Selingkuh Lagi

Cerita Sex Terbaru | Anganku kembali melayang tentang awal mula kejadian hari ini. Pagi tadi isteriku bersama teman-temannya
berangkat ke Australia. Setelah keberangkatan mereka, rasa sepi menyergap diriku. Di sela-sela rasa sepi
itu datang Larasati, anak asuhku yang baru duduk di kelas 3 SMA, langsung dari sekolah selesai uji coba
ujian nasional. Kedatangan Laras memberi pengalaman baru bagiku.
Inilah pertama kali aku selingkuh setelah menikah selama 30 tahun. Laras, gadis yang baru tumbuh mekar
telah membuat aku lupa siapa diriku dan apa posisiku dalam keluarga saat ini. Namun aku tak akan pernah
menyesali perselingkuhanku dengan Laras. Bukan karena aku ingin tetap menikmati daun muda, tetapi lebih
dari itu. Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku. Pengecut kalau seorang laki-laki tidak berani
mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Cerita Sex Terbaru Selingkuh Lagi

Laras…! Seorang gadis belia yang mampu mengubah prinsip hidupku yang selalu berpendapat 1 isteri untuk
selamanya. Dia tadi pagi begitu menggairahkan, dengan berani dia mengelus punggungku dan menggigit
putingku. Dia juga tidak menolak ketika aku menyetubuhinya, bahkan kenikmatan dan kepuasan dia berikan
untukku dengan kemampuan seksual yang berada di luar nalarku.

Apalagi sampai memberikan keperawanannya. Ya! Laras masih perawan ketika tadi pagi aku setubuhi. Hal ini
aku ketahui waktu aku menyusul dia ke tempat tidur setelah bersetubuhanku dengan Laras diintip orang
lewat pintu kamaru yang sedikit terbuka. Entah siapa yang mengintip, aku tidak tahu karena waktu aku
kejar dia sudah tidak ada di ruang keluarga.

Waktu aku kembali dari mengejar orang itu dan akan berbaring di samping Laras, ternyata Laras sudah
tidur. Saat itulah aku melihat spermaku yang ada dalam vagina Laras merembes keluar bercampur darah
perawan Laras. Aku sempat tertegun sejenak, tapi sekali lagi aku tidak menyesal, dan akan bertanggung
jawab atas perbuatanku.

Aku berbaring di samping Laras sambil memeluk tubuhnya. Setelah persetubuhan tadi, kami masih sama-sama
telanjang. Mungkin Laras kelelahan setelah empat kali orgasme sehingga dia langsung tertidur. Berbagai
pertanyaan tentang Laras berkecamuk dalam benakku. Bagaimana mungkin gadis yang hidup dalam rumah asuhku
bisa begitu liar tadi pagi? Apa yang salah dengan rumah asuhku? Bukankah selama ini isteriku sebagai
pengelola rumah asuh menerapkan aturan yang ketat? Para penghuni rumah asuhku tidak boleh menerima tamu
setelah jam 09.30 malam. Mereka juga tidak boleh keluar rumah asuh tanpa diantar oleh sopir.

Itupun hanya pada malam libur dan sampai jam 9.30 malam. Kalau besoknya hari sekolah, mereka tidak boleh
keluar rumah. Bagi yang melanggar, sanksinya cukup berat, yaitu keluar dari rumah asuh untuk selamanya.
Makin keras aku berpikir, makin buntu pikiranku tentang kebinalan Laras

Keping-keping kejadian antara aku dan Laras memudar, karena Laras menggeliat bangun. Dia tersenyum
melihatku kemudian kembali menelusupkan kepalanya di ketiakku.

“Bagun, Sayang…! Sudah sore…” kataku membangunkan Laras.
“Masih ngantuk, Yah…” katanya manja.

Tangannya meraih penisku yang sudah lemas dan berubah menjadi kecil, kemudian menggenggamnya. “Kok penis
Ayah masih ada…?”

“Emangnya kenapa…?” tanyaku heran.
“Rasanya penis Ayah masih ketinggalan di dalam vagina Laras. Nih… rasanya masih mengganjal di dalam?”
kata Laras dengan mimik serius.
“Ah, Laras ada-ada aja…”
“Bener kok Yah… rasanya masih tertinggal disini… masih terasa nikmatnya” kata Laras sambil menunjuk
vaginanya.
“Coba Ayah lihat…” kataku sambil bangun untuk melihat vagina Laras.
“Malu ah…!” kata Laras lalu merapatkan kedua lututnya
“Lho…? Tadi mau nunjukin sama Ayah, kan?” kataku protes.
“Masa sekarang Laras malu?” kataku sambil memegang kedua lutut Laras untuk membuka.
“Nggak boleh…” kata Laras dengan nada merengek manja.
“Buka dong sayang…” aku berusaha membujuk Laras, tapi dia hanya menggeleng.
“Ayo dong, mau kan…?” berkali-kali aku membujuk Laras lagi.

Kunjungi Juga CeritaSexDewasa.Org

Tapi lagi-lagi Laras menggeleng sambil tersenyum manja.

“Iya deh… Ayah ngalah…” Kataku setelah putus asa membujuk Laras untuk melihat vaginanya.
“Tapi Ayah boleh tanya sesuatu sama Laras, kan?”
“Tanya apa Yah…?” jawab Laras balik bertanya.
“Kok Laras tadi gigit puting Ayah?”
“Mmm… Laras jadi malu…” jawab laras sambil menyembunyikan wajahnya di ketiakku.
“Jawab dong Sayang…”
“Habis Ayah macho banget sih… mentang-mentang punya dada kekar dan perut six packs, terus dipamerin
sama Laras.

Apalagi Ayah peluk Laras kenceng banget, terus cium rambut dan mata Laras. Yaahh… Laras jadi horny deh…”
katanya lalu kembali menyusupkan kepalanya di ketiakku.

“Semudah itu…? Tapi Laras hebat, belajar dimana?” tanyaku lagi sambil memeluknya erat-erat.
“Laras baca dan lihat film di internet Yah… “jawab Laras.
“Tadinya untuk melampiaskan libido Laras… Maafin Laras Yah…” jawab Laras lagi sambil memandangku
“Nggak apa-apa… Laras juga sudah gede…” kataku menanggapi jawaban Laras. “Laras gampang terangsang…?”
tanyaku lagi.
“Iya Ayah… Laras memang gampang sekali terangsang.

Libido Laras memang sangat besar… sering Laras horny melihat Ayah berolah raga” kata Laras lagi. Kali
ini dengan nada penyesalan. “Maafin Laras Yah. Laras memang perempuan murahan. Laras nggak bisa jaga
diri di hadapan Ayah…” kata Laras mulai menangis.

“Laras nggak akan menuntut apa-apa, meskipun Laras hamil karena bersetubuh sama Ayah tadi,” katanya di
sela-sela isakan dan air matanya.
“Ayah boleh marah sama Laras. Laras tau diri… Apa kata Bunda kalau tahu Laras bersetubuh dengan Ayah?”
Sejenak Laras menatap mataku lalu menunduk dan menangis lagi.

Aku tersenyum. Aku rengkuh Laras dalam pelukanku.

“Sudahlah. Kita melakukan dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Ayah juga menikmati banget tadi.”
kataku menenangkan Laras sambil mencium keningnya.

Dia menangis sesenggukkan dalam pelukanku. Dengan jempol aku usap air mata Laras.

“Udah, nggak usah nangis lagi.”

Aku angkat dagu Laras lalu aku cium bibirnya. Aku hisap ludahnya sambil mempererat pelukanku. Perlahan
Laras kembali tenang dan membalas ciumanku. Lidahnya kembali mencari-cari dan mengait lidahku.Cerita Sex Terbaru

“Laras masih ingin lagi, tapi Laras juga cape…” kata Laras dengan rengekan manja.
“Ya udah… Mandi dulu biar segar, terus makan. Kalau sudah makan nanti kita mulai lagi.” Tapi Laras hanya
menjawab dengan kecupan di bibirku dan pelukan yang makin erat.
“Malam ini Laras tidur di sini saja kalau mau. Ayah akan kasi tahu Bu Rani kalau Laras tidur disini.
Sekarang mandi dulu.” kataku lagi.

Rani adalah wakil isteriku dalam mengelola rumah asuhku.

“Bener Yah…?” kata Laras sambil meremas-remas penisku yang mulai bangun. “aku boleh tidur disini? Ayah
akan bilang ke Bu Rani?” tanya Laras berusaha meyakinkan dirinya.
“Iya dong Sayang…” jawabku sambil menggigit ujung hidungnya.
“Makasih Ayah…” kata Laras sambil bangkit menindihku dan menciumi wajah dan leherku.
“Sebentar Sayang, Ayah telepon Bu Rani dulu. Takut kalau nanti kelupaan” kataku lalu bangun dan
mengambil telepon genggamku yang ada di atas merias.

Aku jelaskan pada Rani kalau Laras malam ini tidur di rumahku sehingga beberapa pakaian Laras termasuk
seragam sekolahnya segera di antar ke rumah.

Setelah berbasa-basi sebentar dengan Rani, aku tutup telepon dan menghampiri Laras dan duduk di tepi
tempat tidur. Laras bangun lalu mencium dan melumat bibirku. Aku balas ciuman Laras dengan memeluknya.

“Laras mau pipis dulu Yah…” kata Laras lalu turun dari tempat tidur.
“Mau Ayah anterin…?” tanyaku sambil menarik tangan Laras. Laras mencibir sambil tertawa.
“Maunya… hihihi…” katanya sambil melepaskan tanggannya dari genggamanku lalu berlari kecil menuju kamar
mandi.

Di pintu kamar mandi Laras melambaikan tangannya.

“Jadi mau temenin Laras pipis, nggak Yah…?”

Tanpa diminta untuk kedua kali, aku segera bangun dan menyusul Laras ke kamar mandi. Sesampainya aku di
pintu kamar mandi, Laras sudah duduk di closet menghadap aku. Aku tersenyum sambil memandang vagina
Laras. Bibir vaginanya merah segar seperti kerang mentah yang terbuka, dengan tonjolan klitoris di
atasnya. Klitoris itu sedikit tertutup kulit yang berwarna agak lebih muda, yang kelihatan seperti penis
kecil. Jauh lebih kecil daripada penis bayi.

Setelah cebok, Laras berdiri memelukku, bibirnya asyik mencium putingku dan menghisapnya. Lidahnya
menjilat-jilat permukaan dadaku dan sekali-kali menggigitnya. Libidoku segera bangkit karena rangsangan
yang Laras berikan. Penisku yang sejak di tempat tidur tadi sudah tegang, kini menjadi keras bagai kayu,
aku gesek-gesekkan di perut Laras. Kuremas payudara Laras dengan tangan kiriku dengan lembut sambil
memilin putingnya, tangan kananku mengangkat wajah Laras lalu perlahan aku kecup bibir Laras. Laras
menyambut ciumanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulutku, mengorek-ngorek gusi dan
langit-langit mulut, lalu lidahnya membelit lidahku dan menghisapnya.

Kuraih kran dan memutarnya untuk mengalirkan air hangat dari shower. Air hangat segar menyiram tubuh
kami yang sedang berpelukan sambil saling melumat bibir. Desahan dan lenguhan saling bersahutan keluar
dari mulut kami, bersaing dengan bunyi semprotan air dari shower.

“Yaahh…”
“Ya Sayang…?”
“Mandiin dong…”
“Mau dimandiin Ayah…?” tanyaku.

Laras menganggung. Aku kecilkan air shower dan aku ambil botol body foam milik isteriku, lalu kutuang ke
tubuh Laras. Aku usap tubuh Laras dengan bathing puff sampai berbusa. Setelah busanya banyak, bathing
puffnya aku taruh di tempatnya. Tanganku yang mengusap dan memijat tubuh dengan lembut dan pelan. Pada
saat menyabuni tubuhnya, baru aku sadar kalau tubuh Laras ternyata kenyal indah dan seksi sekali.

Walaupun tidak terlalu putih, kulitnya bersih dan mulus tanpa ada bekas luka satu pun. Lehernya jenjang,
dadanya agak bidang, sedangkan payudara membulat kenyal dengan puting bulat menonjol berwarna merah muda
kecoklatan. Payudara Laras memang tidak sebesar punya isteriku, tapi dengan usia yang masih muda,
payudara itu punya daya tarik tersendiri, sangat indah dan merangsang.

Tanganku terus menggosokkan busa body foam ke payudara Laras. Busa body foam membuat tubuh Laras licin
sehingga tanganku dengan mudah meluncur dan meremas payudaranya dan membuat Laras menggelinjang, dan
mengerang. Tanganku berganti-ganti meremas payudara kanan dan kiri Laras. Pijatanku menekan pada
payudara Laras, bergerak dengan lembut dan pelan tapi mantap. Tak lupa aku pijat dan aku putar-putar
putingnya. Laras meraih kepalaku lalu bibirku dicium dan di hisap. Kubalas ciuman Laras dengan melumat
mulutnya sambil terus meremas dan memijat payudaranya. Suara lenguhan dan decapan bibir kami sahut-
menyahut berganti-ganti.

Setelah puas meremas dan mengelus payudaranya, aku berpindah ke perut Laras. Tubuh Laras aku putar
sehingga dia membelakangi aku. Aku peluk Laras dari belakang sambil terus menggosok pelan dan lembut
perutnya, lalu naik ke payudara Laras lagi. Punggung Laras menempel pada dadaku, kadang kepalanya
ditolehkan ke belakang untuk minta dicium. Daguku yang kemarin aku cukur, aku gosokkan pelan ke tengkuk
dan leher Laras.Cerita Sex Terbaru

Jenggotku yang masih sangat pendek itu membuat Laras mendesah dan menggelinjang ketika aku gosokkan di
tengkuknya. Kadang tangan kirinya diangkat ke belakang lalu meraih kepalaku, sementara tangan kanannya
terus-menerus meremas-remas penisku. Tanganku menyusur permukaan perutnya dan berhenti di pusarnya, lalu
turun ke bawah dan mengelus klitorisnya.

“Ayah nakal… Aaahhh…” kata Laras sambil mendesah ketika jariku berputar-putar sambil mijit-mijit
klitorisnya.

Kadang jariku masuk ke dalam vaginanya sambil mengkorek-korek pelan dan lembut untuk mencari G-spotnya.
Dengan telapak tangan menghadap ke atas, aku memasukkan dua jariku ke dalam vagina Laras. Setelah sampai
di dalam, aku tekuk jariku kira-kira tiga puluh derajat sampai menyentuh dengan mantap dinding vagina
Laras bagian atas, lalu perlahan-lahan menyusurinya.

Saat jariku masuk dua ruas lebih sedikit, terasa menyentuh sesuatu yang agak keras dan agak kasar,
berbintil-bintil seperti buah murbei, G-spot Laras! Segera aku tarik jariku menjauhi G-spotnya. Sengaja
aku menyentuhkan sedikit saja pada G-spot Laras, itu pun tidak lama dan tidak intens. Aku hanya ingin
menjajagi posisi G-spotnya, hanya untuk eksplorasi agar aku dapat menemukan G-spot tersebut dengan mudah
nanti pada waktunya. Bukan untuk membuat Laras orgasme dengan cepat.

Laras meronta dan mengerang saat aku sentuh sekejap G-spotnya. Badannya meliuk-liuk, sementara kedua
tangannya diangkat ke belakang mencari cari kepalaku. Aku segera mencabut perlahan jariku dari liang
vagina kemudian jariku berpindah ke klitoris atau bibir vagina Laras. Akibatnya Laras menjerit protes
karena kenikmatannya tertunda.

“Ahhh… Ayah bener-bener nakal… Terusin dong Yah…”” kata Laras merengek-rengek ketika jariku aku tarik
keluar dari lubang vaginanya.
“Iya… Sayang… Ayah terusin mandiin Laras ya…” kataku menggoda dia.

Aku balik tubuh Laras sambil terus mengelus dan memijit klitorisnya.

“Ayah… lanjutin yang tadi dong…” Laras makin merengek minta segera dipuaskan.
“Iya…” kataku pura-pura tidak paham maksudnya lalu mengambil botol body foam dan kembali menuangkannya
ke tubuh Laras.

Rengekan Laras makin menjadi, tapi aku benar-benar sedang ingin menggodanya. Aku ingin Laras menunda
orgasme Laras yang sudah hampir memuncak. Berdasarkan pengalaman seksual dengan isteriku, penundaan
orgasme akan membuat penasaran, yang pada akhirnya akan memberikan sensasi yang jauh lebih hebat pada
saat wanita mencapai orgasme yang sesungguhnya yang tadinya tertunda. Ini yang aku kehendaki pada diri
Laras. Aku ingin dia bisa menikmati orgasmenya nanti setelah beberapa kali tertunda.

Aku kembali ambil bathing puff dan menggosok lelehan body foam di tubuh Laras bagian bawah sampai
berbusa banyak kemudian aku taruh bathing puff kembali ke tempatnya. Aku sabun kaki Laras dengan
tanganku sambil berjongkok. Dengan pelan dan lembut aku usap paha bagian dalamnya sambil sesekali
menyentuh vaginanya. Sungguh asyik bermain dengan vagina Laras yang bulunya masih jarang.

Kemudian aku minta Laras duduk di atas closet. Aku tumpangkan telapak kakinya di pahaku, lalu pahanya
aku usap dan aku pijit serta tak lupa mengusap dan mengelus bibir vaginanya. Vagina itu aku usap dengan
lembut. Klitorisnya aku pilin dan aku pijit. Jari dan jempolku asyik bekerja sama memainkan vagina dan
klitorisnya. Jariku keluar-masuk dalam vaginanya. Laras kembali mendesis.

Tubuhnya kembali terdongak ke belakang. Tangannya erat mencengkeram tanganku yang masih keluar masuk
vaginanya, sementara jempolku dengan lembut tapi mantap berputar-putar pada klitorisnya. Laras hampir
orgasme, dan aku hentikan kegiatan mengocok vaginanya. Jempolku juga berhenti mengelus klitorisnya,
berganti memijit dan mengusap selakangan Laras.

“Hhhh… Ayahhh… Jangan buat Laras kaya gini… Cepat dong puasin Laras…”

Aku tak menggubris permintaannya. Aku berdiri dan mengangkat tubuh Laras lalu membaliknya lagi agar
membelakangi aku. Laras yang penasaran tak terpuaskan akhirnya pasrah untuk aku mandikan lagi, bukan
membuatnya orgasme. Aku biarkan gairah Laras sedikit turun, agar saat dia nanti mencapai orgasme, dia
benar-benar memperoleh orgasme yang sempurna. Aku menyabun punggung Laras mengelus dari leher kemudian
perlahan-lahan turun ke bawah. Ketika menyabun dan menggosok punggungnya, sesekali kedua tanganku
menyusup di antara ketiaknya lalu meremas payudara dan menarik pelan putingnya.

Tanganku menyusuri setiap senti kulit punggung Laras, kemudian turun mengusap dan memijat pantatnya yang
bulat kenyal. Jari-jariku dengan mantap dan lembut meremas pantat Laras dan menyusup ke belahan
pantatnya untuk menyentuh anusnya. Laras mengelinjang kembali. Jariku berputar-putar di luar anusnya,
lalu ujung jari kelingkingku aku tusukkan perlahan ke dalam sambil jempolku yang ada di luar mengusap
dan memijit anus Laras.

Aku tarik kembali kelingkingku. Berkali-kali ujung kelingkingku keluar-masuk anus Laras. Aku sengaja
berlama-lama membersihkan pantat dan anus Laras agar sensasi sentuhanku benar-benar bisa dinikmati. Saat
tangan kirinku bermain di anus Laras dan sekitarnya, jari kananku aku selipkan di vaginanya dan
memilin-milin klitorisnya yang membuat Laras makin mendesah panjang.

Kembali Laras akan mencapai orgasme karena jariku asyik bermain dengan anus dan klitorisnya, tetapi
sekali lagi aku menunda orgasmenya. Aku berhenti memainkan klitoris dan anusnya. Laras menjerit
penasaran.

“Ayah bener nakal…” teriak Laras sambil berbalik dan memukul-mukulkan genggaman tangannya ke dadaku.

Aku tak peduli dia merasa tersiksa dengan keadaan seperti ini. Aku peluk Laras, lalu aku cium bibirnya.
Laras memeluku erat sekali. Rambutku yang cepak gagal dijambaknya, akhirnya dia hanya meremas-remas
rambut dan kepalaku. Setelah pelukannya mengendor, aku melepaskan pelukan Laras. Bibirku menyusur
lehernya dan perlahan turun untuk menghisap putingnya. Gairah Laras perlahan turun, makan aku dudukkan
Laras di atas toilet kembali.Cerita Sex Terbaru

Kini giliran betisnya yang aku sabun. Betis yang indah, panjang dan padat seperti pahanya aku elus dan
aku usap. Jari-jariku juga mengelus lembut belakang lututnya. Dan ketika telapak dan jari kaki aku sabun
dan aku pijit, Laras tersenyum.

“Kok Ayah sayang banget sama Laras sih?”
“Ayah akan selalu sayang Laras”
“Iya… sampai bener-bener mandiin Laras… Auww…!” Laras mengelinjang ketika tangaku mengusap lembut
telapak kakinya. “Telapak kakiku juga dibersihin Ayah… Ahhh…” Laras kembali mengerang ketika aku
menggunakan ujung kukuku untuk memijat telapak kakinya.

Setelah selesai memainkan tanganku di kakinya, aku minta Laras berdiri di bawah shower. Kemudian
tanganku meraih kran shower dan memutarnya untuk menambah debit air yang keluar. Air hangat yang
mengucur deras menghapus sisa sabun yang ada di tubuh Laras. Kembali aku usap dada Laras sambil mencubit
pelan putingnya. Laras menggelinjang kembali. Lalu kukulum puting Laras sambil menghisapnya. Putingnya
aku pilin-pilin dengan lidah.

Perlahan gairah Laras bangkit kembali. Kepalaku diraih kemudian ditekan ke payudaranya yang sedang aku
hisap. Akibatnya makin kecang lumatanku pada payudara Laras yang terus melenguh. Gairah Laras telah
kembali. Kini lebih hebat dari yang tadi waktu aku korek-korek vaginanya dengan jariku. Sengaja tak
kujamah vagina Laras dengan tanganku sebelum dia benar-benar mendekati puncak gairahnya. Bibir dan
lidahku terus menjilat dan menghisap payudara Laras. Tangan Laras meremas dan mengocok penisku. Sesekali
jempolnya diputar-putar di kepala penisku. Kadang tangannya mengusap dan memijat lembut scrotumku.

“Aaahhh… Ayah… masukin sekarang dong… Laras udah ga tahan…” pinta Laras sambil mengocok penisku dengan
cepat.
“Ayo dong Yah… Jangan nakal lagi…” katanya lagi sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya, namun
gagal karena aku menarik mundur pantatku sehingga penisku menjauh dari vaginanya.

Laras makin penasaran. Leherku digigit dengan kencang.

“Auw…” aku berteriak
“Rasain… Ayah nakal sih…” kata Laras manja. “Ayo dong Yah…”

Tanganku kiriku meremas pantat Laras sambil sesekali jariku menyentuh anusnya. Sementara dua jari tangan
kananku kembali aku masukkan ke dalam vaginanya, seperti tadi dengan telapak menghadap ke atas. Aku
masukkan lalu aku keluarkan lagi, masuk lagi… keluar lagi, berganti-ganti. Laras mendesis dan mengerang
namun ada sedikit rasa kecewa di wajahnya setelah tahu yang memasuki vaginanya bukan penisku melainkan
dua jari tanganku.

“Enak yang gede Ayah… dua jari masih kurang…” kata Laras merajuk.
“Nikmati dulu sayang… Ayah janji akan memberikan kenikmatan yang berbeda dengan jari Ayah… Nikmati aja
ya, Sayang…” kataku sambil mencium telinganya.
“Bener ya Yah… Laras udah nggak tahan nihhh…” Laras mengangguk sambil mengelinjang.

Jariku yang tetap keluar masuk ke dalam vagina Laras terasa makin hangat dengan merembesnya cairan
vagina Laras. Jempolku memijat lalu bergerak ke kiri dan ke kanan mengosok klitorisnya. Mula-mula pelan
dan lembut, kemudian makin kencang dan mantap. Laras makin menggelinjang. Matanya terpejam sedangkan
kepalanya di geleng-gelengkan ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Laras mendekati orgasme. Rengekan dan
erangkan makin keras. Pantatnya dihentak-hentakkan ke depan agar jariku makin dalam memasuki vaginya.

“Inilah waktunya sayang…’ kataku sambil menekuk kedua jariku yang ada di dalam vagina Laras setelah
masuk dua setengah ruas.

Pada tempat itu lubang vagina Laras seperti bercabang dangkal, yang berbelok ke arah depan dan
tersentuhlah sesuatu yang lebih pejal daripada dinding vagina Laras. Dengan pelan tapi mantap aku tekan
dan aku usapkan jariku pada bagian yang berbintil-bintil. Aku menyentuh sesuatu yang merupakan G-
spotnya. Laras berteriak panjang dan kencang sekali…

“Aaahhh….” Teriakannya mengalahkan semburan air hangat dari shower. Tangannya mencengkeram tanganku
sambil ditekan lebih ke dalam vaginanya. Tubuhnya gemetar sambil meliuk-liuk. Aku tahan tubuh Laras
dengan tangan kiriku agar tidak terpeleset lantai kamar mandi yang basah. G-spotnya aku tekan dan aku
gosok lalu aku kendorkan gosokanku, kemudian aku tekan dan aku gosok lagi lalu lepas lagi… tekan dan
gosok lagi, lepas lagi…

“Sudaaahhh… Yah… Laras enggak kuat…aahhh” teriak Laras saat aku menekan dan memijit G-spotnya dengan
kedua jariku.

Aku tak memberi kesempatan Laras untuk untuk berhenti menikmati orgasmenya dengan agak lama menekan dan
menggosok G-spotnya. Tubuh Laras mendongak ke belakang, lututnya bergetar hebat, lalu tubuhnya merosot
ke bawah dengan tubuh gemetaran. Dia menggelepar di lantai kamar mandi, pelan dan lembut aku gerakkan
jariku keluar masuk di lubang vagina Laras, juga dengan pelan dan lembut jempolku memijat klitorisnya.
Aku ingin Laras menikmati orgasmenya dengan dalam dan lama. Mulut dan lidahku tak henti menyusur sekujur
tubuhnya. Aku kecup-kecup sambil aku jilat dari mulai kening, mata, pipi, hidung, bibir, leher, dada,
punggung, sampai ujung jari-jari kakinya. Laras memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya

Aku dudukkan Laras di atas toilet kembali untuk memberi kesempatan istirahat sambil terus memijat
klitorisnya.Cerita Sex Terbaru

“Nikmat kan sayang…?” tanyaku berbisik sambil menjilat telinganya.
“Nikmat banget Yaahhh….” Katanya dengan nafas terengah-engah sambil bersandar pada flusher tank.

Segera aku angkat Laras kemudian aku ganti duduk di toilet lalu Laras aku pangku dengan posisi
berhadapan. Laras memelukku sambil menciumi wajahku.

“Laras lemes banget Yah… Capek hehehe…” katanya lagi sambil tertawa.
“OK. Sayang… Laras istirahat dulu, ya… Nanti dilanjutkan lagi.” Kataku sambil membalas memeluk dia.
“Iya, makasih Yah…” jawabnya sambil mencium bibirku sepintas kemudian menjatuhkan kepalanya di bahuku
dengan wajah dihadapkan ke leherku.

Hembusan nafas Laras yang terengah-engah menerpa leherku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri.
Apalagi berkali kali bibirnya mengecup leherku diselingi jilatan lidah dan gigitan lembut di leher dan
telingaku. Penisku sudah sangat tegang dan ingin segera memasuki lubang yang sempit dan kenyal, namun
dengan sabar aku memberi kesempatan kepada Laras untuk bersitirahat.

Beberapa saat kemudian, nafas Laras terdengar mulai teratur. Jilatan dan gigitan pada leherku makin
intens. Penisku sudah siap untuk melakukan penetrasi ke dalam vagina Laras. Namun tiba-tiba Laras
berdiri.

“Ayah gantian ya… Sekarang Laras yang mandiin Ayah…” katanya sambil meraih kedua tanganku untuk mengajak
berdiri.

Aku sedikit kecewa, namun aku turuti kemauannya. Laras anak yang sangat cerdas, dan sudah belajar dari
aku dan internet untuk memanjakan pasangan. Aku yakin, dia akan memberikan sensasi yang lain daripada
sekedar persetubuhan.

Aku dibimbing ke bawah shower, kemudian dia mengalirkan air hangat dari shower dengan deras. Laras
memeluku, kemudian menciumi dadaku. Segera aku rengkuh Laras untuk menciumnya, tapi Laras menolak.

“Eits… nggak boleh… Ayah… jangan nakal ya…” katanya.

Mata mendelik sambil mengacungkan telunjuknya dengan nada mengancam, seolah-olah aku ini anak kecil yang
bandel. Aku tersenyum geli mendengar gaya bicaranya.

“OK Laras, aku akan turuti permintaanmu” kataku dalam hati sambil tersenyum.

Di bawah guyuran air hangat dari shower, bibir dan lidah Laras menyusuri leherku, berkali-kali dia
menjilat sambil mengigit lembut leherku. Aku benar-benar sudah sangat terangsang, tapi aku berusaha
menahan sambil menunggu kepuasan apa yang akan diberikan Laras. Aku berusaha menahan rasa penasaran dan
rasa birahiku yang sudah membumbung sampai ke ubun-ubun. Kecupan dan jilatan Laras berpindah ke dadaku.

Agak lama dia mengulum, menjilat dan mengigit putingku, berganti-ganti kiri dan kanan. Lalu Laras
membungkuk untuk mencium perutku. Geli dan nikmat rasanya. Laras berjongkok, lalu menjilat dan menghisap
perutku bagian bawah, lalu ke pangkal penisku. Bulu kemaluanku yang selalu aku potong pendek dijilat
sambil menggosok-gosokkan bibir dan hidungnya. Aku sudah tak tahan lagi.

Aku berharap Laras segera mengulum penisku lalu menghisap dan mengocok di dalam mulutnya. Jilatan Laras
terasa makin liar, berkali-kali scrotumku di jilat dan dihisap lalu digigit-gigit. Ingin segera meraih
kepala Laras lalu memasukkan penisku ke dalam mulutnya, tapi rupanya Laras ingin bermain-main. Tepatnya
ingin membalas perlakuanku waktu menunda orgasmenya tadi.

Mulutnya tidak mengulum penisku, tetapi bergerak makin turun menjilat dan menghisap kedua pahaku bagian
dalam, bahkan turun lagi menjilati betisku, lalu telapak dan jari kakiku, lalu berdiri mengecilkan kran
shower dan mengambil botol shampoo lalu menuangkan di tas kepalaku. Dengan lembut Laras mengkeramasi
rambutku sambil sesekali mencium bibirku. Dadanya ditempelkan ketat ke dadaku Ah… baru kali ini aku
benar-benar dimanjakan wanita, apalagi wanita secantik dan seksi Laras.

Laras kembali meraih kran shower dan membilas rambutku. Lalu mengambil botol body foam dan menuangkan di
atas dadaku lalu mengusap dengan lembut menggunakan bathing puff. Setelah meletakkan kembali bathing
puff di tempatnya Laras menempelkan kembali tubuhnya. Lalu aku dibimbing untuk duduk di atas toilet. Aku
disuruh maju sehingga hanya ujung belakang pantatku yang duduk di atas toilet. Laras berlutut, mulutnya
tak henti memberikan senyuman manis dan mesra untukku.

Tanpa banyak kata, kakiku di renggangkan lalu badan Laras menempel kembali ke tubuhku. payudaranya
dipakai sebagai alat untuk mengosokkan busa body foam yang melimpah. Terasa kenyal dan licin. Sedangkan
tangan Laras meratakan busa ke seluruh tubuhku bagian belakang, dari punggung atas sampai pantatku.
Berkali kali tangan Laras menyusup di belahan pantatku semerara dadanya digosok-gosokkan ke dada dan
perutku. Sedangkan perutnya menggosok penisku. Nikmat sekali sensasi yang diberikan Laras. Aku belum
pernah mendapat perakuan seperti ini.

Aku sudah terangsang hebat. Penasaran kapan aku bisa melalukan penetrasi ke vagina atau mulut Laras.
Tanganku menggapai-gapai ke bawah untuk menyentuh vaginanya, tapi Laras mundur ke belakang lalu berdiri.
Aku dibawanya ke bawah shower dan diguyur kembali dengan air hangat. Aku makin penasaran. Setelah busa
habis terguyur, Laras meminta aku duduk kembali di atas toilet.

Kembali Laras menciumi sekujur tubuhku, dari wajah hingga jari-jari kakiku. Tiba-tiba menyergap dan
melahap penisku kemudian mulutnya mengocok penisku dengan cepat. Laras merangkak mundur agak jauh dengan
mulut masih mengulum penisku. Badannya datar, sedangkan kepalanya tegak menghadap ke depan. Mulut Laras
nampak penuh mengulum penisku. Lalu penisku disedotnya dengan kuat sambil memajukan kepalanya. Akibatnya
seluruh penisku masuk ke dalam mulut sampai menyusup ke dalam kerongkongannya.Cerita Sex Terbaru

Tidak seperti tadi pagi yang hanya masuk separo lebih sedikit, kali ini seluruh penisku benar-benar
amblas di dalam mulut Laras. Heran, Laras sama sekali tak tersedak waktu memasukkan dan mengulum seluruh
penisku ke dalam mulutnya. Pelan dan mantap Laras menggerakkan kepalanya maju mundur. Penisku seperti
dipencet dan dipijat benda yang keras namun lembut dan hangat. Tangan kiri Laras meremas pelan
scrotumku, sedangkan tangan kanannya bertumpu pada lantai. Gerakan Laras makin cepat sehingga aku hanya
bisa merintih dan mengerang menikmati permainan Laras.

Tanganku memegang kepala Laras. Aku tak tega mendorong kepalanya saat dia bergerak maju untuk menelan
penisku. Aku khawatir dia tersedak, yang berakibat berhentinya Laras melumat dan menelan penisku.

“Ahh…ohhh.. sshhh” aku mengerang

Hebat sekali permainan Laras kali ini. Tak sampai lima menit aku mendekati ejakulasi karena rasa nikmat
yang tak dapat aku tahan. Namun aku kembali dibuat penasaran oleh Laras. Belum sempat aku ejakulasi,
Laras sudah berdiri lalu duduk dipangkuanku. Penisku yang sangat tegang menusuk lubang vaginanya yang
sangat basah dan licin. Rupanya Laras juga terangsang akibat permainannya sendiri. Penisku ternyata
sulit untuk masuk ke dalam vagina Laras. Dengan cepat Laras meraih penisku kemudian berusaha dimasukkan
kembali ke dalam vaginanya. Rupanya vagina Laras memang terlalu sempit untuk ukuran penisku.

Laras memajukan pantatnya, karena penisku hanya masuk ujungnya saja. Laras bergayut di leherku lalu
mengangkat pantatnya sambil menekan penisku kemudian menurunkan pantatnya kembali. Penisku amblas
setengahnya ke dalam vagina Laras.

“Susah banget sih Yah… Kegedean sih…hehehe” kata Laras sambil ketawa, lalu dia mengangkat pantatnya
lagi. Penisku yang terjepit lubang vaginanya terasa dibetot keluar dengan lembut. Sungguh, nikmat sekali
rasanya keluar masuk dalam vagina yang sempit ini. Laras kembali menekan pantatnya ke bawah sambil
merenggangkan kakinya. Kembali penisku serasa diurut. Saat Laras menekan pantatnya lagi, dia juga maju
ke depan sedikit sehingga vaginanya terbuka lebih lebar dan penisku pun masuk tiga per empat bagian.

Laras lalu menggerakkan pantatnya maju-mudur sehingga vaginanya mengocok penisku. Hebat! Walau belum
sepenuhnya masuk, kocokan vagina Laras yang sempit membuatku mengerang nikmat. Laras mendorong tubuhku
agar bersandar pada flushing tank, jadi posisiku agak berbaring. Kemudian Laras mengangkat kaki kirinya
dan memutarnya melewati tubuhku. Rupanya Laras ingin berbalik membelakangi aku tanpa melepas
persetubuhan kami. Penisku yang masih menancap kuat karena jepitan vagina Laras yang sempit, serasa
dipelintir akibat gerakan Laras waktu berbalik. Hebat sekali sensasi yang ditimbulkan. Aku mengerang
dengan keras.

“Laras….ahh.. Nikmat sekali Sayang…”

Laras tak menjawab. Dia hanya bergerak maju mundur. Penisku belum sepenuhnya bisa masuk. Laras lalu
mengangkat pantatnya, sampai-sampai penisku hampir tercabut dari vaginanya, lalu Laras menjatuhkan diri
ke pangkuanku. Akhirnya penisku amblas seluruhnya.

“Ayyaahhh… aahh… Nikmat sekali… sshhh” Laras mengerang dan mendesis.
“Ayah juga nikmat Sayang… Laras hebat.. sshh…aahhh” jawabku sambil memeluk Laras dari belakang.

Aku remas payudara Laras dan memilin putingnya dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku memeluk
perut Laras bagian bawah sambil memilin klitorinya. Laras terus memaju-mundurkan pantatnya, sambil
sesekali melonjak-lonjak ke atas. Beberapa saat kemudian, gerakan Laras makin cepat. Kepala Laras
menoleh ke kanan dan ke kiri. Rambutnya yang terurai ikut melecut ke kanan dan ke kiri menerpa wajahku.
Beberapa kali kepalanya mendongak ke atas. Nafasnya terdengar memburu terengah-engah dalam desisan
mulutnya.

“sshh… ahhh…”

Laras telah mendekati orgasmenya, maka aku dorong bahu Laras ke depan dengan tangan kiriku sedangkan
tangan kananku menahan perutnya agar pantatnya tidak terangkat, agar penisku tidak tercabut dari
vaginanya. Sekarang posisi Laras agak menungging. Aku berusaha agak berdiri dengan mengangkat pantatku
dari toilet. Dengan demikian, penisku tidak mengarah ke atas tapi mengarah ke depan agar dapat menyentuh
dan menyodok G-spotnya. Tiba-tiba tubuh Laras mengejang dengan kepala terdongak ke atas.

“Ayaaahhh… nikkmmaatt sseekkaallii…” Mulutnya meneriakkan erangan kenikmatan.

Penisku serasa dipijat dan diremas di dalam vagina Laras yang basah dan hangat sekali karena sedang
orgasme

“Ahh… aahh… aahh..” erangannya berlanjut tak putus untuk melampiaskan kenikmatan orgasme yang dia alami.

Cairan vaginanya meleleh keluar dengan deras.

Kakinya kembali gemetaran. Segera aku sangga tubuh Laras agar tidak jatuh dengan meletakkan kedua
tanganku di dadanya sambil menekan ke bawah agar penisku tidak terlepas dari vaginanya. Lalu aku duduk
kembali di atas toilet sambil menarik Laras ke pangkuanku. Aku menggoyangkan pantatku untuk memompa
vaginanya sambil mencondongkan tubuh Laras supaya kembali membungkuk ke depan.

“Ahh… Ayah… Ahh…”

Beberapa saat kemudian, aku turunkan irama pompaanku pada vagina Laras. perlahan orgasne laras mulai
mengendor.Cerita Sex Terbaru

“Aaahhh… Ayah jahat… kenapa Laras duluan yang orgasme sih…” katanya protes sambil berusaha untuk terus
menggoyangkan pantatnya.
“Tapi Laras suka kan..?”
“Mmhh… Laras suka sekali… nikmat sih…”

Laras bersandar di dadaku. Aku biarkan pantatnya bergoyang-goyang dan vaginanya mengocok penisku.
Telapak tanganku yang masih memeluk perut bagian bawahnya, menekan erat vaginanya sambil aku putar-putar
dengan lembut. Bibirku tak henti mengecup tengkuknya sambil sesekali menjilat dan mengulum telinganya.
Perlahan-lahan Laras kembali terangsang. Setelah aku rasakan staminanya pulih, segera aku aku gerakkan
pantatku dengan cepat.

“Pelan dikkiittt Yahh… sshhh… aahh… nanti Laras orgasme duluan lagi…”
“Nggak apa-apa… Aahhh… Yang penting Laras merasa nikmat dan puas… sshhh”

Laras berdiri melepaskan penisku dari vaginanya lalu duduk kembali menghadap ke arahku, sambil tangannya
meraih penisku. Kemudian penisku dimasukkan ke dalam vaginanya. Setelah duduk, Laras mengoyangkan
pantatnya ke kiri dan ke kanan, lalu maju dan mundur. Kadang diputar searah jarum jam, lalu putarannya
dibalik berlawanan arah jarum jam. Ohhh… nikmat sekali…

Aku ikuti gerakan Laras dengan menggoyagkan pantatku. Mulutku tak melepaskan puting Laras. Aku terus
mengisap dan memilin puting Laras dengan lidahku, sedangkan tanganku terus memilin dan meremas vagina
dan klitorisnya. Laras memejamkan mata sementara mulutnya mendesah dan mengerang.

“Ahhh…. Ahhh…. Ahhh….” Erangan Laras menggema kembali di dalam kamar mandi.

Lama-lama gerakannya makin liar dan tak teratur. Sebuah tanda orgasme kembali akan mendatangi Laras.
Tanganku aku luruskan untuk mendorong bahunya menjauhi tubuhku agar badan Laras dapat aku condongkan ke
belakang. Gerakan pantatku aku ubah menjadi menghentak-hentakkan ke atas. Pantat Laras ikut terlonjak-
lonjak ke atas. Dengan demikian ada kemungkinan penisku akan kembali menyentuh G-spotnya lagi, karena
dengan posisi bersetubuh berhadapan seperti ini sangat kecil kemungkinan untuk menyentuh G-spotnya.

Aku hanya untung-untungan saja sambil berharap bisa menyentuh G-spot Laras. aku terus menghentakkan
pantatku ke atas. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Tiba-tiba tubuhnya kejang gemetaran lalu meliuk ke
belakang sementara kepalanya mendongak lalu dengan cepat memelukku erat sambil mengerang.

“Aahhh… nikmat Ayah… nikmat sekali… aaahhh…” Teriak Laras sambil menjatuhkan pantatnya di pangkuanku,
sampai penisku amblas.

Gerakan Laras makin liar akibat orgasme yang baru saja ia rasakan. Pantatnya bergerak ke kiri dan ke
kanan lalu naik turun lalu berputar dengan cepat. Mukanya menyusup di leherku sambil menggigit dengan
keras. Aku berusaha tidak mengaduh agar orgasme Laras tak terganggu.

Gerakan liar Laras membuat vaginanya serasa makin menjepit dan meremas penisku. Akibatnya penisku terasa
seperti dipuntir dan diremas vagina Laras. Rasanya nikmat luar biasa sampai berkedut ingin memuntahkan
sperma. Aku hampir tak tahan lagi. Seluruh darahku seperti dipompa ke ujung penis. Aku mencoba bertahan
dengan memeluk Laras dengan erat sambil melumat bibirnya.

Lidahnya aku hisap dengan kuat. Laras membalas tak kalah sengit melumat bibir dan lidahku. Gerakan
pantatnya mulai teratur maju mundur namun dilakukan dengan cepat. Darahku makin cepat mengalir menuju
dan berhenti di ujung penisku. Hal ini menimbulkan rasa ngilu tapi nikmat. Aneh, menjelang ejakulasi
yang kedua ini aku justru merasakan kenikmatan yang luar biasa. Jauh lebih nikmat daripada ejakulasi
dalam persetubuhan dengan Laras yang pertama tadi.

“Laras…. Aahh… Nikmat sekali sayang… aaahhh… sshh…” aku mengerang mengekspresikan kenikmatan yang Laras
berikan. “Aaahh… Ayah udah mau keluar Sayang…”
“Iya Ayah… Laras juga nikmat… aahhh…”

Akhirnya aku tak dapat menahan lebih lama lagi. Spermaku muncrat di dalam vagina Laras. Hangatnya
spermaku menyentuh diding Laras dan Laras merasakan hal itu. Dia mempererat pelukannya, sambil
mempercepat goyangan pantatnya.

Akhirnya aku lemas sambil bersandar pada flushing tank. Laras menjatuhkan tubuhnya di dadaku. Kami
sama-sama lemas, sama-sama puas setelah bersama-sama menikmati persetubuhan di kamar mandi ini.

“Ayah…” Laras memanggilku dengan manja.
“Ya, Sayang…”
“Rasa sperma itu seperti apa ya…?” kata Laras sambil mencolek vaginanya yang melelehkan spermaku, lalu
menjilatnya. Mulutnya mengecap-ngecap seperti mencicipi masakan.
“Asin dan gurih ternyata…” katanya lagi.
“Itu kan jijik Sayang.” kataku. Terus terang, aku tidak pernah membayangkan mengeluarkan sperma di dalam
mulut seorang wanita, apalagi membiarkan menelan spermaku, termasuk isteriku.
“Ah nggak juga. Sama aja dengan cairan yang keluar dari vagina Laras.” jawab Laras.
“Ayah tadi juga menghisap dan menelan cairan vagina Laras kan? Ayah juga tidak merasa jijik” lanjut
Laras.

Kemudian tangannya kembali meraih sperma yang meleleh keluar dari vaginanya. Cukup banyak sperma yang
ada di tangan Laras, lalu dia menjilat jari tangannya yang penuh sperma. Mulanya Laras terlihat agak
ragu, tapi ketika tetes pertama dijilatnya, dia menjilati semua jarinya yang penuh sperma tanpa rasa
jijik, bahkan terlihat lahap dan menikmatinya

Baca Juga Cerita Sex Tante Untung

“Aku ingin minum sperma Ayah langsung dari penis Ayah.” katanya lagi setelah tangannya bersih dari
sperma.
“Hmm… boleh saja sih… nanti Ayah kasi yang banyak” jawabku
“Bener Yah..?
“Iya..!”
“Tapi Laras laper sekarang…” katanya manja sambil memeluku.
“Oke, sekarang kita bersih-bersih, terus makan di luar aja”

Laras mengangguk lalu berdiri ke arah shower dan mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya. Kami mandi
bersama sambil bercanda. Kadang berpelukan dan saling cium. Aku merasa muda kembali, bisa bercanda
dengan anak yang sedang mekar seperti Laras.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru.

Silahkan hubungi Sintia, boleh di mainin sesuka hati asalkan abang baca cerita di cerita sex terbaru . Cerita-Cerita sex di sini ada beberapa adalah cerita sex terbaru yang saya alami sendiri pribadi lho mas, coba tebak cerita yang mana?