasan sekenanya. “Masih males bu, macet sekali di luar. “

“Nunggu macet, apa macet neh,” balas bosku dengan suara agak menggoda. Nah, lho. Kok bisa bosku begitu?”
gumamku.

Bu Winda lantas masuk ke dalam ruangannya. Kemudian dia menutup pintu. Aroma parfum dan senyumnya
tertanggal dalam lamunanku. Menunggu adalah kegiatan yg menjemukan. Ya, menjemukan menunggu Intan.
Beberapa saat kutunggu, dia tak juga datang.

Telpon kemudian berdering.

“Sorry Wan, aku terjebak macet neh. Tapi sudah dekat neh dengan kantormu,” ujar perempuan itu.

Dalam keadaan setengah kesal setengah konak (membayangkan berduaan dengan si bos ) aku menjawab seenakku.
Tak lama telpon berdering lagi.

“Wan, aku gak jadi ke tempat kamu. Bagaimana kalo kamu saja yang ke tempat ku. Gak jauh kok,” ujar wanita
itu.
“Dimana?”
“Disini.”
“Disini tuh mana?”
“Di dalam ruanganku.”
“Apa?” aku langsung lemas mendengarnya. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, sebetulnya Intan yang kukenal
hanya dalam telpon saja ini adalah siapa??? Dan siapa lagi yang masih ada di sini, ya aku dan Bu Winda.

Tiba-tiba Bu Winda membuyarkan pikiranku.

“Iwan, kamu mau ketemuan dengan Intan kan? Tuh Intannya sudah di ruanganku,” ujar bos ku dengan suara
yang manja, seperti suara Intan.

Perasaanku semakin berkecamuk gak karu-karuan. Inikah yang namanya mendapat durian runtuh? Ataukah ini
awal sebuah musibah, karena selama ini di telpon aku berbicara seenak birahi ku terhadap Bu Winda?

“Bagaimana Wan, masih imsomnia?” Bu Winda tampak berusaha memecahkan kebekuan.
“Hehh..udah agak mendingan bu.”
“Rileks saja ya. Sori ya selama ini ngerjain kamu. Aku sebetulnya ingin sekali membantu kamu membebaskan
dirimu dari pikiran-pikiran yang membuatmu susah tidur. Yah, inilah yang aku bisa lakukan Wan,” lanjut
bosku.

Perkataannya itu membuatku rileks. Kucoba untuk melupakan dirinya sebagai Bu Winda yang bosku, dan aku
mulai memainkan pikiranku bahwa dirinya adalah Intan yang selama ini menelpon dengan suara-suara
manjanya, suara manja seorang wanita separuh baya.

“Wan, aku minta pendapatmu neh, gimana sih orang melihat penampilanku selama ini. Kan aku sudah tidak
muda lagi. Anak sudah dua, kulit sudah mulai keriput, tapi aku harus selalu tampil maksimal dalam
pergaualan bisnisku.”

Aku ragu-ragu untuk mengungkapkan apa yang selama ini kupikirkan tentang dirinya. Teringat aku pada
sebotol wine yang kusiapkan untuk menyambut ‘Intan’, lalu kuberanjak dari sofa di ruangan bosku yang
seksi ini untuk mengambil wine yg kusimpan di laci mejaku.

Begitu kembali lagi ke dalam ruangan bu Winda, betapa terkejutnya aku. Dia sudah menanggalkan blazernya,
dan sepatunya pun dilepas. Dia bertelanjang kaki. Terlihat jari-jemari kakinya yang lentik dan kulitnya
yang halus seputih susu. Gemerincing gelang emas di kakinya membuat sensualitasnya semakin bersinar.Cerita Sex Terbaru

Anjrittt..bro, perasaan gw bener-bener gak bisa diungkapkan, melebihi nikmatnya dipromosikan jabatan,
atau naik gaji rasanya, mendapat pengalaman ini. Segelas wine di sore yang indah itu membuat aku bener2
nyaman, begitu pun bu Winda.

Dari bahasa tubuhnya selama kami berbicara, aku tak lagi merasakan hubungan bos dan bawahan kepadanya.
Tetapi, aku merasa bahwa kami sepasang anak manusia yang sama-sama sedang butuh sesuatu.

“Wan, kamu masih muda, pintar, dan layak mendapatkan wanita cantik di sisimu,” kata Winda sembari
menyilangkan kaki, menampakkan keindahan tungkai kaki dan betis serta jari-jemarinya.

Aku pun menyorongkan posisi dudukku agak menyerong di sofa ruang kerjanya itu. Posisi kami semakin rapat,
dan aroma tubuhnya kian merangsangku untuk segera beraksi. Winda tak lepas menatapku, dari ujung rambut
hingga ke arah kemaluanku. Sorot matanya seakan magnet yang menarik-narik batang kemaluanku agar segera
mendapatinya.

Anggur merah yang kami reguk jujur saja berperan besar menggerakkan birahi kami. Kudekati wajahnya,
kuelus-elus dagunya. Jari jemariku merasakan kehangatan kulitnya, bibirnya, lehernya. Lalu, bibirku
langsung mendarat tepat di bibir Bu Winda.

Kami berciuman dengan lembut. Lalu ciuman-ciuman itu berubah menjadi pagutan. Lidahnya menjalar di dalam
mulutku, membalas ciumanku. Ahhhh….hmmmm…..Lalu posisi kami sudah semakin rapat. Kubaringkan bos ku di
sofa itu, kutindih dan kuciumi lehernya, kupingnya, dadanya.

Ciuman-ciuman itu menjadi semakin dijalari syahwat birahi. Kulepaskan kancing bajunya dengan kasar.
Dengan bra hitam, tampak mulus betul kulit tubuh bu Winda. Sembari menjilati sekujur buah dadanya,
selangkangan kami saling menempel. Bu Winda menggesek-gesekan vaginanya yang masih terbungkus celana
panjang kulot warna putih ke batang kon***ku yg sudah mengeras.

Gesekan-gesekan itu semakin melambungkan perasaan kami berdua. Sorot mata Bu Winda sudah meredup tanda
dia sudah dikuasai birahi.

“Mainkan sesukamu sayang. Aku menginginkan kamu Wan.”

Ku pelorotkan celananya, hingga terlihat jelas bulu-bulu jembutnya yang tertata rapih. Bu Winda
melebarkan pahanya, hingga aku pun langsung melahap habis vaginanya.

“Ahhhh….ohhh,..enakk sayang.. Ohhhh….ahhhh..uhhh…oohhh….

Klitorisnya kumainkan. Kujilati dan kusedot kuat-kuat. Ohhhhhhh……arghhhh….Wannnn….kamuuu hebat sayangg…
yess….urghhhh…ohh,….

Permainana lidahku berpiindah ke kakinya yang indah. Kujilati jari-jemarinya, kusapu setiap jengkal
kulitnya dengan lidahku. Bu Winda merem melek keenakan, sementara batang kemaluanku sudah sangat keras
terasa.

Ohhh..arghhh…….lalu dengan bringas Bu Winda meraih batang kemaluanku, dan digosok-gosokkan ******ku ke
lubang memeknya. Ohhh…punyamu besar sekali sayang…ayo puaskan aku sekarang…ahhh..aku gak tahan….ahhhh….

Baca JUga Cerita Seks SPG Cantik

Bu Winda meracau tak karuan, membuat suasana semakin liar. Celana dalamnya, beha, pakaian, celana
dalamku, dan pakaiankan berserakan di atas karpet. Desahan dan racauan Bu Winda membuat aku semakin
birahi. Dia menatapku dengan penuh pengharapan untuk segera dientot.

Kumasukkan batang kemaluanku pelan-pelan, lalu dengan gerakan naik turun ku genjot lubang kemaluannya
yang sudah basah ini. Bunyi keciprak kecipruk terdengar. Plooohh…plohhh..urghhh…..hmmm….yess…..arhhhh…
ooo…. arghh…hmmmmm…

Digigit-gigitnya telingaku, bibirku, leherku, sementara tangannya meremas-remas punggung dan pinggulku.
Dalam posi atas bawah, standar, kami me*******. Kuentoti liang vagina bos ku yang selama ini kukagumi dan
kusegani. Akhirnya, datang juga kenikmatan yang sudah lama kubayangkan dalam angan-angan. Banyak dari
kita kerap menganggap sesuatu yang kita khayalkan itu serba tidak mungkin terjadi. Tapi, bro, janganlah
selalu pesimis begitu memandang khayalanmu. Aku buktikan sendiri, aku bisa mewujudkan impianku untuk
me*******i bos ku sepuas-puasnya.

Kami melanjutkan permaianan hingga larut malam. Pintu kantor telah kami kunci dari dalam. Lampu-lampu
kami padamkan, sebagian, dan sebagiannya lagi kami nyalakan dengan sinar temaram. Keentot Bu Winda di
ruangan kerjanya, lalu kami pindah ke ruang kerjaku, ke pantry, ke ruang IT, ke meja rapat, bahkan hingga
di lift pun aku masih sempat menancapkan batang ******ku di bongkahan vagina wanita separuh baya yang
selama ini menjadi obyek khayalanku di kamar mandi.

Sejak hari itu, aku dan Bu Winda menjadi lebih sering lembur di kantor. Tak satupun karyawan curiga pada
kami, sebab mereka semua tahu bahwa kami adalah turunan workaholic. Andai saja mereka tahu, sebetulnya
kami ini adalah fuckaholic!.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru.

Silahkan hubungi Sintia, boleh di mainin sesuka hati asalkan abang baca cerita di cerita sex terbaru . Cerita-Cerita sex di sini ada beberapa adalah cerita sex terbaru yang saya alami sendiri pribadi lho mas, coba tebak cerita yang mana?