Memotivasi Anak 2

Cerita Sex Terbaru | Diana masih tak percaya dia orgasme di depan mata anaknya sendiri. Lupakan tujuh tahun tak terjamah,
tahun ini mesti beda. Diana senang anaknya akan keluar main. Tak mengejutkan, semenjak Diana tak lagi
berpakaian, anaknya selalu di dekatnya. Kini Diana lega anaknya akan keluar hingga bisa membuat Diana
menghabiskan waktu sendiri.

Cerita Sex Terbaru Memotivasi Anak

Saat sedang mencuci piring, Diana mendengar suara pintu ditutup. Diana tak tahu kapan anaknya pulang maka
dari itu Diana memutuskan untuk mengefektifkan waktu. Langsung Diana menyelesaikan pekerjaannya dan
bergegas ke kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar Diana mengambil dildo di laci. Dulu Diana beberapa kali memakainya saat
bersama suaminya. Namun semenjak kematian suaminya, gairah seksualnya seolah ikut mati.

Diana merebahkan diri sambil memegang vibrator. Jempolnya pun menekan tombol saklar, namun tiada yang
terjadi. Pasti batrenya mati, pikir Diana. Untungnya Diana selalu beli batre buat anaknya.
Diana mencoba membuka penutup batre sambil berjalan ke kamar anaknya. Diana pun memutar gagang pintu
hingga pintu kamar anaknya terbuka.

Diana pun melangkah masuk mendapati anaknya sedang berbaring, celana ada di lututnya dan tangan ada di
penisnya yang tegang.

Diana meminta maaf, berbalik lalu keluar dan menutup pintu kamar anaknya. Diana kembali ke kamarnya
sendiri dengan jantung yang berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang. Diana tak bisa
menyingkirkan penis anaknya dari pikirannya.

Kira – kira seperempat jam kemudian setelah hatinya tenang, Diana kembali kembali mengetuk kamar anaknya.
Setelah suara anaknya berkata masuk, Diana pun masuk. Diana melihat anaknya sedang duduk di depan
monitor. Diana pun duduk di kasur bersebelahan dengan kursi yang diduduki anaknya.

“Maafkan mama nak. Mama kira kamu keluar main.”
“Gak jadi mah. Tadi temen bilang ada urusan.”
“Mama gak tahu sih.”
“Iya. Lagian mama ada perlu apa sih?”
“Mama butuh batre.”
“Mama lagi megang apaan tadi?”

Diana merasa malu,

“mainan dewasa yang kehabisan batre.”

Akhrinya Dana berbalik. Meski masih merasa malu namun Dana tersenyum jua.

“Mama bercanda ah.”
“Gak juga. Mama buru – buru, karena, ingin cepet selesai, sebelum kamu pulang,” Diana bisa merasakan
wajahnya memerah.
“Jadi mama mau ngelakuin, ehm, yang mama liat Dana lakuin?”
“Kira – kira.”

Kunjungi Juga CeritaSexDewasa.Org

Ibu dan anak itu pun saling tatap, lalu keduanya tertawa.

“Maafin mama ya nak,” kata Diana sambil menyeka matanya.
“Iya mah, lagian mama gak salah kok.”
“Mama boleh nanya gak?”
“Ya.”
“Apa kamu sering ngelakuin itu?”

Diana merasa malu melihat anaknya yang terlihat malu.

“Sekarang sih jadi sering setelah mama telanjang terus.”
“Serius dong. Mama tau mama gak jelek – jelek amat tapi, mama kan udah tua. Terus mama juga ibumu.”
“Dana serius kok mah, mama masih cantik.”
“Gombal. Tiap lelaki pasti ngomongnya gitu. Tapi mama seneng masih bisa meng’inspirasi’ anak muda kayak
kamu.”

Gambaran Dana memegang kemaluannya muncul lagi di kepala Diana.
Diana pun bangkit, “sekali lagi maafin mama yah.” Setelah itu Diana berbalik menuju pintu.

“Tunggu mah!”

Diana kembali berbalik melihat anaknya membuka laci meja.

“Mama butuh batre apa?”
“Dua batre remot.”

Dana pun menyerahkan batre ke mamanya.

“Mama jangan marah ya, tapi apa boleh kapan – kapan Dana nonton mama?”

Diana menatap anaknya sambil memainkan batre di tangannya. Diana mulai sedikit khawatir akan hal ini.

“Gak tahu. Mama mesti pikirkan dulu, tapi tenang saja mama gak marah kok. Asal kamu jujur dan terbuka
sama mama.”

Diana menghampiri anaknya lalu mencium pipi anaknya. Setelah itu Diana keluar kamar namun saat akan
menutup pintu anaknya bilang agar biarkan saja terbuka.

Diana melangkah ke kamarnya lalu masuk dan membiarkan pintu terbuka. Diana pun duduk di kasur lalu
memasang batre dildo.

Kini, rasanya masturbasi membuat Diana gugup. Padahal ini bukanlah kali yang pertama. Diana juga merasa
bangga bisa menahan diri untuk tidak masturbasi hingga sekarang padahal cukup lama dia telanjang di depan
lelaki. Mungkin jika dia dan anaknya menahan diri untuk tak masturbasi keadaan akan baik – baik saja.

Namun, tanpa mereka sadari, kejadian ini merupakan awal dari kaburnya batas – batasan yang telah
disepakati. Entah sampai kapan hingga salah satunya mulai tak bisa menahan diri.

Sejauh ini tak ada kejadian yang menkhawatirkan. Bahkan kebiasaan buruk Dana mulai menghilang, Dana mulai
belajar bertanggung – jawab.

Diana mulai menyalakan vibrator dan melihatnya sebentar. Setelah itu Diana mematikan vibrator dan
meletakkan di pangkuannya. Diana tiba – tiba teringat permintaan anaknya.

“Dana, sini nak!” suara Diana agak keras.

Dana memasuki kamar mamanya, “ada apa mah?”

“Gini aja. Tadi mama gak sengaja liat kamu, biar adil mama izinin sekarang kamu liat mama.” Diana
mengangkat vibratornya lalu menunjukkannya ke anaknya, “tapi ingat, jangan sentuh apa – apa.”
“Kok mama punya yang gituan sih?”
“Oh, dulu saat mama lagi liat film sama papamu, ada adegan satu wanita main dengan dua pria. Mama iseng
bilang ingin nyobain kayak gitu, eh esoknya papamu kasih mama hadian ini.”
“Kayaknya mama dan papa harmonis bener yah?”
“Udahlah nak, jangan bicarain papamu lagi. Sekarang mending kamu duduk aja.”

Dana pun duduk di sisi kasur sedang mamanya berbaring di tengah.

“Papamu beberapa kali nonton mama gini kayak kamu, dulu.”

Diana menatap anaknya yang sedang membasahi bibir dengan lidahnya. Diana menarik nafas dalam – dalam,
santai lalu melebarkan kakinya. Diana mendekatkan dildo ke mulutnya. Anaknya mengamati dengan seksama.

“Jangan pernah gunain ini jika masih kering, harus dibasahi dulu.”

Dana mengangguk saat melihat mamanya menempatkan dildo di mulutnya. Dana merasakan kedutan di celananya.
Diana mulai mengulum dildo di mulutnya dengan pelan. Setelah dirasa agak basah, Diana melepas dan mulai
menyalakan vibrator. Dana dapat mendengar dengungannya. Diana mulai menyentuhkan vibrator melingkari
payudaranya hingga puting. Sedangkan tangan satunya lagi mengelus selangkangannya sendiri.Cerita Sex Terbaru

Erangan Diana mulai terdengar disertai turunnya vibrator dari payudara ke perut, lalu ke sekitar
jembutnya. Sementara tangan yang satunya sibuk keluar masuk di selangkangannya. Diana lalu mencabut
jemarinya yang kini basah dan menghisap dengan mulutnya.

Diana menoleh melihat anaknya yang menatap dildo. Diana tetap melihat anaknya saat tangannya yang satu
mulai memainkan payudaranya. Kini Diana berusaha memasukan dildo ke memeknya yang makin basah. Nafasnya
mulai terengah – engah.

Diana mengangkat dadanya dan melepaskan tangan dari payudaranya. Kini tangan yang bebas mulai menyentuh
pinggulnya dari belakang. Kini jempol Diana menekan anusnya sendiri. Rupanya jempol itu berusaha memasuki
anus. Erangan Diana makin terdengar keras.

Diana berusaha menekan dildonya sedalam mungkin seiring dengan usaha jempol di anusnya.

“Oh, nak….!”

Diana pun mengejang membuat kasurnya gemetas untuk sesaat. Perlahan, Diana kembali bergerak lalu
mengeluarkan dildo dan jempol dari selangkangannya. Diana pun berbaring sambil terengah – engah. Anaknya
melihat tubuhnya yang penuh peluh.

Diana menyeka dahi dengan tangannya. Rambutnya penuh keringat hingga lengket. Sementara dildo lepas dari
tangnnya meski masih bergetar.

“Oh tuhan,” Diana tersenyum sambil menatap anaknya. “Bagaimana?”
“Luar biasa mah!”
“Itu yang kamu inginkan kan?”
“Ya, tapi kayaknya mama ingin pantat mama juga dijamah yah?”

Diana memerah memikirkan apa yang baru saja anaknya saksikan.

“Harus dilakukan dengan benar nak, karena sangat sensitif. Papamu kadang melakukannya, tapi dia bisa
berhati – hati.”

Diana lalu berbaring menghadap anaknya.

“Udah impas kan?”
“Iya. Tapi tetep Dana ingin mama ketuk dulu kalau mau masuk kamar.”

Dana mulai tak nyaman dengan rasa sesak di celananya. Dana lalu bangkit.

“Kalau kamu mau, mama bisa sangat menginspirasi. Tinggal ngomong saja sama mama.”

Diana tersenyum mendengar erangan anaknya sambil menutup pintu kamarnya. Diana lalu melangkah ke kamar
mandi sambil melihat vibrator basah menggeliat di kasurnya. Diana berpikir dia harus mulai menyetok batre
di kamarnya sendiri. Tapi mungkin lebih baik mengambilnya dari kamar anaknya saja.

“Apa kabarnya anak mama yang selalu terangsang ini?”

Diana muncul lalu menempelkan tubuh ke punggung anaknya karena mau mengambil makanan di lemari. Putingnya
serasa menggelitiki punggung.

“Ya makin terangsang karena mama nih.”

Diana menatap payudaranya yang menekan punggung anaknya.

“Maaf, abisnya mau ambil makanan sih.”

Diana mundur membuat tubuhnya tak lagi menempel. Dana berbalik dan matanya menatap puting mamanya yang
keras.

“Masih pagi gini kok udah keras sih mah?”
“Abis pake handuk sih, jadi gini nih,” kata Diana sambil mengelus puting dengan telapak tangannya.
“Ceria bener pagi ini mah.”
“Iya dong. Kan biar semangat.”
“Mau ngapain aja mah hari ini?”
“Gak tau. Kamu maunya mama ngapain aja?” tanya Diana sambil menggoyangkan bahunya. Otomatis payudaranya
pun ikut bergoyang.
“Gimana bisa mikir kalau perut kosong mah.”
“Ya udah. Mama bikin panekuk aja ah. Biar bikinnya sambil goyang.”

Dana duduk lalu tertawa,

“goyang sambil bugil.”

Diana lalu membungkuk untuk mengambil wajan dari bawah lemari sambil menggoyangkan pantatnya, “goyang
wajan nih.”
Bebepara saat kemudian setelah panekuk matang, keduanya pun sarapan.

“Apa anak perkasa ini mau menolong mamanya yang udah tua dan telanjang?”
“Siap. Mama kan tau caranya memotivasi tanpa busana.”

Dana tersenyum melihat mamanya tertawa.

“Apa mama juga suka telanjang di depan papa?”
“Gak juga. Tapi sehabis ngelakuin sesuatu, kayak ngebikin kamu, kadang mama telanjang sampai sore atau
malam.”
“Mama dan papa aneh juga ya?”
“Mama saling mencintai. Jadi mama dan papa hanya bersenang – senang saja. Lagian meski tua, namun tak
mesti berpikiran kolot.”
“Jadi menurut mama, anal seks, masturbasi dan bicarain trisom, normal gitu?”

Diana menunjuk ke anaknya,

“Hei, trisom hanyalah fantasi. Lagian bukan salah mama kalau papamu suka pantat. Urusan ranjang mama juga
gak perlu jadi urusanmu. Wew,” Diana lalu menjulurkan lidah ke anaknya.

Dana mengangkat alis mendengar pengakuan baru mamanya.

“Dana tahu cara ngabisin waktu hari ini mah.”
“Oh ya, ngapain tuh.”
“Tapi, mama jangan marah ya…”Cerita Sex Terbaru

Diana memotong ucapan anaknya, “akhir – akhir ini kamu doyan bener bener bilang gitu?”

“Abisnya, mama telanjang sih. Bukan salah Dana kalau terangsang.”
“Iya. Jadi apa yang mau kamu katakan?”
“Yah. Pokoknya gak kan melewati batas kok.”
“Baik. Kalau gak ngelanggar aturan sih mama gak keberatan kok.
“Janji ya mama takkan marah. Meski Dana selalu terangsang, tapi Dana selalu nurut. Hanya saja kini Dana
makin penasaran.”
“Terus.”
“Dana,” mata Dana kini menatap meja, “ingin lihat seperti apa sih anal seks itu.”
“Apa? Kamu ingin mama bawa pulang pria lalu memberi pantat mama cuma – cuma demi memenuhi rasa ingin
tahu kamu?”
“Bukan begitu mah. Tapi pake mainan mama.”
“Pake itu? Sambil ditonton kamu? Kenapa gak cari tahu di internet saja?”
“Internet? Itu sih palsu mah.”
“Mama tak percaya kamu ingin nonton mama pake dildo di pantat mama sendiri.”
“Juga sambil Dana fotoin yah mah.”

Diana terkejut mendengarnya.

“Mama kan udah pernah sama papa. Lagian Dana gak bakal pegang – pegang kok, jadi jangan marahi Dana
dong.”

Diana menggeleng,

“Mama kayaknya ngelahirin maniak. Biar mama pikirkan dulu. Memang itu tak melanggar aturan kita, namun
kayaknya terlalu jauh melangkah. Kalau mama menolak apa kamu jadi gak mau bantuin mama?”

Dana memutuskan saatnya untuk pergi dari dapur.

“Tentu tidak mah. Meski mama menolak Dana tetap akan membantu kok. Panggil saja kalau ada yang harus
dikerjain mah. Cuma tadinya Dana takut mama marah.”

Dana pun bangkit lalu menuju ke kamarnya untuk main komputer.

Di dapur, Diana beres – beres. Lagi, perutnya kembali dilanda mules. Setelah beres, Diana ke kamarnya
lalu duduk di kasur sambil berpikir. Memainkan dildo ke pantat tak bisa disebut normal jika dilakukan di
depan anak sendiri. Apalagi sambil di foto. Diana tak terlalu mengkhawatirkan hasil fotonya. Setelah
melihat betapa anaknya menjadi termotivasi dan penurut membuat Diana percaya padanya. Permintaan anaknya
sangatlah liar meski tanpa sentuhan.

Diana tak ingin membuat anaknya marah. Jadi sepertinya tak berbahaya asal masih dalam aturan. Apalagi dia
telah masturbasi dua kali. Bahkan menyentuhkan jemari di anus. Tak heran anaknya jadi penasaran soal anal
seks. Diana kembali teringat saat mengambil wajan sambil menggoyangkan pantat. Diana berpikir mungkin
anaknya seperti suaminya.
Diana teringat per – anal – an dengan suaminya. Diana juga ingat betapa nikmatnya orgasme yang dirasakan
saat masturbasi sambil ditonton anaknya. Diana jadi merasa bersalah menyebut anaknya saat orgasme, bukan
menyebut suaminya.

Tak pernah terpikirkan oleh Diana untuk menggantikan suaminya dengan anaknya. Namun, Diana akui
ketegangan seksual di rumahnya makin meningkat setelah Diana memutuskan telanjang. Diana kembali
memikirkan saat – saat bahagia dengan suaminya. Begitu indah, liar dan nikmat. Kini, semuanya telah
hilang.

Suaminya kurang suka diajak belanja. Jadi, untuk memotivasi suaminya, Diana membuat sebuah permainan
kecil. Jika sedang belanja, suaminya menantang dia untuk melakukan lima hal, jika ada satu yang tak
dipenuhi maka Diana kalah. Pun sebaliknya. Hadiahnya, ya seks.

“Dingin bener nih kulkasnya. Biar agak angetan dikit, taruh bh mama di kulkas,” suaminya menyeringai
sambil menunjuk

kulkas yang ada di supermarket. Diana pun melepas kaitan bh, menarik tali dari lubang lengan bajunya
hingga lepas. Kemudian menaruh bhnya ke kulkas.

“Papa hutang bh baru,” Diana pun berbalik dan melangkah.
“Di bagian roti kok gerah bener yah. Buka aja cdnya di sini mah.”

Diana berhenti lalu menoleh ke suaminya, “Itu ngomong doang atau tantangan pah?”

“Kamu takut ada yang liat? Itu tantangan mah.”

Diana menatap suaminya sambil menyeringai. Diana melangkah ke sudut bagian roti, mengangkat roknya,
menggoyangkan pantat, menurunkan cd lalu mengangkat kaki untuk melepasnya.Cerita Sex Terbaru

David menoleh mendengar suara wanita tua yang menggerutu kepada pria tua yang menatap Diana. David ingin
Diana menyadari kehadiran pasangan tua itu, maka David menunjuknya. Diana tertawa menyadari apa yang
David tunjuk.
Diana tersenyum sambil mengelus seprai. Delapan tahun tanpa belaian lelaki membuatnya gila. Diana tak
pernah menyadari perubahan yang terjadi sepeninggal suaminya.

Meski menyukai pantat, namun David bisa dibilang wajar; munkin anaknya pun demikian. Kematian suami
membuatnya sadar betapa kita tak tahu kapan kehidupan ini akan berakhir. Pikiran erotis itu membuat Diana
sadar sekaligus menggelengkan kepala.

Diana pun melangkah mengambil hand body, kamera saku digital dan dildonya. Setelah terkumpul Diana pun
duduk.

“Sini nak!” teriak Diana lantang.
“Tunggu mah,” jawab Dana sambil bergegas ke kamar mamanya.

Diana merasakan jantungnya berdetak lebih kencang mendengar suara anaknya mendekat.

“Mau ngapain dulu kita mah?”
“Nih,” Diana melemparkan kamera ke anaknya.
“Kamu ingin mama ngapain dulu?” Diana menunjukan bodylotion dan dildo ke anaknya.
“Maksudnya apa mah?”
“Misalnya berbaring dulu, terlentang atau berlutut.”
“Maksud mama ada banyak cara?”
“Duh, kayaknya bakal jadi masalah kalau mama kasih tahu semua yang mama tahu. Mau telungkup,” Diana lalu
telungkup, melebarkan pahanya. “Atau sambil berlutut,” Diana berguling lalu bangkit berlutut. Diana
menoleh ke anaknya.
“Gitu bagus mah.” Dana menatap kamera di tangannya. Merasa sangat beruntung. “Setelah selesai boleh
dipindahin ke komputer kan mah?”

Diana menatap anaknya sambil memuntahkan hand body ke tangannya. “Apa mama perlu menambah aturan soal
foto juga?”

“Tenang mah. Tak akan ada yang tahu kok.”

Dildonya kini dilumasi hand body.

“Ingat, yang kayak gini mesti dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai. Wanita bukanlah daging yang
bisa diolah seenaknya untuk kesenanganmu sendiri. Wanita juga punya perasaan dan emosi. Hormatilah selalu
itu!”

“Gini aja mah. Kalau mama memang tak nyaman, mending gak usah diteruskan deh. Lagian Dana juga gak kan
marah kok.”
“Makasih nak. Tapi mama rasa gak apa – apa kok. Kamu memang kayak papamu.”

Dana bisa melihat wajah mamanya yang penuh semangat.

“Biasanya pria membantu melumasi. Namun dalam kasus kita tentu tidak. Jadi mama memakai jari sendiri
untuk melumasi pantat mama.”
“Makasih mah.”

Diana mendengus tertawa kecil.

Dana melihat jemari mamanya perlahan masuk ke anus. Lalu tangan yang lain menyemprotkan hand body ke
anus. Setelah itu jemari lainnya mencoba masuk. Kini telunjuk dan jari tengahnya sedang berusaha memasuki
anus mamanya. Kedua jemari itu bergerak berputar di dalam anus. Hand body kembali disemprotkan dan kini
tiga jari yang menari. Kembali dilumasi, empat jari pun keluar masuk membuat suara yang terdengar erotis
di telinganya.
Diana melepas jemarinya lalu meraih dildo. Jempolnya berada di tombol.
Dana melihat lubang anus mamanya membuka lebar.

Diana menyentuhkan ujung dildo ke anus. Diana menatap anaknya yang berdiri menganga, “Halo nak, mama udah
siap nih!”Cerita Sex Terbaru

“Apa mah?”
“Pake kameranya dong!”

Setelah kamera itu berada di depan wajah Dana, Diana mulai memasukan dildonya.

“Uh… Kalau kamu ngelakuin ini sama cewek, mesti pelan – pelan karena awalnya sangat tak nyaman,” kata
Diana sambil menggerakan bibirnya. “Jangan pernah lakuin tanpa pelumas!”

Diana berhenti sejenak saat setengah dildo sudah masuk. Dia bisa mendengar suara tombol kamera ditekan.
Setelah itu Diana melanjutkan aksinya.

“Kita biarkan dulu sejenak.”

Diana menggoyangkan pantatnya sambil mengawasi anaknya yang sibuk memakai kamera.
Akhirnya, tangan Diana mulai menarik kemudian mendorong lagi dildo itu. Dana mulai semakin sibuk dengan
kameranya.

“Kamu menikmati pertunjukannya? Dasar anak sesat!”
“Bercanda terus ah mah.”
“Dulu papamu bahkan memakai video, bukan kamera kecil kayak gitu.” Tangan Diana mulai bergerak cepat.
“Apa? Di film mah?”

Diana tertawa melihat anaknya sibuk mengutak – atik kamera. Diana menunduk dan mulai mendorong dildo di
anusnya lagi. Nafasnya mulai memburu.

“Oh, oh, oh.” Diana menjerit lalu lunglai jatuh ke kasur saat tubuhnya gemetar. Tangannya kini berada di
sisi kepalanya. Saat berbaring otot anusnya membuat dildo itu perlahan keluar dan jatuh ke kasur.

Dana melihat anus mamanya membuka – tutup berulang – ulang.

“Keren,” kata Dana sambil memainkan zoomnya.

Diana mendengar jelas kata – kata anaknya. Tapi kesenangannya membuat Diana mengangkat pantat dan
melebarkan paha ke arah anaknya.

“Goyang pinggul goyang pinggul oh asiknya,” suara Diana terdengar serak.

Setelah bergoyang Diana pun lemas dan tergolai di kasurnya. Wajahnya penuh keringat.

“Kamu mesti bantu – bantu mama abis ini.”
“Iya mah, abis mindahin ke komputer.”

Dana bangkit lalu menghilang keluar. Diana meraih dildo di sampingnya lalu menatapnya. Memang tak sama
seperti saat bersama suaminya dulu. Tapi untuk sekarang rasanya cukup. Tiba – tiba Diana tersenyum lalu
memasukan dildo itu ke mulutnya. Diana tetap mengulum dildo sambil melangkah ke kamar mandi. Sayang
anaknya tak melihat ini, batin Diana.

“Oh Tuhan, menjijikkan” Diana terhenti menatap ke kamar anaknya.

Di monitor terlihat film Diana sedang mendorong dildo ke pantatnya. Diana lalu masuk dan duduk di kasur
anaknya.

“Sampe diperbesar gitu? Tunggu, mama punya tanda di sana?” Diana lalu berputar menatap pantatnya sendiri.

Ibu dan anak itu menonton video dalam diam. Hingga dildo keluar dan sang ibu menjatuhkan diri di kasur.

“Menjijikan yah,” kata Diana sambil menutup wajah dengan tangan, namun matanya mengintip dari sela – sela
jemari.

Dana tertawa, “Hahaha, kalau liat film horror juga mama bilang takut, tapi sambil ngintip.”Cerita Sex Terbaru

“Orang – orang mestinya jangan liat orang lain terbunuh; apalagi melihat mama mainin anus mama pake
dildo,” kata

Diana sambil melempar bantal ke anaknya.

“Pokoknya, kalau sampai ada yang melihat rekaman ini, mama bersumpah akan membunuhmu.”
“Baiklah Nona Cerewet. Akan saya matikan,” kata Dana lalu menutup media playernya.
“Ya tuhan, gambar mama lagi telanjang kok dijadiin latar belakang sih? Gimana kalau temanmu melihat?
Udahlah, gak akan ada yang lihat rekaman mama karena sekarang kamu akan mama bunuh.”
“Tenang mah. Kan ada dua akun. Yang pertama kalau yang log innya Dana. Sedangkan kalau temen pake akun
umum.”

Diana melihat pantatnya memenuhi hampir seluruh layar dengan dildo menancap dan
Diana sembur. Dia melihat gambar pantatnya mengisi sebagian besar layar dengan setengah penis karet
mencuat dari anusnya dengan kepala hanya terlihat di bahu di latar belakang.

“Kok pake gambar yang itu sih? Pantat mama jadi terlihat super besar.”
“Kan gambarnya juga cuma sedikit mah. Tapi Dana siap fotoin lagi kok.”
“Tidak. Yang terakhir aja bisa jadi masalah.”
“Tapi mah, hasil kamera ini adalah hasil terindah yang pernah Dana lihat.”
“Bercanda aja. Mama sih lihatnya kayak lihat film porno tua. Hanya saja tanpa musik latar.”
“Kalau mama mau Dana bisa tambahin musik kok mah.”
“Bukan gitu maksud mama,” Diana menatap monitor lagi lalu bergidik. “Jorok bener gambarnya, kamu kok
bisa tahan melihatnya sih?”
“Mah, Dana tahu mama sudah empat puluh tahun lebih, tapi mama masih cantik. Ditambah susu dan pantat
mama yang montok.”
“Dasar kamu aneh,” Diana tertawa, “pokoknya gambar itu mesti dihapus!”

Dana melambaikan tangan tanda tidak sambil menyeringai pada webcam.

“Tidak, tidak, tidak. Kamu udah bikin mama gak pake baju. Kamu udah liat mama sepuasnya, bahkan kamu udah
jadiin mama bintang film porno…”
“Kamera kan ide mama.”
“Jangan ngeles.”
“Iya. Kayaknya nyonya terlalu banyak protes.”
“Pokoknya hapus.”
“Enggak”
“Dana dapet apa kalau ngehapus ini?”
“Apa? Kamu mau sesuatu? Dasar mesum!”
“Bukankah mama yang pertama ngajarin tawar – menawar!”
“Mama sungguh tak percaya ini. Baiklah, kamu mau apa?”
“Foto lain lagi.”
“Iya, tapi sedikit.”
“Tapi Dana suka gambar latar ini mah. Banyak dong.”
“Gak adil itu. Masa satu gambar ditukar banyak gambar,” Diana memainkan suaranya agar terdengar seperti
lebih simpati.
“Suaranya gak usah dibuat – buat mah.”
“Oke, terus mama dapet apa dong?”
“Hah?”
“Kok malah bengong sih? Kamu kan pintar negosiasi.”
“Emang apa yang bisa Dana kasih?”

Diana ingat saat memergoki anaknya yang sedang memegang kelaminnya. Diana lalu menyeringai ke anaknya.

“Wajah mama kok aneh gitu sih?”
“Inilah mamamu, hehehe…”

Dana menyeringai, namun Diana menunjukkan telunjuk ke wajah anaknya.

“Kamu ingin ngambil banyak foto mama demi menghapus foto yang gak mama suka dan …”

Diana menghentikan sebentar suaranya, Dana menatap cemas.

“… kamu masturbasi hingga keluar sambil diliat mama.”
“Apa?!? Tidak mungkin!”
“Bener nih gak setuju?”
“Tapi, Dana ambil banyak foto mama dan juga film baru.”
“Film apa?”
“Seperti yang pertama, cuma kali ini sambil nungging.”
“Kamu memang aneh. Doyan bener sama pantat.”
“Kan gara – gara mama juga. Siapa suruh liatin pantat montok mama.”
“Dasar aneh.”
“Jadi, Dana masturbasi di depan mama, terus mama yang nentuin latar belakang monitor. Mama beri Dana
film baru dan foto baru yang banyak.”
“Maksud banyak?”
“Sampai Dana bosan.”
“Emangnya kamu bisa bosan?”
“Dana kan masih muda mah.”
“Baiklah. Mama akan obok – obok pantat mama sementara kamu filmkan dan fotoin. Tapi sebelumnya kamu
masturbasi dulu, telanjang tentunya.”
“Tapi Dana pasti butuh rangsangan dulu dong mah. Mama bikin film aja dulu lalu Dana mulai lepas
pakaian.”
“Baik, bikin film dulu tapi harus telanjang.”
“Baik. Tapi kalau libur kita pergi liburan mah.”
“Apa? Banyak bener keinginanmu. Kenapa gak kamu pikirkan dulu sebelum mama mulai melepas pakaian mama?”
“Kan mama yang bilang ‘lihat pantat mama agar Dana bisa berubah.”
“Ya, tapi kini pantat mama yang terus dilihat, malah diobok – obok.”

Dana mulai menghitung memakai jemari, “Ayo kita hitung, telanjang, masturbasi, gambar latar, film anal
baru, banyak foto, liburan dan bersedia difilm lagi nanti.”

“Kamu pasti cocok kalau kerja jadi politisi.”
“Enggak deh. Jadi gimana, Telanjang, masturbasi, gambar latar, film, foto, liburan, setidaknya dua film
lagi.”
“Menyebalkan.”
“Bener gak mau?”
“Mama muak sama per – pantat – an.”

Dana lalu memutar kepalanya dari yang tadinya menghadap monitor menjadi menghadap mamanya.
Diana melihat lagi gambar pantatnya yang dijadikan gambar latar, lalu bergidik.

“Baiklah, setuju.”

Ibu dan anak itu saling tatap. Dana mengangkat alisnya, Diana menggeleng. Keduanya lalu berdiri. Dana
melingkarkan tangan ke bahu mamanya sambil berjalan ke luar.

“Lebih baik bikin filmnya di ruang tv aja. Biar pencahayaannya lebih jelas dan latarnya sofa hitam.”
“Maksudnya?”
“Biar Dana lebih mudah beresin sofanya mah.”
“Mama benci kamu,” kata Diana sambil memukul lengan anaknya.
“Bukankah anak – anak kebanyakan dibenci mamamnya. Dana kan cuma kasih kesempatan mama main film
berkualitas.”Cerita Sex Terbaru

Diana menghentikan langkahnya lalu menatap anaknya.

“Apalagi?”
“Berkualitas?”
“Mama masih punya handycam kan?”
“Handycam? Jangan!”
“Jadi mama mau film mama terlihat seperti film porno jadul? Sekalian aja tambah musik latar murahan.”
“Mama makin benci kamu.”
“Terserah mama, mau terlihat kuno atau cantik?”
“Sekalian aja mama pake make-up, minyak zaitun dan high heel.”
“Ide bagus tuh mah!”
“Ya, tapi mama hanya bercanda. Dasar anak aneh.”
“Gak bosan mah bilang gitu?”
“Anak aneh!” kata Diana sambil menunjukkan telunjuk ke dada anaknya.
“Mama makin galak sih? Lagian, kalau pake make-up, minyak zaitun dan high heel kan Dana jadi bisa nyeting
kameranya dulu. Ntar jadinya pasti bagus mah. Kalau tidak, mungkin gambar latarnya takkan berubah mah.”
“Baik, make-up, minyak zaitun dan highheel. Biar sekalian filmnya menang kontes film.”
Diana pun melangkah menuju kamarnya sementara Dana diam berpikir kapan terakhir kali memakai handycam.
“Hei nak.”

Dana melihat arah suara yang ternyata di pintu. Mamanya sedang berdiri membelakangi, lalu rukuk dan
menggoyangkan pantatnya sambil berkata goyang pinggul, goyang pinggul. Setelah itu mamanya tertawa lalu
menutup pintu.

“Malah mama yang bilang Dana aneh.”

Dana tersenyum. Pasti akan menyenangkan nanti, batinnya.

Setelah mandi, Diana duduk di kasur sambil mengeringkan rambut. Diana merasa senang dengan apa yang akan
terjadi namun Diana juga merasa tak senang akan sikap anaknya yang mulai arogan. Diana merasa sudah
waktunya mengajarkan anaknya bahwa kalau bermain api bisa berakibat kebakaran.

Setengah jam kemudian Dana hampir selesai menyiapkan tempat. Di sisi sofa telah dipasangi lampu yang
mirip di studio foto hingga membuat pencahayaan pada sofa sangat terang. Sedang hampir satu meter di
depan sofa terdapat tripod yang dipasangi handycam. Saat mengecek handycam, Dana mendengar langkah
mamanya datang.

“Cantiknya!”

Rambut Diana masih basah. Wajahnya memakai make-up yang bahkan belum pernah terlihat secantik ini oleh
Dana. Tubuhnya berkilau dan mengeluarkan aroma baby oil. Tangan kanan Diana memegang dildo. Tak lupa
kakinya memakai highheel.

Diana melihat ruangan yang telah disiapkan anaknya dengan takjub,

“Kamu siapkan ini sendiri?”

Untuk kali pertama Diana melihat betapa anaknya sangat terpesona hingga tak bisa berkata – kata. Diana
berjalan sambil mengelus dadanya, lalu elusannya turun ke pantat hingga pantat itu duduk menyentuh sofa
hitam.

Pantat Diana yang berminyak kini duduk di sofa. Satu kaki dibuka lebar hingga tumitnya mengenai sisi
sofa. Sedangkan kaki satunya dipanjangkan ke bawah.

Nafas Dana tercekat melihat memek mamanya yang telah bersih tiada rambut sehelai pun. Jelas terlihat
lipatan memeknya. Apalagi dengan olesan baby oil membuatnya memantulkan cahaya.

Melihat anaknya terpesona, Diana mengambil dildo dan memposisikan di vaginanya, namun tanpa melakukan
penetrasi.

“Jangan salahkan mama kalau kamu sampai lupa ngerekamnya. Serangan di Pantat Tua Mama jilid Dua.”

Begitu Diana selesai berbicara maka dildo itu langsung berusaha memasuki pantat Diana. Beberapa bagian
sofa kini telah dipenuhi minyak yang menetes dari tubuh Diana.

Dana langsung memainkan kameranya sambil terus membasahi bibir dengan lidahnya. Tangannya begitu sibuk
memainkan tombol yang ada di handycam.

Diana mencoba tersenyum di sela – sela erangan yang terus keluar dari mulutnya.

“Kamu tuh jangan cepat – cepat matiin kameranya terus pergi. Siapa tahu kali ini bisa ngerekam saat mama
bersihin dildo pake mulut mama seperti yang terakhir.”

Mulut Dana ternganga mendapati adegan yang dilewatinya.

Diana perlahan menarik dildo dari pantat lalu mendekatkan ke wajahnya.

“Kayak gini nih.”

Diana lalu memasukan dildo ke mulut dan memainkannya. Tak lupa juga menjilatinya.
Dana merasa penisnya makin keras dan cairan pelumasnya pun keluar membasahi celananya.

“Aduh,” kata dana sambil mengelus celananya.

Diana melepas dildo di mulutnya lalu tertawa. Dildo itu kembali ditempatkan di pantatnya. Diana terus
memainkan dildo sambil berbicara.

“Dasar anak muda.”

Setelah beberapa menit, Diana mengangkat lututnya hingga mendekati dada membuat pantatnya makin terlihat
jelas. Kini kedua tangan Diana sibuk memainkan dildo di anusnya.

“Unh, unh, unh, unh AHHHHHHH.”

Diana menjerit sambil berusaha memasukan dildo sampai mentok. Kakinya bergoyang, tubuhnya kejang hingga
beberapa detik kemudian tubuh Diana pun berhenti gemetaran. Kakinya terjatung lunglai ke bawah.

Setelah beberapa detik, Diana mencabut dildo dari pantat lalu mendekatkannya ke wajah. Dildo itu dijilati
Diana lalu dimasukan ke mulutnya. Beberapa saat kemudian Diana asik memainkan dildo di mulut hingga
merasa cukup.

“Jadi berantakan gini yah.”
“Iya, mama sih nakal.”

Diana tertawa,Cerita Sex Terbaru

“yang penting tugasmu tuh ntar bersihin ini.”

Diana melihat keadaanya lalu bangkit berjalan mendekati anaknya.

“Nah, anak aneh, perjanjian pertama kita telah mama laksanakan.”

Dana langsung mengangguk.

“Sayang sekali. Padahal mama udah siap ronde berikutnya. Nih deh mama kasih sedikit inspirasi buat kamu.”

Diana lalu memeluk anaknya membuat pakaian anaknya kini basah oleh baby oil. Paha Diana juga diangkat
untuk membasahi sekitar pinggang dan celananya.

“Kayaknya bajumu perlu dicuci tuh.”

Dana mengerang. Diana menepukkan tangannya.

“Baiklah pejantan muda. Mama beri kamu sepuluh menit untuk siap – siap menghibur mama.”

Dana pun melangkah menjauh menuju kamarnya. Namun saat baru setengah jalan, terdengar suara mamanya.

“Mama taruh baby oil di lemarimu nak.”

Diana menyeringai. Pasti malam ini bakalan seru, pikirnya.

Dana duduk di kasur dengan hanya memakai celana pendek sambil gemetaran. Dana memang jadi terbiasa
melihat mamanya telanjang, namun Dana merasa tak nyaman jika harus ikutan telanjang juga. Dana menyadari
memang tak adil jika dirinya tetap berpakaian, namun toh bukan salahnya. Dana tak pernah melihat mamanya
seliar ini, senakal ini. Terus terang saja kini Dana merasa takut. Dana menduga dia telah mendorong sisi
gelap mamanya keluar dan mulai merubah mamanya.

Dana merasa hubungannya dengan mama tak pernah sedekat ini. Dana memang mencintai mamanya, sebagai anak,
juga menghirmatinya. Dana sungguh merasa beruntung dengan perjanjian ini, tapi kebenaran yang disampaikan
sendiri oleh mama merupakan hadiah tersendiri. Telah terlalu jauh sejak kali pertama Dana melihat mamanya
telanjang di dapur.
Dana tersenyum sendiri saat berdiri lalu melepas pakaian terakhirnya, celana pendek. Setelah itu Dana
meraih baby oil yang ada di lemarinya.

Diana duduk di sofa menunggu. Keheningan yang ia rasakan sedari tadi membuatnya sampai pada kesimpulan
bahwa anaknya mungkin merasa takut dan atau tidak berani. Satu kosong untuk mama, pikirnya. Tiba – tiba
terdengar dentuman suara musik yang kemungkinan berasal dari kamar anaknya. Cahaya tiba – tiba menghilang
menjadikan kegelapan yang muncul menyelimuti. Diana menyeringai. Ya tuhan, dia benar – benar akan
melakukannya, batin Diana.

Tiba – tiba ada sinar. Setelah ditelisik oleh mata Diana, sinar itu mengarah ke kepala kontol. Ternyata
anaknya memegang dua senter yang kini diarahkan ke kontolnya sambil berjalan mendekat. Dana pun sampai di
depan sofa yang diduduki mamanya lalu menggoyangkan pinggulnya. Puas bergoyang, tangan kanannya melempar
senter lalu memegang kontolnya.

“Mah, kok Dana jadi gini sih?”
“Jangan berhenti nak. Lagian gak apa – apa kok jadi gini juga.”
“Ini dia mah. Siap membuat mama terangsang.”
“Whoo hoo, goyang nak!” Diana tertawa.

Dana memaju mundurkan pinggul sambil tangannya mengocok kontol. Mata Diana berbinar melihat anaknya
mengocok kontolnya sendiri. Tak butuh waktu lama Dana pun mengejang seiring dengan menyemburnya sperma
yang mendarat di kaki Diana, sofa dan di lantai. Setelah orgasme tubuh Dana berhenti mengejang namun saat
akan bergerak kakinya tersandung membuat Dana jatuh terduduk di sofa di sebelah mamanya. Kakinya
menyentuh kaki mamanya. Keringat bercucuran di dahi Dana. Nafas Dana terengah – engah.

Diana bertepuk

“Hebat, luar dari pada biasa!”

Dana melambaikan tangannya,

“santai mah.”

Diana dan Dana saling memangang, lalu keduanya menyeringai.

“Mah, maafin Dana yah udah ngedorong mama terlalu jauh hingga jadi gini. Dana bener – bener menyesal
mah.”
“Ya, kamu memang nakal. Tapi mama seneng kamu berani mengakuinya. Lagian mama juga tak terlalu suka per
– anal – an.”
“Ya gak apa – apa kok mah asal perjanjian kita yang lain tetap berjalan Dana gak keberatan kok.”
“Mama gak keberatan dengan hal baru, asal tak menyakitkan bagi kita.”

Diana melingkarkan tangan ke bahu anaknya lalu memeluknya dari samping membuat tubuh ibu dan anak itu
menempel ketat.

“Sial mah, Dana menyentuh mama.” Dana terlihat panik.
“Ini sih sikap ibu dan anak yang saling mencintai, meski tanpa pakaian.”

Baca juga Cerita Sex Dangdut

Mereka pun menatap tubuh mereka yang penuh baby oil.

“Kok jembut mama dibabat habis sih?”
“Mama hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kamu. Lagian kamu tuh bener – bener maksa mama sih.”

Diana dan Dana menatap selangkangan Diana. Seperti berjanji, keduanya sama – sama berbicara “kayaknya
jelek deh.” Menyadari kesamaan kata yang terucap, keduanya saling pandang lalu tertawa.

“Untungnya ntar tumbuh lagi. Sekarang kamu tahu kan mama juga bisa mencoba hal – hal baru. Kalau kamu
gimana? Mau mulai telanjang di rumah gak?”
“Gak tahu mah. Kayaknya aneh deh.”

Diana memegang payudara lalu mengangkat susunya.

“Mama tak bisa mengatakan bagaimana rasanya hidup dengan selalu menunjukan ini padamu. Mama juga senang
kalau kamu gak mau ikut – ikutan. Tapi mama tak akan keberatan kok kalau kamu berubah pikiran.”

Diana dan Dana menatap kontol Dana. Mereka berdua melihat betapa kontol itu kini mulai kembali
mengembang.
Begitu muda begitu jantan, pikir Diana.
Diana lalu mendorong anaknya bangkit.

“Kamu bersih – bersihnya ntar mama bantu deh.”
“Setuju,” seringai Dana. Tamat- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru.

Silahkan hubungi Sintia, boleh di mainin sesuka hati asalkan abang baca cerita di cerita sex terbaru . Cerita-Cerita sex di sini ada beberapa adalah cerita sex terbaru yang saya alami sendiri pribadi lho mas, coba tebak cerita yang mana?